Poin Penting
- Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat net foreign sell sebesar Rp76,15 triliun secara ytd hingga 10 Juli 2026
- Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menilai arus keluar dana asing tidak lagi berkorelasi kuat dengan faktor politik domestik
- Net sell asing lebih dipengaruhi ketidakpastian global, seperti kebijakan tarif AS, konflik geopolitik, dan arah kebijakan The Fed.
Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat arus dana investor asing yang keluar dari pasar saham domestik atau net foreign sell mencapai Rp76,15 trilun secara year-to-date (ytd) hingga 10 Juli 2026.
Kondisi tersebut kerap dikaitkan dengan terpilihnya Prabowo Subianto sebagai Presiden Indonesia dalam kurun sekitar dua tahun terakhir.
Menanggapi hal itu, Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menilai korelasi antara derasnya arus dana asing keluar dari Indonesia dengan faktor politik saat ini semakin berkurang.
Menurutnya, hubungan yang kuat antara pergerakan pasar dan aktivitas politik lebih banyak terjadi pada era 1980-an dan merupakan kondisi yang lazim di negara dengan tingkat ekonomi serta demokrasi yang telah maju.
Baca juga: Deretan Saham Pendorong IHSG Sepekan, Ada BBRI, BBCA hingga DCII
“Seperti di Amerika Serikat (AS), aktivitas politik dengan kegiatan berinvestasi di pasar modal itu sudah hampir tidak ada kaitan langsung. Jadi kami melihat tren di Indonesia juga begitu dan itu sudah berlangsung cukup lama,” ujar Jeffrey kepada media di Jakarta, 13 Juli 2026.
Lebih lanjut, Jeffrey menjelaskan bahwa net sell investor asing saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh ketidakpastian global yang berlangsung dalam dua tahun terakhir.
“Kalau kita mengikuti sejak satu tahun lebih dengan keputusan resiprokal tarif yang diumumkan oleh pemerintah Amerika itu menimbulkan uncertainty yang sangat tinggi atas aktivitas ekonomi yang bisa saja berdampak besar terhadap pelaku-pelaku usaha di banyak negara,” imbuhnya.
Selain itu, perang di Timur Tengah serta konflik Rusia dan Ukraina juga menjadi pertimbangan investor karena memicu ketidakstabilan harga minyak.
Baca juga: Lewat IPO, RANS Fokus Kembangkan Perusahaan Media Jadi Intellectual Property
BEI menilai pergerakan pasar saat ini lebih dipengaruhi oleh dinamika global, mulai dari eskalasi dan deeskalasi konflik, pengumuman kebijakan Federal Reserve, hingga kebijakan pemerintah AS.
“Jadi dinamika-dinamika itu justru yang berdampak lebih langsung kepada pergerakan di pasar ketimbang hal-hal lain yang tadi disampaikan,” tutup Jeffrey. (*)
Editor: Galih Pratama


