Poin Penting
- Pure Battery Technologies berencana membangun fasilitas pCAM di Indonesia dengan investasi 350 juta dolar AS.
- Proyek ini akan melengkapi rantai pasok industri baterai nasional.
- BKPM menilai investasi tersebut memperkuat hilirisasi nikel dan ekosistem kendaraan listrik.
Jakarta – Indonesia kembali menarik minat investor asing di sektor hilirisasi mineral. Perusahaan teknologi pemrosesan material baterai asal Australia, Pure Battery Technologies (PBT), berencana menanamkan investasi sebesar 350 juta dolar AS untuk membangun fasilitas precursor Cathode Active Material (pCAM) di Indonesia.
Rencana investasi tersebut mengemuka dalam pertemuan antara Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Todotua Pasaribu dengan Chairman Pure Battery Technologies Stephen Wilmot di Kantor Indonesia Investment Promotion Center (IIPC) Sydney, Australia. Pertemuan itu turut dihadiri Direktur IIPC Sydney Leidy Surianingrat
Todotua mengatakan PBT berencana mengembangkan industri pCAM berbasis Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) yang dipasok dari fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) di dalam negeri.
Investasi tersebut menjadi bagian dari rencana jangka panjang perusahaan untuk membangun fasilitas produksi pCAM di Indonesia.
“Indonesia sudah memiliki HPAL dan akan segera memiliki manufaktur sel baterai. Mata rantai yang tersisa adalah pCAM dan katoda. Justru di sinilah investasi seperti Pure Battery Technologies menjadi krusial untuk melengkapi ekosistem baterai yang terintegrasi penuh,” ujar Todotua, seperti dikutip dari Antara.
Baca juga: Ekosistem Baterai Kendaraan Listrik Siap Diresmikan Akhir Juli 2026
Menurutnya, keberadaan fasilitas pCAM akan melengkapi rantai nilai industri baterai nasional, mulai dari nikel, MHP, pCAM, katoda, hingga produksi sel baterai. Dengan rantai pasok yang semakin lengkap, daya saing Indonesia sebagai pusat industri kendaraan listrik global juga diyakini akan semakin kuat.
Pemerintah Dorong Hilirisasi Bernilai Tambah
Pemerintah menilai investasi pada sektor pCAM memiliki nilai strategis karena mengisi mata rantai industri baterai yang selama ini belum tersedia di Indonesia, khususnya pada tahap midstream.
Selain memperkuat rantai pasok, pengembangan industri battery precursor juga dinilai mampu meningkatkan nilai tambah komoditas nikel di dalam negeri.
Saat ini, segmen tersebut masih belum dikembangkan di Indonesia, padahal merupakan salah satu tahapan dengan nilai ekonomi tertinggi dalam industri baterai.
Baca juga: Hilirisasi Sumbang 29,6 Persen Investasi, Nikel dan Luar Jawa Mendominasi
Direktur IIPC Sydney Leidy Surianingrat menegaskan pihaknya akan terus mendukung proses realisasi investasi Pure Battery Technologies, termasuk memfasilitasi koordinasi dengan pemerintah maupun calon mitra strategis.
“IIPC Sydney berkomitmen untuk terus memfasilitasi perjalanan investasi Pure Battery Technologies di Indonesia, dengan menghubungkan perusahaan ke pemangku kepentingan pemerintah dan mitra strategis yang relevan, serta mendukung langkah-langkah selanjutnya menuju realisasi proyek,” kata Leidy.
Adapun selain membahas rencana investasi, kedua belah pihak juga mendiskusikan pendirian badan hukum PBT di Indonesia, skema pembiayaan, opsi lokasi pembangunan fasilitas produksi, dan peluang kemitraan strategis di sektor pertambangan dan pengolahan nikel. (*)


