Poin Penting
- Guru PAUD di pedalaman NTT menghadapi keterbatasan akses dan fasilitas, termasuk harus menyeberangi sungai untuk mengajar.
- Rendahnya numerasi anak diatasi dengan inovasi pembelajaran menggunakan tanah liat sebagai media belajar.
- Dedikasi Indri mendapat apresiasi nasional melalui Askrindo PAUD Award Indonesia 2025.
Nusa Tenggara Timur – Jalanan tanah liat berwarna cokelat kemerahan tampak licin dan berlumpur setelah diguyur hujan. Di balik itu, jalur tersebut dipenuhi bebatuan. Kondisi geografis ini menjadi potret minimnya akses fasilitas umum di Desa Laob, Kecamatan Polen, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Di kejauhan, sungai yang menjadi jalur utama menuju sekolah masih mengalir deras.
Indri Kristiana Koa, seorang guru Taman Kanak-kanak, memulai perjalanan dari Kota Soe sekitar pukul 6 pagi. Ia menempuh jarak 35 km dengan waktu tempuh sekitar dua jam sekali jalan. Tantangan terbesar adalah menyeberangi sungai. Saat musim kemarau, sungai masih relatif aman dilalui. Namun, saat musim hujan, debit air meningkat dan kerap meluap. Jika arus sungai masih memungkinkan, Indri menyeberang sendiri dengan sangat hati-hati. Ketika air tinggi dan deras, warga setempat membantu menyeberang. Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki hingga tiba di sekolah.
“Takut pasti ada, apalagi kalau air sungai sedang tinggi. Tapi anak-anak menunggu di sekolah, jadi saya bertekad untuk terus bertemu dan mengajar anak-anak,” ujar Indri.
TK Negeri Baob merupakan satu-satunya layanan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Desa Laob yang termasuk wilayah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal). Kondisi sekolah sangat sederhana, hanya memiliki satu ruang kelas yang digunakan bersama oleh Kelompok A dan B sehingga pembelajaran belum optimal.
Mayoritas orang tua bekerja sebagai petani, sehingga sekolah tidak dapat membebankan biaya perlengkapan. Iuran sekolah hanya sekitar Rp10 ribu per anak. Akses internet pun hampir tidak tersedia.
“Untuk kebutuhan pembelajaran, terkadang kami harus menggunakan media digital secara terbatas dan offline, seperti video yang diunduh sebelumnya atau permainan sederhana dan nantinya akan kita presentasikan melalui powerpoint” tambah Indri.
Di tengah keterbatasan fasilitas itu, Indri menghadapi tantangan lain yakni rendahnya kemampuan numerasi anak usia dini. Banyak anak datang ke sekolah tanpa mengenal simbol angka sama sekali. Pembelajaran menggunakan buku dan lembar kerja sering membuat mereka cepat bosan dan kehilangan fokus.
“Padahal numerasi sejak dini penting sebagai fondasi kognitif yang membangun kemampuan berpikir logis, sistematis, dan pemecahan masalah. Hal ini akan membantu anak memahami konsep matematika dasar melalui bermain, meningkatkan kesiapan sekolah, dan menumbuhkan kepercayaan diri serta kemandirian,” ujar Indri.
Indri menambahkan pendampingan belajar di rumah pun belum optimal. Sebagian besar orang tua menghabiskan waktu di kebun atau ke pasar menjual hasil pertanian. Sehingga tidak terlalu memikirkan sejauh mana anak memahami pembelajaran.
Baca juga: Kolaborasi Desa Energi Insight Perkuat Transisi Energi Bersih di Tingkat Lokal
Indri memahami kondisi tersebut. Ia berusaha mencari cara agar pembelajaran numerasi terasa lebih dekat dan menyenangkan. Ia memanfaatkan berbagai media alam di sekitar anak, seperti biji-bijian, batu, kayu, dan ranting. Media tersebut mudah dijangkau dan akrab dengan kehidupan sehari-hari anak, meski belum sepenuhnya mampu menjaga fokus anak.
Dari pengamatannya terhadap lingkungan sekitar sekolah, Indri kemudian melihat potensi lain yang selama ini terabaikan: tanah liat. Struktur tanah Desa Laob yang didominasi tanah liat justru menjadi sumber belajar yang melimpah. Suatu hari, Indri mengajak anak-anak keluar kelas. Bersama-sama, mereka menggali tanah liat di halaman sekolah, mencampurnya dengan air hingga mudah dibentuk menjadi simbol angka sesuai kemampuan masing-masing.
Ada anak yang hanya mampu membuat garis lurus menjadi angka satu, ada pula yang membentuk lingkaran sederhana sebagai angka nol. Semua dilakukan tanpa paksaan. Anak-anak terlihat antusias, tertawa, dan fokus pada apa yang mereka kerjakan. “Waktu mereka membentuk sendiri, anak-anak jadi lebih cepat mengenal angka. Mereka tidak hanya menghafal, tapi memahami,” kata Indri.
Kegiatan sederhana ini membawa dampak besar. Minat belajar anak-anak meningkat. Selain mengenal simbol angka, kemampuan motorik halus, kreativitas, konsentrasi, dan kemampuan berbahasa mereka juga ikut berkembang. Anak-anak mulai menyebutkan angka yang ingin dibuat dan menunjukkan hasil karyanya dengan bangga. Melalui tanah liat yang sederhana, Indri menemukan cara untuk menumbuhkan minat belajar dan kemampuan numerasi anak-anak pedalaman NTT.
“Belajar itu tidak harus selalu di dalam kelas. Dari hal-hal sederhana di sekitar kita, anak-anak bisa belajar banyak,” tutup Indri.
Konsistensi Askrindo di Dunia Pendidikan

Sebagai bentuk komitmen dalam meningkatkan kualitas pendidikan anak usia dini, Askrindo secara konsisten mendukung penguatan kapasitas guru PAUD. Atas dedikasinya, Indri meraih penghargaan Guru Heroik dalam Apresiasi Askrindo PAUD Award Indonesia (APIA) 2025.
Direktur Kepatuhan, SDM dan Manajemen Risiko, R Mahelan Prabantarikso, mengatakan bahwa Askrindo juga turut memberikan apresiasi bagi kerja keras para guru, dalam mendedikasikan hidupnya untuk membentuk Generasi Emas Indonesia melalui gelaran Askrindo PAUD Award Indonesia (APIA).
“Sesuai dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) No. 4 yakni Pendidikan berkualitas, Askrindo percaya bahwa investasi di bidang pendidikan, khususnya pendidikan anak usia dini, merupakan investasi strategis bagi masa depan bangsa. Oleh karena itu, perusahaan terus mendorong berbagai program tanggung jawab sosial yang berfokus pada penguatan kapasitas guru PAUD selain kepada Anak Usia Dini,” jelas Mahelan.
Baca juga: Dukung Pendidikan Berkualitas, Askrindo Hadirkan Mobil Pintar di Jambi
Selain program penghargaan, Askrindo juga menjalankan berbagai program TJSL di bidang pendidikan, seperti pelatihan guru PAUD, literasi keuangan, literasi parenting, pencegahan kekerasan terhadap anak, hingga penyediaan alat permainan edukatif dan juga Mobil Pintar (Mobil Literasi keliling).
“Hingga saat ini, ribuan guru telah menerima manfaat pelatihan dari berbagai program Askrindo, diharapkan program-program yang mendukung Pendidikan seperti ini akan terus berkelanjutan sehingga memberikan manfaat pada Masyarakat,” tutup Mahelan. (*)







