Poin Penting
- BNI membukukan laba bersih Rp10,8 triliun pada semester I 2026.
- Kredit tumbuh 24,4 persen secara tahunan menjadi Rp968,5 triliun.
- Pendapatan bunga bersih (NII) dan fee-based income sama-sama naik 14,2 persen.
Jakarta – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI pada semester I 2026 mencatatkan laba bersih sebesar Rp10,8 triliun.
Pertumbuhan laba tersebut ditopang oleh pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) tumbuh 14,2 persen yoy menjadi Rp22,3 triliun.
Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan perseroan terus memperkuat fundamental bisnis melalui strategi pertumbuhan yang berorientasi pada kualitas, penguatan bisnis inti, serta transformasi organisasi dan digital secara berkelanjutan.
“Di tengah perubahan lingkungan bisnis yang semakin dinamis, BNI mengarahkan sumber daya pada sektor dan ekosistem yang memiliki prospek pertumbuhan sehat. Pendekatan ini memungkinkan perseroan menjaga produktivitas aset sekaligus meningkatkan relevansi layanan bagi nasabah di setiap segmen,” ujar Putrama dalam keterangannya, Rabu, 5 Agustus 2026.
Baca juga: Kredit Tumbuh 24,4 Persen, BNI Kantongi Laba Rp1,08 Triliun di Semester I 2026
Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit BNI hingga semester I 2026 tumbuh 24,4 persen secara tahunan menjadi Rp968,5 triliun.
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh portofolio kredit yang semakin terdiversifikasi pada berbagai sektor ekonomi dan segmen bisnis utama, mulai dari korporasi, menengah, UMKM hingga konsumer.
“Ekspansi kredit dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan prospek industri serta profil risiko masing-masing debitur guna menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan kualitas portofolio,” katanya.
Baca juga: Jaga Stabilitas Harga, BNI Bakal Buyback Saham Rp627 Miliar
Strategi intermediasi tersebut berjalan seiring dengan penguatan struktur pendanaan. Di tengah persaingan likuiditas yang masih ketat, CASA BNI tumbuh 11,2 persen secara tahunan sehingga mampu mempertahankan rasio CASA pada level 65,4 persen.
Pencapaian tersebut mendukung efisiensi biaya dana, dimana cost of fund dana pihak ketiga (DPK) menjadi 2,56 persen, dibandingkan dengan 2,78 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kualitas Aset Membaik
Selanjutnya, kualitas aset BNI hingga akhir Juni 2026 membaik. Rasio kredit bermasalah atau loan at risk (LAR) membaik dari 11,0 persen menjadi 8,1 persen, sementara rasio non performing loan (NPL) berada pada level 1,9 persen.
Baca juga: BNI Perkuat Program Pencegahan Stunting pada Hari Anak Nasional
Sementara itu, pendapatan berbasis komisi atau fee-based income (FBI) meningkat 14,2 persen menjadi Rp9 triliun pada semester I 2026.
Putrama menyampaikan, memasuki paruh kedua 2026, BNI akan memperkuat struktur pendanaan, menjaga pertumbuhan kredit yang berkualitas dan terdiversifikasi, serta mempertahankan kualitas aset melalui pengelolaan risiko dan pencadangan yang disiplin. (*)
Editor: Yulian Saputra


