Poin Penting
- Target inflasi 2,5 persen pada 2027 dinilai tidak realistis karena risiko kenaikan harga pangan, El Nino, dan imported inflation
- El Nino berpotensi mengganggu produksi pangan dan mendorong inflasi hingga 5,74 persen pada 2027
- Rupiah diproyeksikan melemah ke Rp18.400 per dolar AS, jauh di atas target pemerintah Rp17.500.
Jakarta — Target inflasi pemerintah sebesar 2,5 persen dengan toleransi plus minus 1 persen pada 2027 dinilai tidak realistis. Salah satunya, lantaran tidak memperhitungkan kenaikan harga pangan.
“Pemerintah tidak mempertimbangkan faktor kenaikan harga pangan ke depan,” kata Nailul Huda, Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios) dalam keterangannya, dikutip Rabu, 26 Agustus 2026.
Menurut Nailul, ancaman El Nino dan imported inflation juga berpotensi meningkatkan tekanan inflasi pada 2027. Ia memperkirakan inflasi dapat mencapai 5,74 persen apabila berbagai risiko tersebut terjadi.
“Inflasi pada tahun 2027 diprediksi bisa mencapai 5,74 persen dengan berbagai kondisi seperti adanya El-Nino Godzilla di akhir 2026 hingga 2027,” jelasnya.
Baca juga: Begini Jurus BI Mitigasi Risiko Inflasi Akibat El Nino
Ia menilai, fenomena El Nino yang berpotensi terjadi sejak akhir 2026 hingga 2027 dapat berdampak terhadap produksi pangan nasional sehingga berisiko mendorong kenaikan harga beras dan sejumlah komoditas pangan penting lainnya.
Rupiah Diproyeksi Melemah ke Rp18.400 per Dolar AS
Selain inflasi, Nailul juga menyoroti proyeksi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Menurutnya, proyeksi rupiah sebesar Rp17.500 per dolar AS yang ditargetkan pemerintah dinilai masih terlalu optimistis.
Ia menjelaskan, nilai tukar rupiah kini sudah berada di kisaran Rp17.800 hingga Rp18.100 per dolar AS. Karena itu, kecil kemungkinan mata uang Garuda kembali menguat ke level Rp17.500 per dolar AS.
Baca juga: Pemerintah Gandeng BI Jaga Rupiah, Inflasi, dan Pertumbuhan Ekonomi
“Jadi bisa dibilang, tidak ada kemungkinan rupiah kembali ke angka Rp17.500 per USD. Angka yang kami proyeksikan adalah Rp18.400 per USD, lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi saat ini,” jelasnya.
Nailul bilang, pelemahan rupiah salah satunya disebabkan oleh tingkat kepercayaan investor yang masih rendah. Kondisi satu ini bisa memicu capital outflow, terutama jika pengelolaan fiskal pemerintah dinilai tidak prudent.
“Selain itu, dari dalam negeri masih terjadi penurunan ketidakpercayaan dengan tingginya penukaran rupiah terhadap valuta asing, terutama dolar US,” pungkasnya. (*)
Editor: Galih Pratama


