Poin Penting
- Sequis Life mengingatkan pentingnya literasi keuangan di tengah maraknya pinjol dan gaya hidup konsumtif
- Edukasi finansial membantu karyawan menghindari utang dan menjaga produktivitas
- Disiplin anggaran dan dana darurat menjadi kunci kesehatan finansial.
Jakarta – Tren gaya hidup modern dan kemudahan akses pinjaman online (pinjol) membuat pengelolaan keuangan sehat semakin menantang, termasuk bagi kalangan karyawan. Jika tidak melek keuangan, bisa terjebak risiko finansial.
Hal itu mengemuka dalam talk show “Seimbang Gaya Hidup Tanpa Terjebak” yang digelar PT Asuransi Jiwa Sequis Life (Sequis Life). Talk show ini digagas untuk meningkatkan pemahaman karyawan terkait pengambilan keputusan finansial yang bijaksana, termasuk soal potensi risiko finansial akibat penggunaan pinjol (pinjol) yang tidak terkendali.
Mengacu data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pada 2025, outstanding pembiayaan pinjaman daring (pindar) mencapai Rp96 triliun. Industri ini tumbuh sekitar 20-30 persen secara tahunan. Di tengah tren tersebut, penggunaan pinjaman digital untuk kebutuhan konsumtif menjadi perhatian karena berpotensi memicu tekanan finansial berkepanjangan jika tidak dikelola secara bijak.
Baca juga: Serangan Konten Negatif ke Pindar Legal Dinilai Ancam Kepercayaan Publik
Di tahap ini, kesehatan mental bisa terdampak. Jika sudah begitu, kualitas pengambilan keputusan hingga produktivitas karyawan di lingkungan kerja juga turut terpengaruh.
Chief Human Resources & Corporate Services Sequis Life, Agustina Samara (Tina) mengungkapkan, literasi keuangan menjadi salah satu upaya preventif dalam membantu karyawan membangun kondisi finansial yang sehat, seimbang, dan berkelanjutan.
“Kesehatan finansial bukan hanya soal besar kecilnya penghasilan, tetapi juga bagaimana seseorang mampu mengelola prioritas, mengambil keputusan secara bijak, dan membangun ketenangan untuk masa depan,” ujar Tina dalam keterangan resmi, Rabu, 3 Juni 2026.
Di melanjutkan, tekanan finansial bisa memengaruhi fokus, produktivitas, dan kualitas pengambilan keputusan. Maka itu, kecerdasan finansial penting di semua level untuk membantu menjaga konsentrasi dan mendukung kinerja karyawan.
“Di tengah tekanan gaya hidup, FOMO, serta kemudahan akses pinjaman instan, literasi finansial menjadi semakin penting agar masyarakat, termasuk karyawan, lebih sadar dalam mengelola keuangan dan menghindari keputusan finansial yang impulsif,” lanjutnya.
Sementara, Financial Planner, Maryadi Santana CFP®, QWP® yang menjadi narasumber dalam talk show mengupas pentingnya membangun financial wellness. Caranya adalah melalui pengelolaan pengeluaran, disiplin budgeting, dana darurat, serta kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan.
Maryadi memaparkan sejumlah risiko pindar. Mulai dari bunga dan denda tinggi, jebakan utang (debt trap), risiko kebocoran data pribadi, hingga tekanan mental yang bisa mempengaruhi kehidupan pribadi maupun profesional.
Maryadi juga membekali peserta degnan strategi sederhana dalam mengelola utang dan pengeluaran, termasuk melalui metode snowball dan audit pengeluaran pribadi.
“Pinjol sering terlihat sebagai solusi cepat untuk kebutuhan sesaat. Namun dibalik kemudahannya, terdapat risiko yang dapat mengancam kesehatan finansial jika tidak dikelola dengan bijak,” paparnya.
Baca juga: Hingga Maret 2026, Ada 8 Multifinance dan 11 Pindar Belum Penuhi Ekuitas Minimum
Menurut Maryadi, langkah paling mendasar dalam menjaga kesehatan finansial adalah membangun kebiasaan mengatur anggaran, memahami prioritas kebutuhan, dan mengurangi perilaku konsumtif impulsif.
“Kita harus mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan, serta lebih cermat dalam memilih sumber pendanaan,” ujarnya.
Sebagai tambahan, talk show ini menjadi bagian dari inisiatif Better Tomorrow with Sequis – platform keberlanjutan Sequis Life, sekaligus dukungan terhadap Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (GENCARKAN) 2026. (*) Ari Astriawan


