Poin Penting
- Ekonomi RI 6 persen menjadi target pemerintah pada 2027 di tengah pertumbuhan semester I 2026 sebesar 5,05 persen.
- Indonesia menargetkan pengembangan tenaga surya sekitar 100 gigawatt dalam dua hingga tiga tahun.
- Pembiayaan menjadi tantangan karena dana JETP USD21,4 miliar baru dimanfaatkan USD3,93 miliar.
Jakarta – Target pertumbuhan ekonomi Indonesia 6 persen tahun depan menuntut sumber pertumbuhan baru. Energi hijau menjadi salah satu taruhan pemerintah melalui pengembangan tenaga surya sekitar 100 gigawatt.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,05 persen pada semester I 2026. Kata Airlangga, angka tersebut menjadi pertumbuhan terbesar dalam 13 tahun terakhir.
Pemerintah kemudian memasang target pertumbuhan 5,6 hingga 6 persen pada akhir 2026. Target pertumbuhan tahun depan bahkan ditetapkan mencapai 6 persen.
Baca juga: Semikonduktor Indonesia Dibidik Jerman, Siapa Investornya?
Energi Hijau Jadi Taruhan Pertumbuhan Ekonomi
Target tersebut membuat kebutuhan investasi menjadi semakin besar. Pemerintah melihat transformasi energi sebagai peluang untuk mendorong aktivitas ekonomi sekaligus memperkuat industri.
Airlangga mengatakan Indonesia menargetkan pengembangan tenaga surya sekitar 100 gigawatt. Target tersebut ditetapkan untuk dicapai dalam dua hingga tiga tahun.
“Kami memiliki target sekitar 100 gigawatt dalam dua hingga tiga tahun. Artinya, Indonesia membutuhkan banyak teknologi dan barang modal,” kata Airlangga dalam pertemuan bilateral dengan Menteri Reem Alabali-Radovan di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis, 20 Agustus 2026.
Besarnya target tersebut menciptakan kebutuhan terhadap teknologi energi dan peralatan pendukung. Kondisi itu sekaligus membuka ruang bagi investasi asing dalam rantai industri energi.
Airlangga menyebut kebutuhan tersebut menjadi peluang bagi perusahaan Jerman. Jerman dinilai memiliki keunggulan dalam riset terapan dan manufaktur presisi.
“Ini merupakan peluang terbuka bagi partisipasi Jerman karena transformasi tersebut baru saja diumumkan Presiden beberapa hari lalu,” ujarnya.
Pemerintah juga mendorong program de-dieselisasi pada tahun ini. Program tersebut mengganti pembangkit diesel di pulau-pulau kecil dengan pembangkit listrik tenaga surya.
Jerman Melihat Pasar Besar Indonesia
Peluang energi hijau mendapat respons positif dari pemerintah Jerman. Reem Alabali-Radovan menyebut Indonesia menawarkan pasar menjanjikan bagi perusahaan Jerman.
Sektor yang dibidik mencakup energi terbarukan, baterai, semikonduktor, dan infrastruktur jaringan listrik. Perusahaan Jerman juga tertarik pada tenaga surya, angin, panas bumi, dan tenaga air.
“Perkembangan tersebut menawarkan pasar yang menjanjikan bagi perusahaan-perusahaan Jerman serta peluang besar di berbagai sektor masa depan, seperti energi terbarukan, produksi baterai, semikonduktor, dan infrastruktur jaringan listrik,” ujar Reem.
Selain energi, minat Jerman mencakup smart grid dan transmisi listrik. Rantai nilai baterai serta mineral kritis berkelanjutan juga masuk dalam sasaran.
Jerman turut menawarkan teknologi hidrogen hijau dan Power-to-X. Solusi efisiensi energi untuk industri dan bangunan juga menjadi bagian dari peluang tersebut.
Saat ini, lebih dari 250 perusahaan Jerman telah beroperasi di Indonesia. Investasi kumulatif perusahaan tersebut mencapai US$1,23 miliar pada periode 2021 hingga 2026.
Pembiayaan Masih Jadi Pekerjaan Rumah
Peluang investasi tersebut masih menghadapi tantangan pembiayaan. Pemerintah Indonesia menyoroti lambatnya pemanfaatan dana transisi energi melalui Just Energy Transition Partnership (JETP).
Total komitmen JETP mencapai USD21,4 miliar. Namun, Indonesia baru memanfaatkan USD3,93 miliar dari total komitmen tersebut.
Artinya, sebagian besar komitmen pembiayaan tersebut belum dimanfaatkan untuk proyek. Airlangga menilai percepatan menjadi kebutuhan penting dalam pelaksanaan program.
Baca juga: Kejar Target Energi Surya 100 GW, Airlangga Buka Peluang Investasi dari Jerman
“Karena itu, kami perlu bergerak lebih cepat,” kata Airlangga.
Jerman menjadi salah satu mitra strategis JETP bersama Jepang. Airlangga menyebut kedua negara ingin memperluas dukungan terhadap transisi energi Indonesia.
Pemerintah kini juga membidik akses pembiayaan dari KfW. Lembaga tersebut dinilai dapat membantu pembiayaan barang modal bagi sektor swasta.
“Biasanya, untuk sektor swasta, KfW dapat menyediakan pembiayaan untuk barang-barang modal,” ujar Airlangga.
Kebutuhan tersebut menjadi penting ketika investasi energi membutuhkan teknologi dalam skala besar. Pemerintah harus memastikan proyek hijau mampu bergerak dari rencana menuju investasi konkret.
Dengan target pertumbuhan 6 persen, pemerintah membutuhkan investasi yang mampu menciptakan aktivitas ekonomi baru. Ekonomi Indonesia 6 persen kini ikut bergantung pada kemampuan mengubah energi hijau menjadi proyek produktif. (*)
Editor: Galih Pratama


