Poin Penting
- Danantara dinilai bisa menjadi jembatan investasi B2B antara pemerintah dengan investor swasta, baik domestik maupun asing, sehingga kerja sama dapat berjalan lebih profesional
- Danantara berpotensi menciptakan nilai tambah melalui efisiensi serta mendorong pertumbuhan perusahaan, baik secara organik maupun nonorganik
- DBS melihat kehadiran Danantara positif bagi portofolionya, terutama jika peningkatan investasi capex mampu menggerakkan supplier, buyer, dan ekosistem bisnis sekaligus menarik investasi asing.
Jakarta – Kehadiran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) sebagai lembaga sovereign wealth fund (SWF) masih menjadi sorotan. Lembaga yang dibentuk pada awal 2025 tersebut diharapkan tidak hanya mengelola aset negara, tetapi juga mampu memperkuat peran investasi swasta di Indonesia.
Indonesia’s Head of Research DBS Group Research, William Simadiputra, menilai Danantara dapat menjadi entitas yang menjembatani pemerintah Indonesia dengan investor, baik domestik maupun asing.
Menurut William, peran tersebut dapat menciptakan ruang bagi investor swasta untuk menjalin kerja sama investasi secara profesional dengan pendekatan business to business (B2B).
“Di sisi investor private entah dalam maupun luar negeri, itu (kerja sama investasi) dilakukan secara profesional, B2B antara investor dan investor. Jadi, itu sama saja seperti kita berinvestasi bersama perusahaan investasi,” ucap William saat acara forum The Indonesia Equation: Risks, Returns, and the Road to 2027, yang digelar di Jakarta, Kamis, 10 September 2026.
Baca juga: DBS Ungkap Sinyal di Balik Target Defisit APBN 2027
William menegaskan, aspek tersebut menjadi salah satu peran penting Danantara sebagai perpanjangan tangan pemerintah dalam membangun ekosistem investasi yang lebih profesional.
Dari sisi tata kelola (governance), ia menjelaskan, perusahaan investasi pada dasarnya akan selalu berorientasi pada penciptaan nilai tambah atau shareholder value. Hal tersebut berlaku bagi pemerintah, perusahaan publik, investor institusi, hingga investor ritel.
“Jika bisa dilakukan dengan baik, ada efisiensi, peningkatan value dari nilai perusahaan mengenai pertumbuhan atau progres pertumbuhan organik maupun non-organik, itu menjadi salah satu dari nilai tambah (yang bisa dilakukan Danantara),” jelasnya.
Sementara itu, Head of Large and Multinational Corporates Institutional Banking Group Bank DBS Indonesia, Natalia Y. Ratulangi, menilai kehadiran Danantara sebagai jembatan antara pemerintah dan investor turut memberikan manfaat bagi investor. Hal tersebut, menurutnya, termasuk bagi klien DBS Indonesia yang berada dalam layanan institutional banking group.
Baca juga: Kinerja Danantara: Klaim Laba “Jumbo” Tanpa Laporan Keuangan
“Misalnya, Danantara meningkatkan investasi capex di proyek klien kami. Capex ini kan akan disalurkan lagi kepada semuanya; supplier, buyer, ekosistem bisnisnya jadi lebih jalan juga,” terang Natalia.
Menurut Natalia, peningkatan investasi tersebut juga berpotensi mendorong foreign investment di Indonesia seiring dengan semakin kuatnya ekosistem bisnis yang terbentuk.
“Jadi, menurut saya ini sesuatu yang saya juga anggap positif untuk segmen portofolio kami,” tandas Natalia. (*) Steven Widjaja


