Poin Penting:
- Bank DP Taspen berhasil mencatat pertumbuhan aset, kredit, dan laba signifikan pasca transformasi sejak 2024.
- Fokus pada pensiunan menjaga kualitas kredit dengan NPL sangat rendah di level 0,02 persen.
- Model kolaborasi “growing together” menjadi kunci ekspansi dan peningkatan fee-based income di 2026.
Bekasi — Capaian PT BPR DP Taspen (Bank DP Taspen) di bawah kepemimpinan Direktur Utama Iwan Soeroto menunjukkan tren positif di tengah tekanan likuiditas dan ketidakpastian ekonomi. Transformasi menyeluruh yang dilakukan sejak 2024 mulai membuahkan hasil.
Iwan menegaskan bahwa perubahan yang dilakukan tidak bersifat parsial, melainkan menyentuh seluruh aspek bisnis. Mulai dari merger, digitalisasi, perbaikan tata kelola, hingga penguatan branding dan sumber daya manusia (SDM).
“Transformasi kita lakukan dari 2024 sampai sekarang. Mulai dari merger, IT, tata kelola, branding, sampai SDM,” ujarnya saat ditemui tim Infobanknews di kantornya, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (29/4/2026).
Hasilnya mulai terlihat dari kinerja keuangan. Sepanjang 2025, Bank DP Taspen mencatat pertumbuhan aset sebesar 24,23 persen menjadi sekitar Rp1,19 triliun. Penyaluran kredit tumbuh 17,76 persen, sementara dana pihak ketiga meningkat 23,06 persen. Laba bersih juga melonjak menjadi Rp34,78 miliar tumbuh 54,31 persen, mencerminkan efektivitas strategi bisnis yang dijalankan.
Memasuki triwulan I 2026, kinerja tersebut tetap terjaga. Rasio kecukupan modal (CAR) berada di kisaran 18 persen, jauh di atas ketentuan regulator. Rasio non-performing loan (NPL) bahkan berada di level sangat rendah sekitar 0,02 persen. Return on asset (ROA) tercatat 2,19 persen dan rasio efisiensi (BOPO) masih dalam kategori sehat.
Namun demikian, Iwan tidak menutup mata terhadap tantangan yang dihadapi, khususnya dari sisi likuiditas.
“Di awal tahun ini memang cukup berat di pendanaan. Ada penarikan dana cukup besar, tapi indikator kita masih aman,” katanya.
Tekanan likuiditas ini, menurutnya, dipicu oleh dinamika ekonomi yang mendorong masyarakat menarik dana untuk kebutuhan usaha maupun investasi lain seperti emas. Meski begitu, bank mampu menjaga stabilitas melalui pengelolaan likuiditas yang disiplin dan strategi stress test yang rutin dilakukan.
Baca juga: BPR DP Taspen Raih Penghargaan Top 100 BPR 2025 Berkat Inovasi dan Kolaborasi
Transformasi dan Ekspansi Bisnis Bank DP Taspen
Transformasi menjadi fondasi utama bagi Bank DP Taspen untuk tumbuh lebih agresif. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah merger dengan BPR lain sebagai bagian dari konsolidasi industri, sekaligus memperkuat skala bisnis.
Langkah ini terbukti efektif mendorong lonjakan aset dalam waktu singkat. Dari posisi di bawah Rp600 miliar pada 2023, aset melonjak menjadi lebih dari Rp1,15 triliun pada 2025.
Di sisi operasional, efisiensi menjadi kunci. Bank DP Taspen menerapkan sentralisasi proses kredit, di mana seluruh analisis dan persetujuan dilakukan di kantor pusat. Cabang hanya berfungsi sebagai unit pemasaran dan penyaluran kredit.
Lebih lanjut, bank juga mengembangkan sistem sentralisasi persetujuan kredit yang terintegrasi di kantor pusat. Seluruh proses analisis, verifikasi, hingga keputusan kredit dilakukan secara terpusat dengan dukungan sistem digital dan dashboard monitoring real-time. Dengan pendekatan ini, proses persetujuan menjadi lebih cepat, konsisten, dan minim intervensi manual, sekaligus mengurangi potensi penyimpangan di tingkat cabang.
Model ini memangkas duplikasi fungsi di cabang dan menekan biaya operasional secara signifikan. “Cabang itu tugasnya memasarkan funding dan lending saja. Semua proses kredit kita pusatkan,” ujar Iwan.
Transformasi digital juga menjadi prioritas. Bank tengah mengembangkan mobile banking, QRIS, serta integrasi ATM melalui kerja sama dengan Jalin. Selain itu, sistem core banking telah dimigrasikan untuk mendukung layanan berbasis digital.
Penguatan Tata Kelola dan Sistem Pengendalian Risiko
Perbaikan tata kelola menjadi langkah krusial dalam transformasi Bank DP Taspen. Iwan mengakui bahwa sebelum transformasi, aspek governance belum optimal.
“Tata kelola kita ubah total, dari organisasi sampai compliance. Kita buat seperti bank umum,” katanya.
Salah satu inovasi yang diterapkan adalah risk based control (RBC), sistem pengendalian yang memungkinkan bank memantau langsung potensi penyimpangan di lapangan. Melalui sistem ini, nasabah dapat diverifikasi langsung untuk memastikan transparansi dalam pencairan kredit.
Pendekatan ini terbukti efektif menjaga kualitas aset. Dengan NPL di level 0,02 persen, Bank DP Taspen menjadi salah satu BPR dengan kualitas kredit terbaik.
Selain itu, bank juga membentuk unit recovery untuk menangani kredit bermasalah secara khusus. Tim ini fokus menyelesaikan kredit macet, baik yang disebabkan oleh debitur maupun kendala asuransi.
Langkah lain yang dilakukan adalah pembentukan komite-komite strategis seperti komite audit, komite remunerasi, hingga asset liability committee (ALCO). Struktur organisasi pun diperkuat dengan penambahan posisi general manager untuk meningkatkan profesionalisme.

Ekosistem Pensiunan dan Inovasi Model Bisnis
Keunggulan kompetitif Bank DP Taspen terletak pada fokus pasar pensiunan. Segmen ini dinilai memiliki risiko lebih rendah karena berbasis payroll, sehingga pembayaran kredit dapat dikelola secara langsung.
“Market kita pensiunan, base-nya payroll. Jadi risikonya bisa kita jaga,” ujar Iwan.
Untuk memperkuat loyalitas nasabah, bank membangun ekosistem pensiunan melalui berbagai program komunitas. Mulai dari kegiatan kesehatan, sosial, hingga pemberdayaan usaha mikro bagi pensiunan.
Selain itu, bank menghadirkan berbagai produk inovatif seperti kredit jaminan deposito (Jande), tabungan berbasis hadiah, hingga program pembiayaan umrah dan kebutuhan konsumtif lainnya.
Inovasi ini tidak hanya meningkatkan daya tarik produk, tetapi juga membantu menghimpun dana murah yang menjadi kunci di tengah tekanan likuiditas.
Di sisi lain, Bank DP Taspen mengembangkan model bisnis kolaboratif melalui konsep “growing together”. Dalam pendekatan ini, bank tidak memposisikan diri sebagai kompetitor BPR lain, melainkan sebagai mitra.
Melalui skema channeling dan fee-based income, Bank DP Taspen membantu BPR lain menyalurkan kredit ke segmen pensiunan, sekaligus memperoleh pendapatan berbasis fee-based.
“Saya tidak mau bersaing. Kita kolaborasi, tumbuh bersama,” tegas Iwan.
Model ini dinilai lebih berkelanjutan karena memperluas jaringan bisnis tanpa meningkatkan risiko secara signifikan.
Prospek 2026 dan Strategi ke Depan
Menghadapi 2026, tantangan utama tetap berasal dari sisi likuiditas. Namun, Bank DP Taspen telah menyiapkan berbagai strategi untuk mengantisipasi kondisi tersebut.
Fokus utama akan diarahkan pada peningkatan fee-based income, penguatan channeling, serta pengembangan ekosistem digital. Selain itu, kolaborasi dengan bank besar dan BPR lain akan terus diperluas.
Bank juga berencana mengembangkan bisnis berbasis layanan (value-based services), termasuk penjualan sistem digital dan dashboard perbankan kepada mitra BPR.
“Ke depan kita tidak hanya main di lending, tapi juga fee-based. Itu yang akan kita dorong,” kata Iwan.
Dengan strategi tersebut, Bank DP Taspen optimistis dapat mempertahankan pertumbuhan di tengah kondisi ekonomi yang menantang. Pendekatan adaptif dan inovatif menjadi kunci untuk menjaga momentum bisnis.
Iwan menegaskan bahwa setiap tantangan selalu membuka peluang baru. Dengan fondasi transformasi yang kuat, Bank DP Taspen diyakini mampu terus berkembang dan memperkuat posisinya di industri BPR nasional.
Baca juga: OJK Cabut Izin Usaha 6 BPR Sepanjang Kuartal I 2026, Ini Daftarnya
Profil Sang Nakhoda
Iwan Soeroto lahir di Jakarta pada 3 Mei 1966. Ia merupakan lulusan Magister Manajemen dari Universitas Dr Soetomo Surabaya. Latar belakang pendidikannya di bidang manajemen menjadi fondasi penting dalam perjalanan kariernya di industri keuangan.
Karier profesionalnya dimulai pada 1987 di PT Taspen (Persero). Selama hampir tiga dekade, ia meniti berbagai posisi strategis, mulai dari calon pegawai di biro pengelolaan data elektronik hingga menjabat sebagai Sekretaris Perusahaan pada 2014. Pengalaman panjang ini membentuk pemahamannya yang mendalam terhadap industri keuangan, khususnya di sektor pengelolaan dana pensiun.
Pada 2017, Iwan bergabung dengan Bank Mandiri Taspen sebagai Direktur IT dan Network. Di posisi ini, ia berperan penting dalam pengembangan sistem teknologi dan jaringan perbankan, sekaligus memperkuat kompetensinya dalam transformasi digital. Ia menjabat hingga 2023 sebelum melanjutkan karier ke tantangan berikutnya.
Sejak Januari 2024, Iwan dipercaya sebagai Direktur Utama Bank DP Taspen. Di bawah nakhodanya, bank ini menjalankan transformasi besar-besaran yang mencakup digitalisasi, perbaikan tata kelola, hingga ekspansi bisnis. Pendekatan strategis dan pengalaman panjangnya menjadi kunci dalam mendorong pertumbuhan agresif Bank DP Taspen dalam waktu singkat. (*)




