Poin Penting:
- Danantara menilai nilai tambah mineral Indonesia masih lebih banyak dinikmati negara lain karena ekspor bahan mentah masih mendominasi.
- Hilirisasi mineral diarahkan untuk memperkuat rantai pasok dan memenuhi kebutuhan industri strategis nasional.
- Pengembangan industri material maju dinilai menjadi kunci meningkatkan daya saing manufaktur Indonesia di pasar global.
Jakarta – Danantara menilai kekayaan mineral Indonesia masih lebih banyak dinikmati negara lain. Hal itu terjadi karena industri nasional masih didominasi kegiatan ekstraksi.
Kondisi itu dinilai harus segera diubah melalui penguatan industri pengolahan mineral agar Indonesia mampu menguasai rantai pasok global.
Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia Rosan Roeslani mengatakan Indonesia sudah saatnya berdaulat melalui pengembangan industri pengolahan mineral.
Baca juga: Danantara Percepat 26 Proyek Hilirisasi Strategis Nasional Senilai Rp225 Triliun
Menurutnya, kekayaan sumber daya alam harus diolah menjadi produk bernilai tambah di dalam negeri.
Selama ini, Indonesia lebih banyak mengekspor bahan mentah sebelum diolah menjadi produk jadi di luar negeri. Akibatnya, nilai ekonomi yang lebih besar justru dinikmati negara lain.
Danantara Dorong Hilirisasi Mineral Bernilai Tambah
Rosan mengatakan Danantara melihat Indonesia memiliki modal besar untuk membangun industri material maju.
Indonesia memiliki cadangan nikel, bauksit, tembaga, timah, hingga rare earth yang dibutuhkan berbagai teknologi masa depan.
“Indonesia diberkahi dengan kekayaan mineral yang luar biasa, mulai dari nikel, bauksit, tembaga, timah, hingga rare earth. Bahan-bahan ini menjadi fondasi teknologi masa depan, seperti baterai kendaraan listrik, semikonduktor, pertahanan dan energi bersih,” ujar Rosan, dikutip Antara, Rabu (15/7).
“Namun, selama puluhan tahun kita terlalu sering berhenti di titik ekstraksi: mengekspor bahan mentah, lalu membeli kembali produk jadinya dengan harga yang berkali-kali lipat,” tambahnya.
Baca juga: Danantara Ingin Sulap Bali Jadi ‘Dubai Baru’ untuk Sektor Keuangan
Dalam acara Danantara’s Advanced Materials Industry Dialogue: From Minerals to Manufacturing, juga dilakukan penandatanganan nota kesepahaman pengembangan material maju (critical minerals downstreaming).
Kesepakatan itu melibatkan PT Mineral Industri Indonesia (Persero), PT LEN Industri (Persero), PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, dan PT Pindad (Persero).
Kolaborasi Bangun Industri Material Maju
Kerja sama tersebut bertujuan mengoptimalkan rantai pasok dan offtake mineral kritis serta material maju. Langkah itu diharapkan mampu memenuhi kebutuhan industri strategis nasional.
Pengembangan industri tidak hanya menyasar kendaraan listrik. Sektor dirgantara, maritim, komponen dasar, pertahanan, dan ketenagalistrikan juga menjadi prioritas.
Chief Technology Officer Danantara Indonesia Sigit P. Santosa mengatakan pengembangan industri middle stream material harus menjadi bagian dari transformasi industri nasional.
Langkah tersebut diperlukan untuk membangun ekonomi berbasis teknologi dan manufaktur bernilai tambah tinggi.
Menurut Sigit, Indonesia harus memanfaatkan peluang permintaan regional.
Penguatan kapabilitas teknologi dan daya saing global juga menjadi syarat untuk menciptakan skala ekonomi yang berkelanjutan.
Baca juga: Danantara Gandeng Perusahaan AS Kembangkan Proyek Gasifikasi Batu Bara
Pengolahan Mineral Jadi Kunci Daya Saing Global
Sigit menegaskan kekuatan Indonesia tidak hanya terletak pada cadangan mineral. Yang lebih penting adalah kemampuan mengolahnya menjadi ekosistem industri material maju.
“Kekuatan Indonesia tidak hanya terletak pada ketersediaan mineral, tetapi pada kemampuan kita mengubahnya menjadi ekosistem industri material maju yang menopang baterai, energi bersih, pertahanan, transportasi, dan berbagai teknologi strategis masa depan,” jelas Sigit.
Ia menambahkan pengembangan industri material maju harus dilakukan secara terintegrasi untuk meningkatkan daya saing nasional.
Menurutnya, nikel tetap menjadi keunggulan penting, tetapi agenda besar Danantara adalah membangun industri yang lebih luas, bernilai tambah tinggi, dan mampu bersaing di pasar global. (*)
Editor: Yulian Saputra


