Poin Penting
- DBS Indonesia melihat lima sektor potensial untuk pembiayaan berkelanjutan: energi terbarukan, teknologi, pangan, tambang, dan kesehatan.
- Energi terbarukan dan teknologi didorong kebutuhan data center serta pesatnya adopsi AI.
- Pangan, tambang, dan kesehatan berpeluang tumbuh lewat pembiayaan yang mendukung produktivitas dan keberlanjutan.
Jakarta – Tren pembiayaan berkelanjutan di Indonesia terus meningkat. Melihat peluang tersebut, Bank DBS Indonesia meluncurkan riset bertajuk “The Sustainability Shift: Indonesia’s Industrial Landscape In Five Key Sectors, Opportunities and Risks”.
Dalam riset tersebut, William Simadiputra, Head of Research DBS Indonesia, mengungkapkan lima sektor yang dinilai memiliki potensi besar untuk pembiayaan berkelanjutan. Kelimanya meliputi infrastruktur energi terbarukan, teknologi, pertanian dan pangan, tambang dan mineral, serta kesehatan dan obat-obatan.
Pertama, infrastruktur energi terbarukan. Saat ini, sekitar 85 persen pasokan energi Indonesia masih berasal dari energi fosil.
Namun, tren tersebut diperkirakan perlahan bergeser menuju energi terbarukan. Terlebih, sejumlah industri seperti data center mulai membutuhkan infrastruktur energi terbarukan.
“Ini menjadi salah satu peluang untuk Renewable Energy Company untuk (misalnya) membangun solar PV expansion, di mana ini kedepannya menjadi salah satu energy requirement untuk the next chapter of FDI,” jelas William dalam peluncuran riset bertajuk “The Sustainability Shift: Indonesia’s Industrial Landscape In Five Key Sectors, Opportunities and Risks” di Jakarta pada Kamis, 20 Agustus 2026.
Baca juga: Purbaya Dorong PIP Perluas Akses Pembiayaan UMKM
Kedua, sektor teknologi. William melihat adanya pergeseran perusahaan telekomunikasi yang mulai berekspansi ke sektor teknologi. Tren tersebut didorong antara lain oleh penurunan pendapatan per pengguna dari 9 persen pada 2015 menjadi 7 persen pada kuartal I 2026.
Di sisi lain, Gross Merchandise Value (GMV) sektor teknologi telah mencapai USD99 miliar. Artificial intelligence (AI) dan data center dinilai menjadi salah satu sektor yang berpotensi mendorong migrasi dari telekomunikasi ke teknologi seiring dengan maraknya penggunaan AI di Indonesia.
“Data center menjadi sesuatu platform requirement untuk mengakselerasi AI penetration di Indonesia, yang mengandung lebih banyak kandungan lokal, dan lebih relevan terhadap masyarakat Indonesia,” jelas William.
Ketiga, pertanian dan pangan. William menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu produsen pangan terbesar di dunia. Salah satunya tercermin dari produksi minyak sawit yang mencapai 60% dari total produksi global. Kontribusi sektor tersebut terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) bahkan mencapai Rp36,8 triliun pada 2024.
Tantangan ke depan adalah meningkatkan produksi pangan tanpa membuka lahan baru secara berlebihan. Untuk itu, bioteknologi dinilai memiliki potensi dalam meningkatkan produktivitas sektor pertanian sekaligus mendukung aspek keberlanjutan.
“Biotechnology jadi salah satu tantangan yang perlu dijawab di Indonesia, yang bisa menjadi nilai tambah buat perusahaan pertanian atau tumbuhan untuk meningkatkan produktivitas tanpa membuka daerah lahan baru,” paparnya.
Keempat, tambang dan mineral. Sebagai salah satu negara penghasil tambang terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan sektor ini. Salah satunya tercermin dari produksi baja mentah yang mencapai 18 megaton, terbesar ke-13 di dunia.
William menilai aspek keberlanjutan perlu semakin menjadi perhatian, baik bagi pelaku industri maupun penyedia pembiayaan.
Baca juga: DBS Indonesia dan Mandiri Investasi Rilis Wealth Management Berdenominasi SGD
Kelima, kesehatan dan obat-obatan. DBS Indonesia juga melihat peluang pembiayaan berkelanjutan di sektor kesehatan dan farmasi. Pasalnya, Indonesia masih cukup bergantung pada pasokan obat-obatan dari luar negeri.
“Memberikan insentif untuk pengadaan obat terhadap industri pharmaceutical itu merupakan salah satu jawaban terhadap tantangan dari industri pharmaceutical. Terutama dengan kondisi rupiah yang tetap volatilitas,” sebut William.
Dengan demikian, pembiayaan pada sektor kesehatan dan farmasi diharapkan dapat menjaga profitabilitas perusahaan farmasi domestik sekaligus mendukung agenda keberlanjutan di Indonesia. (*) Mohammad Adrianto Sukarso


