Poin Penting
- IHSG tertinggal di tengah aliran dana ke emerging markets dan turun 1,70 persen ke 5.839,78
- Korea Selatan menguat kuat berkat reformasi korporasi dan booming AI–semikonduktor
- Indonesia dinilai masih punya fundamental kuat, tapi tertekan sentimen kebijakan dan isu MSCI.
Jakarta – Di tengah derasnya aliran dana ke pasar negara berkembang atau emerging markets, pasar saham Indonesia justru tertinggal dibanding sejumlah negara Asia, termasuk Korea Selatan yang mencatat lonjakan signifikan dalam dua tahun terakhir.
Tekanan terhadap pasar saham domestik pun masih berlanjut. Pada perdagangan Kamis (4/6), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 1,70 persen ke level 5.839,78 dari posisi sebelumnya 5.941,06.
Direktur PT Samuel Tumbuh Bersama, Tae Yong Shim, menilai perbedaan kinerja pasar saham di berbagai negara Asia tidak hanya dipengaruhi faktor global, tetapi juga ditentukan oleh likuiditas, pertumbuhan laba perusahaan, serta arah kebijakan pemerintah yang membentuk persepsi investor terhadap masing-masing negara.
Baca juga: IHSG Tertekan, BEI Minta Investor Cermati 3 Hal Ini
Shim menjelaskan arus dana global sebenarnya sedang mengalir ke pasar negara berkembang. Hal itu tercermin dari kenaikan indeks MSCI Emerging Markets sebesar 22,5 persen sejak awal tahun ini, jauh melampaui MSCI World yang hanya naik 9 persen. Namun, kinerja antarnegara berkembang tidak berjalan seragam.
“Brasil bagus, Taiwan bagus, Thailand juga positif. Korea naik sangat signifikan, sementara Indonesia justru turun sekitar 29 persen,” ujarnya, di Jakarta, Kamis, 4 Juni 2026.
Salah satu faktor yang mendorong penguatan pasar saham Korea, lanjut Shim, adalah kebijakan Corporate Value-Up Program yang diluncurkan pemerintah Korea Selatan pada Februari 2024. Program tersebut bertujuan meningkatkan transparansi perusahaan, tata kelola, serta perlindungan pemegang saham guna mengurangi apa yang selama ini dikenal sebagai Korea Discount.
Dampak kebijakan semacam itu memang tidak muncul secara instan. Namun, setelah lebih dari satu tahun berjalan, manfaatnya mulai terlihat pada peningkatan minat investor terhadap pasar saham Korea.
Selain itu, pasar saham Korea juga mendapat dorongan dari pertumbuhan industri semikonduktor dan perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang meningkatkan prospek laba perusahaan-perusahaan teknologi.
“Karena booming semikonduktor dan AI, laba perusahaan Korea diperkirakan meningkat signifikan pada 2026. Itu menjadi salah satu alasan utama mengapa pasar saham Korea bergerak sangat kuat,” katanya.
Meski demikian, kondisi tersebut belum tercermin pada kinerja pasar saham Indonesia. Menurut Shim, Indonesia tidak kekurangan likuiditas maupun prospek pertumbuhan laba perusahaan. Ia mencatat jumlah uang beredar atau M2 di Indonesia terus meningkat dan berulang kali mencetak rekor tertinggi baru.
Namun berbeda dengan Korea, peningkatan likuiditas tersebut belum mampu mendorong kenaikan pasar saham domestik. IHSG justru bergerak melemah di periode yang sama.
Dari sisi fundamental, ia menilai prospek laba emiten Indonesia juga masih cukup baik. Earnings per share (EPS) perusahaan-perusahaan anggota LQ45 diperkirakan terus meningkat dan berpotensi mencapai rekor tertinggi baru pada 2027.
“Jadi dari sisi likuiditas dan pertumbuhan laba perusahaan, Indonesia sebenarnya masih cukup menarik,” ujarnya.
Meski demikian, ia menilai investor masih mempertanyakan efektivitas sejumlah kebijakan yang diterapkan pemerintah Indonesia. Berbeda dengan Korea yang fokus pada peningkatan tata kelola dan nilai perusahaan, Indonesia saat ini menjalankan berbagai program strategis pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis, Danantara, DHE SDA, hingga pembentukan DSI.
Baca juga: BEI Bantah Isu MSCI Turunkan Pasar Modal RI ke Frontier Market
Menurut Shim, perbedaan arah kebijakan tersebut turut memengaruhi persepsi investor global terhadap kedua negara.
“Karena itu, banyak investor yang masih mempertanyakan efektivitas serta dampak jangka panjang dari berbagai kebijakan yang saat ini diterapkan di Indonesia,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti perbedaan posisi Korea dan Indonesia dalam klasifikasi pasar modal MSCI. Korea saat ini tengah berupaya memperoleh peningkatan status menjadi pasar maju (developed market), sementara Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan terkait aksesibilitas dan tingkat investabilitas pasar.
Bahkan, kata dia, sebagian pelaku pasar mulai membahas risiko Indonesia mengalami penurunan status menjadi pasar frontier apabila berbagai persoalan tersebut tidak segera diselesaikan.
“Ketidakpastian terkait MSCI masih menjadi salah satu isu utama yang membayangi pasar Indonesia saat ini,” pungkasnya. (*) Ayu Utami


