Chatib Basri: Kecil Kemungkinan Ekonomi RI Masuk Jurang Resesi

Chatib Basri: Kecil Kemungkinan Ekonomi RI Masuk Jurang Resesi

Program Restrukturisasi Kredit OJK akan Berdampak Negatif ke Sektor riil
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

Jakarta – Ekonom Senior sekaligus Co-Founder Creco Research Institute Chatib Basri mengaku heran banyak kalangan yang meributkan kemungkinan Indonesia mengalami resesi pada 2023. Menurutnya, kecil kemungkinan Indonesia masuk jurang resesi, akan tetapi Indonesia berpotensi mengalami perlambatan karena berbagai faktor.

Tensi geopolitik yang dipicu perang Rusia-Ukraina memang akan mengancam ekonomi negara-negara Eropa. Jerman misalnya berpotensi mengalami resesi karena ancaman krisis energi. Selama ini Jerman sangat bergantung pada pasokan gas dari Rusia, termasuk untuk menggerakan industri manufakturnya. Jika Jerman mengalami resesi, mau tidak mau eropa akan terdampak karena Jerman adalah lokomotif ekonomi Eropa.

Namun demikian, saat ini Jerman sudah melakukan penyesuaian dan efisiensi pengunaan gas, termasuk juga dengan beralih ke batubara. Pasalnya inflasi di negara tersebut sudah menyentuh angka 10,4%. Menghadapi kondisi yang ini, European Central Bank (ECB) pun menaikan tingkat suku bunganya.

Sementara di Amerika Serikat (AS), terjadi missmatch. Lowongan pekerjaan jumlah besar sekali, tapi tingkat unemployment rendah. Alhasil, upah pun naik. Inflasi di AS pun masih tinggi. Bank sentral AS atau The Fed cukup agresif menaikkan tingkat suku bunga untuk menjinakkan inflasi.

“Saya menduga inflasi di AS akan bertahan untuk peridoe waktu agak panjang. The Fed mungkin akan melakukan perlambatan kenaikan bunga. Tapi butuh waktu agak panjang sebelum The Fed menurunkan suku bunga. Ini punya impilikasi kepada ekonomi banyak negara,” papar Chatib dalam webinar Bank BTPN Economic Outlook 2023, Senin, 5 Desember 2022.

Kombinasi perlambatan ekonomi Jerman dan Eropa serta AS akan mempengaruhi ekonomi global. Namun kekhawatiran akan terjadi resesi mengakibatkan kebutuhan energi justru menurun. Kebutuhan input energi dan komoditas menurun, dan berimbas pada harga yang ikut terkoreksi. Permintaan energi dan komoditas yang menurun akan berimbas pada kinerja ekspor Indonesia yang kemungkinan akan melambat dan berdampak ke penerimaaan negara.

“Efek spilover akan bergantung pada ekposure ekspor terhadap GDP besar atau tidak. Pertumbuhan Singapura akan lebih rendah dari kita, karena share ekspor kita hanya sekitar 25%. Indonesia less integrated terhadap supply chain global dibandingkan Singapura. Apakah ini by design? Tidak. Karena kelakukan kita yang membuat kita tidak kompetitif,” tuturnya.

Tidak banyak bergantung pada rantai pasok global memang menguntungkan Indonesia saat ini. Hal ini menjadi salah satu alasan kenapa di kuartal III-2022, ekonomi Indonesia tumbuh lebih tinggi dibandingkan negara-negara seperti Singapura dan Thailand. Tapi nanti ketika ekonomi global mulai pulih, pertumbuhan Indonesia akan lebih lambat.

Tahun depan memang akan menantang bagi Indonesia. Defisit APBN di-set kembali di bawah 3%. Sedangkan penurunan harga energi dan komoditas akan membuat revenue pemerintah juga turun. Pendapatan turun, dan defisit juga harus turun. Dengan kata lain, spending harus di-cut. Maka dalam kondisi seperti ini, pemerintah harus fokus pada kualitas belanja, terutama pada sektor yang mendorong ekonomi atau memproteksi masyarakat.

“2023 bukan tahun yang mudah memang. Pasti akan ada dampak, terutama sektor yang export oriented. Tekstil banyak PHK terjadi, atau sektor tech itu kelihatan karena investornya lebih selektif. Mau tidak mau strateginya berubah. Pasti akan ada sektor terkena. Tapi overall, walaupun melambat, saya kira Indonesia masih akan tumbuh 4,5%-5%. Jadi mungkin tidak akan seburuk yang kita bayangkan,” pungkasnya. (*) Ari Astriawan.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Berita Pilihan

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini

[ultimatemember form_id=”1287″]