Poin Penting
- Konsumsi rumah tangga berkontribusi 53,32 persen terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026.
- CSIS menilai peningkatan konsumsi belum mencerminkan pemulihan daya beli yang merata.
- Konsumsi masyarakat dinilai turut dibiayai dari penurunan tabungan dan peningkatan utang.
Jakarta – Center for Strategic and International Studies (CSIS) menilai peningkatan konsumsi rumah tangga belum sepenuhnya mencerminkan pemulihan daya beli masyarakat secara merata.
Konsumsi rumah tangga masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian Indonesia. Pada kuartal II 2026, konsumsi rumah tangga berkontribusi 53,32 persen terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,29 persen secara tahunan (YoY).
Baca juga: Konsumsi Rumah Tangga Masih Jadi Motor Utama Ekonomi RI di Kuartal II 2026
Peneliti Senior Departemen Ekonomi CSIS, Deni Friawan, mengatakan konsumsi masyarakat masih didominasi kelompok kelas atas, sementara konsumsi kelas menengah mengalami perlambatan.
“Kalau kita lihat walaupun consumption-nya tetap tumbuh positif, ternyata dia itu tidak semua merata karena yang terjadi adalah kelas atas mengalami peningkatan, sementara kelas menengah itu consumption-nya lebih melambat. Ini mengindikasikan daya beli masyarakat itu tidak belum secepat dengan pertumbuhan PDB-nya,” kata Deni dalam acara Tinjauan tengah tahun Perekonomian Indonesia, dikutip, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Konsumsi Ditopang Tabungan dan Utang
Lebih lanjut, di balik pertumbuhan konsumsi yang tetap positif, Deni menilai masyarakat juga membiayai konsumsi dengan mengurangi tabungan maupun menambah utang.
Deni mencatat, tabungan masyarakat dengan simpanan di bawah Rp100 juta terus menurun. Sebaliknya, simpanan kelompok masyarakat kaya justru meningkat.
“Kita lihat bahwa ternyata untuk deposito di bawah 100 juta itu terus mengalami penurunan, sementara yang kaya itu tetap malah meningkat. Jadi ada permasalahan ketimpangan dalam konsumsi kita,” ungkapnya.
Baca juga: Tabungan Menipis, Masyarakat Pakai Kartu Kredit-Paylater untuk Belanja
Menurut Deni, kondisi tersebut menunjukkan adanya ketimpangan dalam pola konsumsi masyarakat. Pertumbuhan konsumsi yang tercatat secara agregat belum sepenuhnya menggambarkan kondisi daya beli seluruh kelompok masyarakat.
Lapangan Kerja Belum Berkualitas
Selain konsumsi, Deni menyoroti kualitas lapangan kerja yang tercipta dari pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi memang mampu menciptakan lapangan pekerjaan, tetapi belum banyak menghasilkan pekerjaan berkualitas dengan tingkat penghasilan yang layak.
“Walaupun tingkat penganggurannya berkurang, tapi kebanyakan yang tercipta adalah di sektor informal. Dan kita melihat bahwa unemployment rate terutama untuk yang berpendirikan tinggi, terutama S1, S2, dan S3 itu mengalami peningkatan. Ini melihat bahwa ada permasalahan educated unemployment di Indonesia yang besar dan juga ini ada permasalahan youth unemployment,” ungkapnya. (*)
Editor: Yulian Saputra


