Poin Penting
- Pertumbuhan bisnis tidak cukup diukur dari kenaikan omzet, tetapi juga margin dan ketahanan keuangan.
- Strategi pemasaran perlu berbasis data agar traffic dan interaksi digital berujung pada penjualan.
- Pengelolaan risiko dan fondasi keuangan penting untuk menjaga keberlanjutan bisnis.
Jakarta – Kenaikan omzet belum tentu menunjukkan bisnis semakin sehat. Begitu pula tingginya traffic, klik, dan interaksi di kanal digital belum tentu berujung pada penjualan dan keuntungan.
Bagi pelaku usaha, pertumbuhan perlu diukur lebih jauh, termasuk dari kemampuan menghasilkan margin dan menjaga ketahanan keuangan.
Praktisi Growth Marketing, Michelle Fno, mengatakan tantangan tersebut semakin kompleks bagi perempuan wirausaha karena pengelolaan keuangan usaha sering berjalan beriringan dengan kebutuhan pribadi dan keluarga.
Baca juga: Inflasi Medis Capai 16,9 Persen, Sequis Life Perluas Manfaat Asuransi Kesehatan
Karena itu, kemampuan mengelola risiko dan memastikan setiap biaya pengembangan bisnis memberikan hasil menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan usaha.
“Memasang iklan dan mendatangkan traffic saja tidak cukup. Kita perlu melihat apakah traffic tersebut menghasilkan penjualan, pembelian berulang, dan pada akhirnya margin,” ujarnya, dikutip Kamis, 13 Agustus 2026.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam sesi Growth Marketing pada rangkaian Sequis SHEPRENEUR Learning Series.
Pemasaran Harus Berkontribusi pada Keuntungan
Michelle menekankan, pelaku usaha perlu melihat pemasaran bukan sekadar aktivitas untuk mendatangkan calon pelanggan, melainkan bagian dari proses bisnis yang harus berkontribusi terhadap keuntungan.
Setelah calon pelanggan berhasil didatangkan, pelaku usaha perlu memastikan mereka mendapatkan penawaran yang relevan, melalui proses pembelian yang efektif, hingga memiliki alasan untuk kembali bertransaksi.
Baca juga: Bidik Potensi Pasar Bekasi, Sequis Life Perkuat Jaringan Kantor Pemasaran
Seluruh proses tersebut perlu dihitung dengan mempertimbangkan biaya akuisisi pelanggan dan margin usaha.
Untuk itu, peserta diperkenalkan pada pendekatan berbasis data yang dimulai dengan mengaudit kondisi bisnis dan memahami pelanggan. Tahap selanjutnya mencakup penyusunan strategi dan konten (create), pengujian efektivitas (test), evaluasi hasil (evaluate), dan pengembangan strategi yang menunjukkan kinerja terbaik (scale).
Dengan pendekatan tersebut, pelaku usaha tidak lagi hanya mengejar jumlah likes, klik, atau impressions. Data pemasaran perlu digunakan untuk mengetahui kanal yang efektif mendatangkan pelanggan, biaya yang dibutuhkan, serta kontribusinya terhadap bisnis.
Fondasi Keuangan Jadi Penopang Pertumbuhan
Di sisi lain, pertumbuhan bisnis perlu ditopang fondasi keuangan yang kuat. Dalam sesi Managing Financial Risks for You and Your Family, Agency Development Manager Sequis Life, Andrew Tjengharwidjaja, mengingatkan bahwa perencanaan keuangan bukan hanya soal menabung dan investasi.
Menurutnya, pelaku usaha juga perlu mengantisipasi berbagai risiko yang dapat mengganggu kemampuan menghasilkan pendapatan.
“Perencanaan keuangan bukan hanya bagaimana kita mengembangkan aset, tetapi juga bagaimana kita mengelola risiko yang dapat mengganggu tujuan keuangan,” kata Andrew.
Baca juga: Perbankan Jadi Jembatan Ekspansi Bisnis Indonesia-Thailand
Ada tiga risiko kehidupan yang perlu diperhatikan, yakni umur pendek, sakit atau kecelakaan, dan umur panjang.
Bagi wirausaha, risiko sakit atau kecelakaan dapat berdampak ganda. Selain meningkatkan kebutuhan biaya, kondisi tersebut juga berpotensi mengganggu kemampuan pemilik usaha menjalankan bisnis.
Karena itu, sebelum masuk pada investasi dan pengembangan kekayaan, peserta diajak membangun fondasi melalui pengelolaan penghasilan dan pengeluaran, dana darurat, serta pengelolaan pinjaman konsumtif.
Perlindungan kesehatan, penyakit kritis, dan jiwa kemudian dapat menjadi bagian dari strategi untuk menjaga keberlangsungan rencana keuangan. (*) Alfi Salima Puteri


