Poin Penting
- Lippo Group dan Pakuwon Group menegaskan pemasangan pagar di beberapa mal hanyalah inisiatif manajemen lokal, bukan karena kondisi keamanan nasional yang memburuk
- James Riady dan Alexander Tedja memastikan situasi keamanan Indonesia tetap kondusif, bahkan pagar di Mal Kota Kasablanka akan segera dibongkar
- Tingginya permintaan ruang usaha dan ekspansi pusat perbelanjaan dinilai menjadi bukti iklim investasi serta bisnis ritel modern masih sangat positif.
Jakarta – Dua pemilik jaringan pusat perbelanjaan di Indonesia, James Riady dari Lippo Group dan Alexander Tedja dari Pakuwon Group, menegaskan kondisi keamanan nasional tetap kondusif, sehingga tidak ada kebutuhan memasang pagar pembatas di mal.
Mereka menyatakan, pemasangan pagar di beberapa pusat perbelanjaan merupakan inisiatif manajemen lokal dan bukan kebijakan perusahaan.
Wakil Ketua Umum Koordinator (WKUK) Bidang Luar Negeri Kadin Indonesia sekaligus Chairman Lippo Group, James T. Riady, mengatakan seluruh mal milik Lippo pernah memasang pagar ketika Indonesia menghadapi kerusuhan pada masa lalu. Namun, pagar-pagar tersebut telah lama dibongkar seiring membaiknya situasi keamanan.
“Dulu semua mal memasang pagar ketika terjadi kerusuhan. Sekarang sudah tidak diperlukan lagi karena situasi sudah tenang,” ujar James dalam keterangannya, dikutip Sabtu, 1 Agustus 2026.
Senada dengan itu, pendiri Pakuwon Group, Alexander Tedja, memastikan pagar yang sempat dipasang di Mal Kota Kasablanka (Kokas), Jakarta Selatan, akan segera dibongkar.
Bada juga: Banyak Mal Kini Dipasang Pagar Tinggi, Ini Penjelasan Asosiasi
Menurut Alex, pemasangan pagar tersebut merupakan keputusan manajemen lokal tanpa arahan dari pemegang saham maupun kantor pusat. “Itu kebijakan manajemen lokal dan akan segera dibongkar,” kata Alex kepada Investortrust.
Koordinasi dengan Pemerintah
Sementara itu, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait mengaku telah berkomunikasi langsung dengan Alexander Tedja setelah isu pagar mal menjadi perhatian publik.
Menurut Maruarar, Alex menegaskan bahwa pagar di Kokas akan dibongkar, sedangkan penataan di properti Pakuwon lainnya akan disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku agar tidak menimbulkan persepsi yang keliru di masyarakat.
“Saya juga sudah berbicara langsung dengan Pak Alex Tedja. Beliau mengatakan itu hanya inisiatif manajemen lokal dan akan segera diselesaikan,” ujar Maruarar.
Maruarar memberikan apresiasi kepada James Riady dan Alexander Tedja yang secara terbuka menyampaikan bahwa kondisi keamanan Indonesia tetap baik.
“Mereka adalah pemilik mal dan hotel di Indonesia. Sikap kedua pemilik mal ini patut diapresiasi karena situasi keamanan kita memang baik,” katanya.
James menilai tidak ada alasan bagi masyarakat untuk merasa cemas terhadap kondisi sosial maupun ekonomi.
Baca juga: Kunjungan Mal di Jakarta Turun 10 Persen, Bukti Daya Beli Melemah?
Menurut dia, pemerintah berhasil menjaga daya beli masyarakat melalui berbagai kebijakan strategis, antara lain mempertahankan harga BBM bersubsidi, tarif listrik rumah tangga bersubsidi, dan harga LPG 3 kilogram di tengah lonjakan harga energi dunia akibat konflik geopolitik.
“Selama BBM subsidi tidak naik, LPG 3 kilogram tidak naik, dan tarif listrik rumah tangga bersubsidi tetap, tidak ada alasan masyarakat gelisah,” ujarnya.
Ia menambahkan, stabilitas tersebut tercermin dari perkembangan industri pusat perbelanjaan yang justru sedang menikmati pertumbuhan sangat kuat. Permintaan ruang usaha dari para tenant saat ini bahkan melampaui ketersediaan ruang di banyak mal.
“Sekarang justru kekurangan ruang. Permintaan untuk membuka toko lebih besar daripada pasokan ruang di pusat perbelanjaan modern. Ini masa emas bagi bisnis mal,” kata James.
Ekspansi Bisnis Lippo Group
Karena prospek industri yang positif tersebut, Lippo Group terus melakukan ekspansi. Saat ini grup tersebut mengelola 71 mal dan 35 shopping center, total 106 pusat perbelanjaan, yang tersebar di lebih dari 29 kota di Indonesia.
Menurut James, pangsa mal dan shopping center Lippo sekitar 25 persen dari total ruang ritel modern di Indonesia.
Jaringan Lippo Malls tersebar di seluruh Indonesia, mulai dari Jakarta, Bekasi, Bogor, Depok, Bandung, Tangerang, Yogyakarta, Surabaya, Malang, hingga Medan, Palembang, Bali, Manado, Kendari, dan berbagai kota lainnya.
Sejumlah mal ikonik yang dikelola antara lain Lippo Mall Kemang, Lippo Mall Puri, Plaza Semanggi, Lippo Mall Nusantara, Senayan Park (SPARK), Bandung Indah Plaza, Sun Plaza Medan, Palembang Icon, dan Lippo Mall Kuta.
“Kami terus membuka pusat perbelanjaan baru karena permintaan sangat tinggi. Kalau situasi tidak aman, tentu para tenant tidak akan berlomba membuka toko,” ujar James.
Menurut dia, fakta bahwa pengembang terus berekspansi dan tingkat permintaan ruang usaha masih sangat tinggi menunjukkan kepercayaan pelaku usaha terhadap prospek ekonomi Indonesia tetap kuat. Jika situasi tidak aman, tidak mungkin pengusaha mal melakukan ekspansi.
Alasan Pemasangan Pagar
James menegaskan, pemasangan pagar di beberapa lokasi hanyalah kasus yang bersifat terisolasi (isolated cases) dan tidak mencerminkan kondisi industri pusat perbelanjaan secara keseluruhan. Kebijakan tersebut sepenuhnya merupakan keputusan manajemen lokal, bukan arahan pemilik perusahaan.
“Itu hanya inisiatif manajemen lokal, bukan kebijakan pemilik ataupun kantor pusat. Bahkan setelah dikonfirmasi, pagar seperti itu memang tidak diperlukan,” tegasnya.
Sementara isu pagar mal, kata Alex, cukup ramai di media sosial. Tapi, dia sepakat, situasi saat ini masih aman, sehingga tidak diperlukan pagar.
Pakuwon Group merupakan salah satu pengembang dan pengelola pusat perbelanjaan terbesar di Indonesia dengan jaringan mal yang tersebar di berbagai kota besar, yakni Surabaya, Jakarta, Bekasi, Yogyakarta, dan Solo.
Di Surabaya, ada Pakuwon Mall Surabaya, Tunjungan Plaza, Pakuwon City Mall, Royal Plaza, dan Food Junction. Sedang di Jakarta, Pakuwon mengelola Kota Kasablanka, Gandaria City, dan Blok M Plaza.
Maruarar berharap penjelasan dari dua pemilik mal tersebut dapat mengakhiri spekulasi yang berkembang di masyarakat.
Menurut dia, langkah Lippo Group dan Pakuwon menjadi sinyal positif bahwa dunia usaha tetap optimistis terhadap stabilitas keamanan dan prospek ekonomi nasional.
“Yang harus dibangun adalah optimisme. Faktanya, situasi keamanan kondusif, aktivitas ekonomi berjalan normal, pusat-pusat perbelanjaan ramai dikunjungi, bahkan permintaan ruang usaha terus meningkat. Tidak ada alasan untuk membangun persepsi seolah-olah kondisi keamanan memburuk,” kata Maruarar.
Dengan demikian, baik Lippo Group maupun Pakuwon Group menegaskan bahwa pemasangan pagar di beberapa mal merupakan kebijakan operasional yang bersifat lokal dan tidak mencerminkan kondisi keamanan Indonesia.
Sebaliknya, stabilitas keamanan, daya beli masyarakat yang tetap terjaga, serta tingginya permintaan ruang usaha menunjukkan iklim investasi dan bisnis ritel modern nasional masih berada dalam tren yang sangat positif. (*)
Editor: Galih Pratama


