Poin Penting
- Pemerintah terus memantau penutupan Selat Hormuz akibat eskalasi konflik AS-Iran yang berpotensi mengganggu perdagangan global
- Airlangga menyebut harga minyak dunia sangat bergantung pada kondisi Selat Hormuz dan akan terus diawasi pergerakannya
- Pemerintah belum memastikan adanya insentif tambahan meski risiko kenaikan harga minyak dan inflasi global meningkat.
Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah akan terus memantau perkembangan Selat Hormuz yang kembali ditutup setelah eskalasi perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat.
Penutupan jalur pelayaran utama bagi perdagangan yang memicu kekhawatiran melonjaknya kembali minyak dunia dan inflasi global.
“Ya kan kita monitor aja kan, setiap minggu up and down (naik turun),” ungkap Airlangga saat ditemui di Jakarta, Senin, 13 Juli 2026.
Baca juga: Airlangga Ungkap Pusat Finansial International Indonesia Bakal Dibangun di Bali
Selain itu, Airlangga juga terus memonitor gejolak harga minyak dunia akibat memanasnya kembali konflik tersebut. Menurutnya harga minyak tergantung pada kondisi di jalur pelayaran tersebut.
“Harga minyak tergantung selat,” jelasAirlangga.
Meski demikian, Airlangga belum bisa memastikan apakah terdapat insentif tambahan di tengah harga minyak dunia yang mengingkat.
Baca juga: Airlangga Klaim B50 Bisa Menghemat Devisa hingga Rp177 Triliun
Sebagaimana diketahui, AS melancarkan serangan ke Iran pada Minggu (12/07/2026) malam.
Operasi tersebut bertujuan untuk melamahkan kemampian Iran dalam menyerang kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. (*)
Editor: Galih Pratama


