Poin Penting
- Bank Aladin Syariah menilai transisi menuju era intelligent banking menghadirkan tantangan seperti cybercrime, fraud, deepfake, privasi data, dan kesiapan infrastruktur teknologi
- Kolaborasi regulator dan industri menjadi kunci menghadapi risiko digital. Bank Aladin mengandalkan AI-powered e-KYC, fraud detection, dan model open banking
- Kinerja Bank Aladin Syariah terus tumbuh, dengan laba bersih Rp38,3 miliar, aset Rp15,1 triliun, dan lebih dari 3,9 juta nasabah terdaftar hingga Kuartal II 2026.
Jakarta – Transformasi digital di sektor perbankan terus bergerak dinamis. Arah digital perbankan kini bergerak menuju Intelligent Banking seiring dengan semakin masifnya implementasi kecerdasan buatan (AI).
Menurut Presiden Direktur PT Bank Aladin Syariah Tbk, Koko Rachmadi, proses transisi menuju intelligent banking itu membawa sejumlah tantangan bagi industri perbankan. Mulai dari maraknya cybercrime (kejahatan siber), fraud (penipuan) & deepfake, privasi data, infrastruktur teknologi, hingga isu literasi dan keberlanjutan model bisnis.
Hal itu diungkapkan Koko dalam ajang tahunan the 2nd Riau Economic Forum (REF) 2026 yang diselenggarakan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Riau beberapa hari lalu.
“Kita optimis terhadap cerahnya masa depan perbankan digital di Indonesia, namun tetap waspada terhadap risikonya, serta terus memperdalam dan menguatkan kolaborasi, ” kata Koko seperti dikutip dari keterangan resmi, Kamis, 3 September 2026.
Baca juga: Bank Aladin Syariah Dorong Inklusi Syariah Lewat Ekosistem Digital
Adapun untuk menghadapi berbagai tantangan itu, Koko memaparkan sejumlah insight dan solusi yang sudah diterapkan Bank Aladin Syariah, yakni menggabungkan kapabilitas perbankan, AI, dan Fraud Intelligence (AI-powered e-KYC dan Fraud Detection System) guna melindungi nasabah.
Langkah itu diterapkan sejak proses onboarding hingga transaksi harian, serta bertransformasi dari pendekatan product-centric menjadi ecosystem-centric melalui model open banking.
“Masa depan perbankan digital membutuhkan solusi yang melampaui batas institusi, di mana kolaborasi erat antara regulator dan industri menjadi kunci utama agar inovasi dan regulasi terus berkembang secara beriringan,” paparnya.
Dalam konteks ini, pentingnya peran untuk mengorkestrasi industri yang terus berinovasi, regulator yang menciptakan ruang aman dan terpercaya, serta nasabah yang memegang kendali atas datanya demi membangun ekosistem perbankan berbasis AI yang terpercaya dan berfokus pada nasabah.
Oleh sebab itu, Koko menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menciptakan ekosistem pembayaran digital yang
aman dari ancaman cybercrime dan fraud, menjamin privasi data nasabah, serta memperluas jangkauan inklusi keuangan hingga ke seluruh pelosok daerah.
Digitalisasi Jadi Pilar Utama
Forum investasi itu juga menyoroti pentingnya digitalisasi. Sejalan dengan tema utama “Riau Tumbuh Solid dan Digitalisasi Terakselerasi”, forum ini mempertemukan para pemangku kepentingan untuk memperkuat sinergi dalam mendorong stabilitas dan pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan lewat penguatan ekosistem digital.
Topik “Prospek Perekonomian dan Akselerasi
Digitalisasi Sistem Pembayaran” menjadi ulasan mendalam di forum ini dan dinilai sebagai dua fondasi krusial bagi ketahanan ekonomi daerah. Integrasi sistem pembayaran berbasis digital dinilai bukan lagi menjafi
pelengkap, tapi pilar utama dalam menjaga stabilitas keuangan, meningkatkan inklusi finansial, serta mempercepat laju pertumbuhan ekonomi.
Baca juga: LPS Dorong Bank dan Deposan Besar Kurangi Penggunaan Special Rate
Kinerja Bank Aladin Syariah
Terlepas dari itu, dari sisi kinerja, Bank Aladin Syariah terua menunjukkan tren peningkatan. Perlusan ekosistem digital yang kuat berjalan beriringan dengn raihan kinerja positif dan solid Bank Aladin Syariah.
Hingga Kuartal II 2026, Bank Aladin Syariah berhasil mengantongi laba bersih sebesar Rp38,3 miliar, dengan total aset mencapai Rp15,1 triliun, serta melayani lebih dari
3,9 juta nasabah terdaftar.
Perolehan ini menjadi bukti konkret bahwa pendekatan perbankan digital berbasis syariah dan berfokus pada kekuatan ekosistem mampu menghasilkan pertumbuhan bisnis yang sehat, berdaya saing, dan dipercaya masyarakat. (*) Ari Astriawan


