Poin Penting
- BOPO industri modal ventura turun tipis menjadi 97,63 persen pada April 2026 dari 98,03 persen pada Maret 2026
- Tingginya BOPO dipicu pendapatan investasi yang tidak rutin, sementara biaya operasional tetap berjalan
- OJK mendorong efisiensi operasional, pengendalian biaya, dan peningkatan penagihan untuk menekan BOPO.
Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) di industri modal ventura masih berada di posisi tinggi sepanjang 2026. Meski begitu, terdapat perbaikan tipis pada April 2026 dibandingkan pada bulan sebelumnya.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, LKM, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman, membeberkan, pada April 2026, BOPO industri modal ventura tercatat sebesar 97,63 persen. Kondisi ini menunjukan perbaikan jika dibandingkan pada posisi Maret 2026 sebesar 98,03 persen.
“BOPO industri modal ventura pada April 2026 tercatat sebesar 97,63 persen, menunjukkan perbaikan dibandingkan Maret 2026 yang tercatat sebesar 98,03 persen,” ujar Agusman, dalam keterangannya, dikutip Senin, 8 Juni 2026.
Menurutnya, angka tersebut menunjukkan bahwa BOPO industri modal ventura masih bertahan di atas level 90 persen.
Baca juga: Sektor Perdagangan Masih Dominasi Pembiayaan Multifinance, Piutang Rumah Tangga Melesat
Sebelumnya, rasio BOPO tercatat sebesar 91,88 persen pada Januari 2026 dan melonjak ke level 93,45 persen pada Februari 2026.
Penyebab BOPO Modal Ventura Masih Tinggi
Agusman menyebut, tingginya BOPO tak terlepas dari karakteristik bisnis perusahaan modal ventura (PMV), khususnya yang menjalankan kegiatan usaha berbasis penyertaan modal atau Venture Capital Company (VCC).
Pada model bisnis tersebut, kata Agusman, pendapatan operasional tak melulu diperoleh secara rutin setiap bulan lantaran masih bergantung pada realisasi investasi dan kinerja perusahaan portofolio. Sementara itu, biaya operasional tetap harus dikeluarkan secara berkelanjutan.
“BOPO industri modal ventura masih berada di atas 90 persen, yang antara lain dipengaruhi oleh karakteristik kegiatan usaha PMV berbasis penyertaan modal (VCC), di mana pendapatan operasional tidak selalu tercatat secara rutin setiap bulan sementara beban operasional tetap berjalan,” bebernya.
Baca juga: OJK: Sektor Jasa Keuangan Tetap Terjaga di Tengah Tekanan Ekonomi Global
Atas kondisi ini, menjadikan rasio efisiensi industri modal ventura cenderung lebih tinggi dibanding sektor jasa keuangan lainnya yang memiliki arus pendapatan lebih stabil.
Strategi Tekan BOPO Modal Ventura
Agusman menilai, terdapat sejumlah langkah yang bisa dilakukan pelaku industri untuk meningkatkan efisiensi dan menekan rasio BOPO ke depan.
Pertama, perusahaan modal ventura perlu meningkatkan efisiensi operasional melalui optimalisasi proses bisnis dan pemanfaatan teknologi.
Kedua, penguatan dari sisi manajemen biaya agar pengeluaran operasional lebih terkendali tanpa mengganggu kualitas layanan serta pengembangan bisnis.
Ketiga, bagi perusahaan modal ventura yang menjalankan kegiatan pembiayaan berbasis utang atau Venture Debt Company (VDC), peningkatan efektivitas penagihan juga menjadi salah satu strategi dalam memperkuat pendapatan operasional.
“Peningkatan efektivitas penagihan khususnya bagi PMV yang menjalankan kegiatan pembiayaan berbasis utang (VDC) dengan tetap memperhatikan pelindungan konsumen,” tandasnya. (*)
Editor: Galih Pratama


