Poin Penting
- CORE menilai Rp17.000/USD menjadi level psikologis baru rupiah dan berpotensi dipertahankan hingga akhir 2026
- Tekanan rupiah masih tinggi akibat faktor global, terutama geopolitik Timur Tengah dan fluktuasi harga minyak dunia
- Destry Damayanti menyebut penguatan dolar AS dan fenomena risk-off mendorong aliran modal keluar dari negara berkembang, sehingga menekan rupiah.
Jakarta – Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal menilai nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) telah memasuki angka psikologis atau titik keseimbangan baru di level Rp17.000/USD setelah mengalami tekanan akibat geopolitik.
Faisal menyatakan, posisi nilai tukar rupiah di level Rp17.000 per dolar AS diproyeksi akan bertahan hingga akhir 2026 ini.
“Rp17.000 (per dolar AS) itu masih memungkinkan (hingga akhir tahun) jadi (angka) psikologis baru. Jadi akan mati-matian untuk dipertahankan di situ,” kata Faisal saat ditemui di Jakarta, Senin, 13 April 2026.
Baca juga: Rupiah Dibuka Melemah di Level Rp17.130 per Dolar AS
Faisal menyebutkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih tetap tinggi hingga saat ini akibat tensi geopolitik di Timur Tengah serta harga minyak dunia yang bergejolak.
“Jadi artinya tekanan terhadap nilai tukar itu sudah secara logic itu akan terjadi ya,” ucapnya.
Meski demikian, Faisal menyatakan nilai tukar rupiah bisa berada di level Rp16.900 per dolar AS apabila di lihat dari fundamental, cadangan devisa, dan tingkat suku bunga Indonesia.
Sementara, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyatakan tekanan terhadap rupiah sejauh ini disebabkan karena indeks dolar AS (DXY) yang menguat. Kondisi itu membuat pergerakan dolar AS menekan berbagai mata uang negara lain, termasuk rupiah.
Baca juga: BI Klaim Harga BBM Tak Naik Bisa Bantu Redam Tekanan Rupiah
“Apakah Indonesia sendirian? Nggak. Sejak adanya serangan di Iran beberapa negara ada depresiasi dalam. Kita juga minus 1,91 persen di posisi year to date. Pergerakan nilai tukar tidak sendirian,” jelas Destry.
Destry juga menyebut, terjadinya risk off di mana investor cenderung menghindari aset yang berisiko tinggi, sehingga aktivitas safe haven meningkat. Akibatnya, aliran modal bergeser dari negara berkembang ke negara maju.
“Hal itu membuat indeks dolar AS meningkat yang memberikan tekanan terhadap nilai tukar negara berkembang, termasuk Indonesia,” jelas Destry. (*)
Editor: Galih Pratama







