Poin Penting
- Bobot Indonesia di MSCI turun ke 0,57 persen, dari sebelumnya di atas 3 persen, sehingga berpotensi mengurangi aliran dana asing pasif
- Evaluasi MSCI Agustus 2026 berisiko mengeluarkan lebih banyak saham Indonesia dari indeks, yang dapat menekan arus modal asing
- Kapitalisasi saham Indonesi dalam indeks global turun dari USD113 miliar menjadi USD57 miliar, sehingga jumlah saham large cap dan mid cap di MSCI menyusut dari 18 menjadi 11.
Jakarta – Penurunan bobot Indonesia dalam indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) menjadi sorotan bagi pelaku pasar modal di Tanah Air. Kondisi ini berpotensi mengurangi aliran modal asing, terutama dari investor pasif (passive fund).
Deputy President Director Samuel Sekuritas Indonesia, Suria Dharma, membeberkan, bobot Indonesia di MSCI Emerging Markets kini hanya sekitar 0,57 persen. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan beberapa tahun lalu yang sempat berada di atas 3 persen.
“Bobot Indonesia itu sekarang tinggal 0,57 persen. Kalau kita lihat beberapa tahun lalu berada di atas 3 persen,” ujar Suria dalam acara berjajuk “Membedah Resiliensi dan Kredibilitas Ekonomi – Fiskal”, di Jakarta, Kamis, 9 Juli 2026.
Ia mengingatkan, apabila komposisi saham Indonesia kembali turun pada evaluasi MSCI berikutnya, dikhawatirkan porsi Indonesia di indeks global semakin menyusut.
“Saya sempat melakukan simulasi, banyak sekali saham yang kembali keluar pada evaluasi Agustus, bobot Indonesia bisa turun lagi. Ini menjadi hal yang serius,” jelasnya.
Baca juga: ”Penyiksaan” MSCI hingga November 2026 dan “Perjudian” Terakhir Pasar Modal Indonesia
Mengapa Bobot MSCI Penting?
Ia menjelaskan, bobot suatu negara dalam indeks MSCI mempunyai pengaruh besar terhadap aliran investasi global, utamanya dana kelolaan yang menggunakan strategi investasi pasif.
Berbeda dengan manajer investasi aktif yang bisa membeli dan menjual saham berdasarkan analisis masing-masing, passive fund justru mengikuti komposisi indeks secara otomatis.
“Jadi saham yang yang masuk ke situ (indeks MSCI), maka dana pasif akan ikut masuk. Sebaliknya, ketika saham keluar dari indeks, dana tersebut juga otomatis keluar,” bebernya.
Karena itu, kata Suria, banyak perusahaan terbuka berupaya memenuhi kriteria agar dapat masuk dalam indeks MSCI maupun FTSE Russell.
Baca juga: Rapor Sepekan: MSCI Pertahankan Status RI, Likuiditas Masih jadi Sorotan
Dirinya menilai, diperlukan kesepahaman visi antara pelaku pasar dan regulator agar semakin banyak emiten di Tanah Air bisa memenuhi persyaratan indeks global tersebut.
Kapitalisasi Saham Indonesia Menyusut
Selain bobot indeks, Suria juga menyoroti menyusutnya kapitalisasi pasar saham Indonesia yang menjadi salah satu faktor mengecilnya porsi Indonesia di MSCI.
Suria menyebut, total kapitalisasi saham yang menjadi bagian dari indeks global merosot dari sekitar USD113 miliar pada November 2025, menjadi sekitar USD57 miliar saat ini.
Akibatnya, jumlah saham di Indonesia yang masuk kategori large cap dan mid cap dalam indeks MSCI juga ikut menyusut.
“Penurunannya sangat signifikan dari 18 tinggal 11, dan Agustus ini mungkin berkurang lagi” imbuhnya.
Porsi Indonesia Terus Menurun
Suria pun menunjukkan tren bobot Indonesia di MSCI yang kian merosot dalam satu dekade terakhir.
Pada 2016, misalnya, porsi Indonesia di MSCI Emerging Markets masih bertengger di kisaran 3,5 persen.
Bobot tersebut sempat menanjak ketika beberapa emiten berkapitalisasi besar masuk ke dalam indeks. Namun, dalam beberapa tahun terakhir tren tersebut kembali melemah.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pasar modal di Tanah Air dalam menarik investasi asing jangka panjang.
Dirinya berharap, sejumlah pemangku kepentingan bisa mendorong peningkatan kualitas emiten domestik, likuiditas perdagangan, hingga kapitalisasi pasar agar semakin banyak perusahaan Indonesia memenuhi kriteria indeks global. (*)
Editor: Galih Pratama


