Poin Penting
- Emas tetap menjadi instrumen diversifikasi portofolio karena memiliki karakteristik dan korelasi yang berbeda dengan aset keuangan lainnya, meski bersifat non-yielding asset
- Akses investasi emas kini semakin berkembang melalui ETF, sehingga investor bisa memperoleh eksposur emas tanpa harus membeli dan menyimpan emas fisik secara langsung
- Investor perlu memahami mekanisme dan risiko instrumen emas, termasuk underlying, kualitas aset, sistem penyimpanan, hingga perdagangan ETF agar keputusan investasi lebih terinformasi.
Jakarta – Emas selama ini identik dengan aset yang dicari ketika ketidakpastian meningkat. Namun, di tengah berkembangnya industri pasar modal, cara investor mengakses emas mulai berubah.
Emas tidak lagi hanya berbicara soal batangan yang disimpan secara fisik, tetapi juga berkembang menjadi bagian dari instrumen investasi dengan ekosistem yang lebih terstruktur.
Chief Executive Officer Syailendra Capital, Fajar R. Hidajat, mengatakan emas memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan aset keuangan lainnya.
Meski tidak memberikan imbal hasil secara langsung atau bersifat non-yielding asset, emas tetap dapat memainkan peran dalam diversifikasi portofolio karena memiliki korelasi yang berbeda dengan aset lainnya.
“Emas memiliki karakteristik yang unik dalam sebuah portofolio. Walaupun bersifat non-yielding asset, namun emas mampu menjadi portfolio diversifier karena korelasi yang bisa berbeda dengan aset keuangan lainnya,” ujar Fajar dikutip Selasa (1/9).
Baca juga: Permintaan Emas Global Melonjak, HPE Ikut Naik 7,87 Persen
Karakteristik tersebut membuat emas tidak semata-mata menarik karena potensi kenaikan harganya. Dalam pengelolaan portofolio, investor juga perlu melihat fungsi emas dalam menyebarkan risiko.
Secara historis, emas menunjukkan ketahanan pada sejumlah periode tekanan pasar, termasuk ketika Global Financial Crisis pada 2008 dan pandemi Covid-19.
Meski demikian, emas tetap merupakan aset yang harganya berfluktuasi sehingga memiliki risiko yang perlu dipahami investor.
Di saat yang sama, perkembangan industri keuangan membuat akses terhadap emas semakin beragam. Jika sebelumnya kepemilikan emas lebih banyak dilakukan dengan membeli dan menyimpan emas fisik, kini investor dapat memperoleh eksposur terhadap emas melalui instrumen di pasar modal, salah satunya Exchange Traded Fund (ETF).
ETF merupakan reksa dana yang unit penyertaannya diperdagangkan di bursa. Melalui mekanisme tersebut, investor dapat memperoleh eksposur terhadap aset yang menjadi underlying tanpa harus melakukan transaksi emas fisik secara langsung.
Unit ETF juga dapat diperdagangkan melalui perusahaan efek atau broker selama jam perdagangan, dengan harga yang mengikuti mekanisme pasar.
“Perkembangan cara investasi emas melalui ETF membuat setiap investor bisa lebih mudah memperoleh eksposur terhadap emas melalui infrastruktur pasar modal yang fleksibel, transparan, dan terstruktur,” jelas Fajar.
Namun, di balik kemudahan transaksi tersebut terdapat infrastruktur yang tidak kalah penting. Ketika emas fisik digunakan sebagai underlying, keberadaan dan kualitas aset menjadi bagian fundamental dari ekosistem tersebut.
Emas yang menjadi underlying memiliki standar kualitas dan kemurnian yang teruji serta tercatat dalam bentuk Electronic Gold Receipt (EGR).
Artinya, investasi berbasis emas tidak berhenti pada persoalan bagaimana investor membeli atau menjual instrumen.
Ada rangkaian proses yang memastikan emas fisik tersedia, tersimpan dan terlindungi dalam sistem yang terkontrol, sekaligus memiliki catatan kepemilikan yang dapat direkonsiliasi.
Baca juga: Daftar 10 Negara dengan Cadangan Emas Terbesar, RI Nomor Berapa?
Investor tidak cukup hanya melihat prospek harga emas, tetapi juga perlu memahami karakteristik instrumen yang digunakan untuk memperoleh eksposur terhadap emas, mekanisme perdagangannya, hingga aset yang menjadi underlying.
Bagi Syailendra Capital, pemahaman tersebut perlu berjalan beriringan dengan inovasi produk investasi. Kehadiran instrumen baru dinilai perlu disertai edukasi agar masyarakat tidak sekadar mengikuti tren investasi, tetapi memahami bagaimana produk tersebut bekerja dan risiko yang melekat di dalamnya.
“Bagi kami, edukasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari inovasi investasi. Kehadiran produk baru perlu diiringi dengan pemahaman yang lebih baik agar masyarakat dapat mengambil keputusan investasi secara lebih terinformasi,” imbuh Fajar. (*) Alfi Salima Puteri


