Poin Penting
- Gangguan pada jaringan transmisi utama diduga menjadi pemicu awal blackout di Sumatra.
- Sistem interkoneksi yang terpecah memicu ketidakstabilan frekuensi dan gangguan berantai.
- Cuaca ekstrem dinilai menjadi ancaman yang semakin besar bagi keandalan infrastruktur kelistrikan.
Jakarta – Pemadaman listrik massal yang sempat terjadi di sejumlah wilayah Sumatra diduga dipicu oleh gangguan pada jaringan transmisi utama. Namun, penyebab blackout tidak dapat disederhanakan hanya pada satu faktor mengingat kompleksitas sistem kelistrikan yang saling terintegrasi.
Dosen Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Rahmat Adi Prasetya, menjelaskan gangguan awal memang berasal dari sistem transmisi. Meski demikian, meluasnya pemadaman menunjukkan adanya faktor lain yang turut memengaruhi stabilitas jaringan listrik di Sumatra.
“Kalau kita bicara bahwa itu merupakan faktor tunggal, tentu tidak. Operasi sistem tenaga listrik itu sangat kompleks dan harus dijaga setiap saat,” kata Rahmat, dalam diskusi daring bertema “Mengulik Penyebab Pulau Sumatra Gelap”, Kamis, 25 Juni 2026.
Baca juga: Pemadaman Listrik PLN Berulang Kali, Prabowo Beri Instruksi Ini
Rahmat menjelaskan sistem kelistrikan Sumatra merupakan jaringan interkoneksi panjang yang membentang dari Lampung hingga Aceh. Sistem tersebut masih sangat bergantung pada koridor transmisi utama bertegangan tinggi 275 kV.
Ketika gangguan terjadi pada jalur transmisi utama, sistem interkoneksi dapat terpecah menjadi beberapa sub-sistem yang berdiri sendiri. Kondisi ini berpotensi memicu ketidakstabilan frekuensi dan tegangan yang kemudian berkembang menjadi gangguan berantai.
“Begitu transmisi utama terjadi gangguan, sistem itu menjadi terpisah. Nah, dengan terpisah sub-sistem sub-sistem ini menjadi tidak stabil dan kemudian terjadi apa yang kita sebut sebagai gangguan berantai,” bebernya.
Koordinasi Dinilai jadi Faktor Penting
Rahmat menilai perhatian tidak boleh hanya tertuju pada komponen yang mengalami gangguan atau keluar dari sistem. Yang lebih penting adalah kemampuan sistem untuk mencegah gangguan lokal berkembang menjadi pemadaman berskala besar.
Baca juga: Pemadaman Listrik Bergilir, Dirut PLN Lapor Prabowo
Dalam sistem tenaga listrik modern, koordinasi proteksi dan sistem kontrol memiliki peran penting untuk menjaga stabilitas jaringan.
Mekanisme seperti load shedding (pelepasan beban), pengaturan frekuensi, dan pengaturan tegangan harus mampu bekerja secara terkoordinasi saat terjadi gangguan.
“Pertanyaannya bukan hanya apa yang keluar dari sistem, tetapi mengapa gangguan itu tidak bisa diatasi secara lokal sehingga berkembang menjadi gangguan berantai,” jelasnya.
Pemulihan Sistem Dinilai Memakan Waktu
Selain membahas penyebab blackout, Rahmat juga menyoroti proses pemulihan sistem kelistrikan Sumatra yang dinilai membutuhkan waktu cukup lama.
Menurutnya, salah satu faktor yang memengaruhi kecepatan restorasi adalah dominasi pembangkit termal dalam sistem kelistrikan Sumatra.
Pembangkit termal memiliki karakteristik yang membutuhkan waktu relatif panjang untuk kembali beroperasi setelah terjadi pemadaman total.
“Kalau kita lihat, pemulihannya cukup lama. Salah satu penyebabnya bisa berasal dari komposisi pembangkit yang didominasi pembangkit termal karena proses start-up membutuhkan waktu yang tidak sebentar, bahkan bisa mencapai beberapa jam,” bebernya.
Cuaca Ekstrem Perlu Diantisipasi
Rahmat juga menyoroti meningkatnya risiko cuaca ekstrem terhadap keandalan jaringan listrik nasional.
Berdasarkan informasi yang beredar, sejumlah infrastruktur kelistrikan mengalami gangguan akibat hujan deras dan angin kencang. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa faktor perubahan iklim semakin relevan dalam pengelolaan sistem tenaga listrik.
“Risiko iklim ekstrem sekarang menjadi sangat relevan. Saat mendesain, mengoperasikan, maupun memelihara aset kelistrikan, faktor risiko iklim perlu diperhitungkan lebih besar dibanding sebelumnya,” kata dia.
Menurut Rahmat, standar desain, pengoperasian, dan pemeliharaan infrastruktur ketenagalistrikan perlu terus disesuaikan dengan meningkatnya potensi cuaca ekstrem agar keandalan sistem tetap terjaga dan risiko blackout dapat diminimalkan. (*)
Editor: Yulian Saputra


