Poin Penting
- Kredit BNI naik 24,4 persen yoy menjadi Rp968,5 triliun, dengan LAR membaik ke 8,1 persen dan NPL terjaga di 1,9 persen
- Transformasi digital berlanjut, pengguna wondr by BNI mencapai 15,1 juta dengan volume transaksi melonjak 110 persen
- Laba bersih BNI tumbuh 6,5 persen yoy menjadi Rp10,8 triliun, ditopang kenaikan NII dan fee based income masing-masing 14,2 persen.
Jakarta – PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) membukukan kinerja fundamental yang solid di paruh pertama 2026. Hingga akhir Juni 2026, kredit BNI meningkat 24,4 persen year on year (yoy), atau menjadi Rp968,5 triliun.
Laju kredit juga dibarengi kualitas yang terjaga. Per Juni 2026, rasio loan at risk (LAR) terjaga di posisi 8,1 persen, membaik dari 11,0 persen di periode sebelumnya. Sedangkan rasi0 kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) berada di level 1,9 persen.
Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan mengungkapkan, pertumbuhan kredit yang sehat dan terdiversifikasi dengan baik, struktur pendanaan yang kuat, kualitas aset yang terjaga, serta transformasi bisnis yang berkelanjutan menjadi fondasi BNI menjaga pertumbuhan berkualitas dan berkelanjutan.
BNI juga disebut terus memperkuat fundamental bisnis lewat strategi pertumbuhan yang berorientasi pada kualitas, penguatan bisnis inti, serta transformasi organisasi dan digital secara berkelanjutan.
“Di tengah perubahan lingkungan bisnis yang semakin dinamis, BNI mengarahkan sumber daya pada sektor dan ekosistem yang memiliki prospek pertumbuhan sehat. Pendekatan ini memungkinkan perseroan menjaga produktivitas aset sekaligus meningkatkan relevansi layanan bagi nasabah di setiap segmen,” jelas Putrama, Rabu, 5 Agustus 2026.
Baca juga: BNI Tegaskan Kedatangan Siswa Bukan atas Arahan Petugas
Putrama menegaskan, arah pengembangan bisnis tersebut sejalan dengan agenda transformasi BUMN di bawah koordinasi Danantara Indonesia yang menitikberatkan pada penguatan fundamental perusahaan, penerapan tata kelola yang profesional, serta penciptaan nilai secara berkelanjutan.
Digitalisasi dan BRAVE Topang Pertumbuhan Bisnis
Transformasi digital dan penguatan jaringan menjadi salah satu strategi utama perseroan dalam memacu produktivitas bisnis. Per Juni 2026, pengguna wondr by BNI tercatat 15,1 juta users, dengan volume transaksi tumbuh 110 persen secara tahunan.
Lalu, di segmen wholesales, pengguna BNIdirect yang mencapai 280 ribu mencatatkan pertumbuhan volume transaksi 17 persen menjadi Rp6.039 triliun. Tren ini mencerminkan semakin luasnya pemanfaatan kanal digital. Baik oleh nasabah ritel maupun korporasi.
Sementara dari sisi jaringan, implementasi BRAVE atau Branch, Region & Area Value Empowerment sudah dilakukan di seluruh wilayah operasional. Langkah ini fungsi kantor cabang sebagai pusat penjualan, meningkatkan produktivitas jaringan, serta mengoptimalkan potensi bisnis di setiap daerah.
“Transformasi digital dan implementasi BRAVE merupakan bagian dari strategi jangka panjang BNI untuk membangun organisasi yang semakin lincah, memperkuat kapabilitas bisnis, serta menghadirkan layanan yang relevan dengan kebutuhan nasabah,” lanjut Putrama.
Kinerja Intermediasi Semakin Solid
Di paruh pertama 2026, BNI berhasil memacu fungsi intermediasi hingga tumbuh kuat dan berkualitas. Menurut Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena, kredit yang mencapai Rp968,5 triliun di akhir Juni 2026 juga semakin terdiversifikasi.
Semua segmen, mulai dari sektor ekonomi dan segmen bisnis utama, mulai dari korporasi, menengah, UMKM hingga konsumer mencatatkan pertumbuhan. Perseroan pun melakukan ekspansi kredit secara selektif, sehingga kualitas terjaga
Ekspansi bisnis juga ditopang struktur pendanaan yang kuat. Dana murah (CASA) tercatat tumbuh 11,2 persen. Rasio dana murah terhadap total dana pihak ketiga (DPK) pun terjaga di posisi 65,4 persen. Pencapaian ini mendukung efisiensi biaya dana. Cost of fund dana pihak ketiga membaik menjadi 2,56 persen, dibandingkan 2,78 persen di Juni 2025.
Struktur pendanaan yang kuat menjadi modal penting bagi BNI untuk menjaga daya saing sekaligus mendukung pertumbuhan kredit secara berkelanjutan.
Penguatan fundamental bisnis BNI juga tercermin pada peningkatan pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) yang tumbuh 14,2 persen, atau menjadi Rp22,3 triliun. Adapun pendapatan berbasis komisi (fee based income/FBI) juga naik 14,2 persen menjadi Rp9 triliun.
Kinerja dua sumber pendapatan itu mendorong laba operasional perseroan tembus Rp18,5 triliun, atau tertinggi sepanjang sejarah BNI untuk periode semester pertama. Adapun laba bersih tercatat sebesar Rp10,8 triliun, atau tumbuh 6,5 persen secara tahunan.
“Peningkatan pendapatan tidak hanya berasal dari ekspansi kredit, tetapi juga dari pertumbuhan transaksi, solusi cash management, layanan digital, serta aktivitas berbasis komisi lainnya. Diversifikasi sumber pendapatan ini penting untuk menjaga ketahanan profitabilitas BNI dalam berbagai kondisi siklus ekonomi,” papar Paolo.
Baca juga: Jaga Stabilitas Harga, BNI Bakal Buyback Saham Rp627 Miliar
Sementara, Direktur Risk Management BNI David Pirzada menambahkan, perseroan terus memperkuat manajemen risiko di semua tahapan proses bisnis untuk menjaga kualitas aset. Perseroan juga mempertahankan kebijakan pencadangan yang konservatif sebagai bagian dari disiplin manajemen risiko.
Dengan kebijakan itu, perseroan memperkuat ketahanan neraca sekaligus memberikan ruang untuk melanjutkan ekspansi bisnis yang sehat.
“Pengelolaan risiko dilakukan sejak tahap penetapan sektor prioritas, analisis kelayakan debitur, hingga pemantauan pascapenyaluran kredit. BNI juga terus memperkuat sistem peringatan dini agar setiap perubahan profil risiko dapat diidentifikasi dan ditangani secara lebih cepat,” jelas David.
Di paruh kedua 2026, perseroan akan memperkuat struktur funding, menjaga pertumbuhan kredit yang berkualitas dan terdiversifikasi, serta mempertahankan kualitas aset melalui pengelolaan risiko dan pencadangan yang disiplin. (*) Ari Astriawan


