Poin penting:
- Investasi semikonduktor menjadi salah satu peluang kerja sama Indonesia dan Jerman.
- Pemerintah Jerman belum mengungkap investor serta nilai proyek semikonduktor tersebut.
- Airlangga Hartarto menyebut rantai pasok semikonduktor penting bagi penguatan industri Indonesia.
Jakarta – Jerman mulai membidik peluang investasi semikonduktor di Indonesia. Namun, pemerintah Jerman belum membuka nama perusahaan maupun nilai investasi yang tengah dipersiapkan.
Menteri Federal Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan Jerman Reem Alabali-Radovan menyebut proyek tersebut masih dalam pembahasan. Ia belum dapat memberikan rincian mengenai rencana investasi itu.
Peluang tersebut muncul saat Indonesia memperkuat ekosistem industri berteknologi tinggi. Pemerintah juga tengah mendorong masuknya investasi dan teknologi dari Eropa.
Investasi Semikonduktor Masih Dirahasiakan
Reem menyampaikan hal tersebut dalam pertemuan bilateral dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Pertemuan berlangsung di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis (20/8).
Saat diminta menjelaskan rencana investasi semikonduktor, termasuk nama investor dan nilai investasinya, pemerintah Jerman belum bisa membuka informasi tersebut kepada publik.
“Saya belum dapat menyampaikannya saat ini,” kata Reem.
Baca juga: Jerman Incar Energi Terbarukan-Smart Grid RI, Ini Respons Airlangga
Ia menyebut sejumlah perusahaan Jerman sedang berada di Indonesia. Perusahaan tersebut juga terlibat dalam kegiatan Indonesia Energy Sustainable Week.
Menurut Reem, kegiatan tersebut berlangsung produktif bersama GIZ dan mitra Indonesia. Ia melihat peluang proyek besar dapat muncul dari kerja sama tersebut.
“Saya pikir kita akan memiliki proyek-proyek besar di masa depan, tetapi untuk saat ini saya belum dapat menjelaskan secara rinci,” ujarnya.
Pernyataan itu menunjukkan peluang investasi masih berada dalam tahap penjajakan. Belum ada kepastian mengenai perusahaan, nilai investasi, maupun bentuk proyeknya.
Rantai Pasok Semikonduktor Jadi Perhatian Indonesia
Dari sisi Indonesia, Airlangga menempatkan rantai pasok semikonduktor sebagai salah satu pembahasan utama. Hal tersebut menjadi bagian dari agenda penguatan hubungan ekonomi Indonesia dan Jerman.
“Dan Indonesia menyambut delegasi ini untuk mendorong beberapa pipeline project di sektor renewable dan juga tentu bagi Indonesia rantai pasok terkait dengan semiconductor juga hal yang penting dan ini dibicarakan,” kata Airlangga.
Pemerintah melihat keunggulan Jerman dapat mendukung pengembangan industri berteknologi tinggi. Keunggulan tersebut mencakup riset terapan, manufaktur presisi, dan standar industri.
“Jerman mempunyai keunggulan di bidang riset terapan, precision manufacturing, standar industri, dan inilah yang kita ingin kerjasamakan dalam pertemuan-pertemuan berikutnya,” ujar Airlangga.
Kerja sama itu berpotensi memperluas transfer teknologi dan kemampuan industri nasional. Pemerintah juga tengah memperkuat hubungan ekonomi dengan Eropa Barat.
Investasi Jerman Didorong Lewat Kerja Sama Ekonomi
Hubungan bisnis kedua negara sudah memiliki basis yang cukup kuat. Airlangga menyebut lebih dari 250 perusahaan Jerman telah berbisnis dan beroperasi di Indonesia.
Nilai investasi perusahaan-perusahaan tersebut mencapai USD1,23 miliar. Angka itu merupakan akumulasi investasi sepanjang 2021 hingga 2026.
Pemerintah juga mendorong percepatan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA). Perjanjian tersebut diharapkan dapat ditandatangani pada tahun ini.
IEU-CEPA berpotensi memperkuat akses pasar, perdagangan, dan investasi Jerman di Indonesia. Pemerintah sebelumnya menyebut sekitar 98 persen pos tarif berpotensi mendapatkan penghapusan tarif.
Dalam pertemuan tersebut, energi terbarukan juga menjadi sektor utama pembahasan. Reem menyebut perusahaan Jerman membawa pengalaman dan teknologi yang relevan bagi Indonesia.
“Kami terutama melihat peluang investasi di bidang energi terbarukan,” kata Reem.
Namun, peluang kerja sama tidak berhenti pada sektor energi. Kedua negara juga membahas pendidikan vokasi untuk memperkuat kebutuhan tenaga kerja industri.
Jerman memiliki pengalaman kuat dalam sistem pendidikan vokasi. Kerja sama tersebut diarahkan untuk memperluas pelatihan serta pertukaran mahasiswa dan akademisi.
Bagi Indonesia, kebutuhan teknologi dan barang modal juga semakin besar. Airlangga menyebut transformasi energi menjadi salah satu peluang bagi perusahaan Jerman.
“Kami memiliki target sekitar 100 gigawatt dalam dua hingga tiga tahun,” ujarnya.
Target tersebut membutuhkan dukungan teknologi dan barang modal dalam skala besar. Kondisi itu membuka ruang bagi perusahaan Jerman untuk memperluas keterlibatan.
Selain itu, pemerintah mendorong program de-dieselisasi di sejumlah pulau kecil. Program tersebut diarahkan untuk mengganti pembangkit diesel dengan pembangkit listrik tenaga surya.
Kerja sama pembiayaan juga menjadi bagian penting dalam agenda tersebut. Indonesia memiliki pengalaman bekerja sama dengan KfW untuk mendukung kebutuhan pembiayaan sektor swasta.
Di sisi lain, kerja sama energi juga terkait dengan Just Energy Transition Partnership atau JETP. Jerman menjadi co-leading International Partners Group bersama Jepang dalam kemitraan tersebut.
Indonesia memiliki komitmen pendanaan JETP sekitar USD21,4 miliar. Namun, Airlangga menyebut pemanfaatannya baru mencapai sekitar USD4 miliar.
“Karena itu, kami perlu bergerak lebih cepat,” kata Airlangga.
Baca juga: Desil Bansos Bisa Berubah, Airlangga Sebut Data Ekonomi Bersifat Dinamis
Percepatan proyek menjadi tantangan utama dalam memanfaatkan peluang pendanaan dan investasi. Kondisi tersebut sekaligus memperbesar kebutuhan Indonesia terhadap teknologi dan pembiayaan asing.
Di tengah agenda tersebut, rencana investasi semikonduktor Jerman masih menjadi informasi yang belum terbuka. Pemerintah Indonesia dan Jerman baru menunjukkan arah kerja sama tanpa mengumumkan proyek konkretnya.
Dengan demikian, perhatian berikutnya akan tertuju pada perusahaan yang masuk. Besaran investasi dan bentuk proyek juga masih menunggu pengumuman resmi.
Jika terealisasi, investasi semikonduktor dapat memperkuat agenda Indonesia membangun industri teknologi tinggi. Namun, untuk saat ini, rencana tersebut masih berada pada tahap pembahasan. (*)
Editor: Galih Pratama


