Poin Penting:
- Pencalonan Destry Damayanti dibaca sebagai sinyal kesinambungan kebijakan moneter Bank Indonesia.
- Pasar menilai stabilitas rupiah lebih terjaga karena arah kebijakan dinilai tetap konsisten.
- Rupiah sempat menguat setelah muncul sentimen positif dari pencalonan tersebut.
Jakarta – Pencalonan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) langsung dibaca pasar sebagai sinyal penting bagi rupiah. Keputusan Presiden Prabowo Subianto memunculkan ekspektasi kesinambungan kebijakan moneter dan stabilitas pasar keuangan.
Surat presiden telah diserahkan kepada DPR untuk diproses. Pemerintah hanya mengajukan satu nama sebagai calon gubernur BI.
Bagi pelaku pasar, keputusan ini bukan sekadar pergantian pejabat bank sentral. Pasar menilai pilihan Prabowo memberi pesan bahwa arah kebijakan BI tidak akan berubah drastis.
Baca juga: Rekam Jejak Destry Damayanti, Calon Tunggal Gubernur BI Pilihan Prabowo
Destry Damayanti dan Sinyal Stabilitas Rupiah
Sejumlah nama sempat masuk pertimbangan untuk mengisi kursi Gubernur BI. Meski menerima berbagai masukan, pilihan tetap ditentukan Presiden.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan pemerintah mengajukan satu nama. Nama tersebut adalah Destry Damayanti yang kini menjabat Penjabat Gubernur BI Sementara.
“Namanya tunggal, satu nama, yaitu atas nama ibu Destry Damayanti yang beliau sekarang menjadi Penjabat Gubernur BI Sementara,” kata Prasetyo di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (10/8/2026).
Pencalonan tunggal segera mendapat perhatian pelaku pasar keuangan. Sejumlah ekonom menilai langkah ini memberi sinyal kesinambungan kebijakan moneter.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai keputusan tersebut tepat. Ia menekankan pentingnya pengalaman lintas lembaga yang dimiliki Destry.
Menurut Fakhrul, pengalaman akademik, pasar keuangan, perbankan, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan BI menjadi modal penting. Kombinasi itu dinilai relevan menghadapi tantangan bank sentral yang semakin kompleks.
“Kombinasi pengalaman seperti ini sangat penting ketika tantangan bank sentral semakin kompleks,” kata Fakhrul di Jakarta, dikutip Antara, Senin.
Menurutnya, pesan terpenting dari pencalonan ini adalah konsistensi kebijakan. Investor cenderung merespons positif ketika arah moneter dinilai dapat diprediksi.
Rupiah Menguat, Tetapi Volatilitas Belum Hilang
Respons awal terlihat di pasar valuta asing. Rupiah ditutup menguat 142 poin atau 0,79 persen menjadi Rp17.755 per dolar AS.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai penguatan dipengaruhi sentimen domestik. Indeks Keyakinan Konsumen masih berada di zona optimistis.
“Konsumen secara umum masih optimistis terhadap kondisi ekonomi, meski tingkat keyakinannya terus menurun dalam tiga bulan terakhir,” ujarnya.
Bank Indonesia melaporkan IKK Juli 2026 turun menjadi 116,8 dari 117,8 pada Juni. Penurunan itu menjadi yang ketiga secara beruntun.
Kondisi tersebut menunjukkan konsumen mulai lebih berhati-hati. Belanja rumah tangga berpotensi melambat jika tren berlanjut.
Sentimen pencalonan Destry Damayanti ikut memperkuat perhatian pasar terhadap arah kebijakan BI. Namun, penguatan rupiah belum sepenuhnya stabil.
Pada pembukaan perdagangan Selasa (11/8) pagi, rupiah kembali melemah 40 poin. Nilainya turun menjadi Rp17.795 per dolar AS.
Pergerakan ini menunjukkan rupiah masih dipengaruhi faktor global dan domestik. Pencalonan gubernur BI belum menjadi penentu tunggal arah nilai tukar.
Baca juga: Banyak Nama Dipertimbangkan, Mengapa Prabowo Hanya Ajukan Destry untuk Gubernur BI?
Pesan Kebijakan yang Dibaca Pasar
Sebelum proses pencalonan, Destry Damayanti telah menekankan pentingnya kebijakan berbasis riset. Ia menyebut empat agenda prioritas Bank Indonesia.
Agenda tersebut meliputi transmisi kebijakan moneter, keuangan digital, risiko sistemik, dan kredibilitas kelembagaan. Fokus itu mencerminkan perhatian BI terhadap tantangan baru ekonomi global.
“Bank Indonesia berkomitmen untuk terus memperkuat ekosistem riset yang berkualitas dan relevan bagi kebijakan guna mendukung perumusan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policymaking) di tengah perubahan lanskap ekonomi dan keuangan global,” kata Destry.
Bagi pasar, pernyataan itu dibaca sebagai upaya menjaga kredibilitas bank sentral. Kredibilitas menjadi faktor penting dalam menopang kepercayaan terhadap rupiah.
Dengan proses uji kelayakan di DPR yang masih berlangsung, perhatian pasar kini tertuju pada arah kebijakan Destry jika resmi memimpin Bank Indonesia.
Pelaku pasar menunggu bagaimana kesinambungan kebijakan moneter diterjemahkan ke dalam langkah menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan ekonomi global. (*)
Editor: Galih Pratama


