Poin Penting
- Bitcoin turun di bawah US$60.000, dengan sinyal bearish masih mendominasi pasar.
- Tekanan jual meningkat seiring lonjakan aliran Bitcoin ke bursa kripto.
- Bull run berikutnya dinilai bergantung pada masuknya modal institusional besar.
Jakarta – Harga Bitcoin kembali berada dalam tekanan setelah turun ke bawah level US$60.000. Meski sentimen pasar masih cenderung bearish, sejumlah analis menilai peluang bull run belum sepenuhnya berakhir. Menurut mereka, kebangkitan Bitcoin membutuhkan suntikan modal yang jauh lebih besar.
Jakarta – Perkembangan Bitcoin kembali menjadi perhatian pelaku pasar setelah gagal mempertahankan level psikologis USD60.000. Koreksi yang terjadi memicu kekhawatiran bahwa fase pelemahan masih akan berlanjut.
Meski demikian, sejumlah analis menilai kondisi saat ini belum menandai berakhirnya siklus bullish.
Ditengah volatilitas harga Bitcoin yang tinggi, maka banyak investor yang melirik harga USDT sekarang. Pasalnya USDT merupakan aset crypto yang memiliki nilai yang stabil, sehingga masih menjadi alat transaksi utama.
Selain itu, trader juga mengikuti perkembangan hyperliquid hari ini untuk melihat bagaimana aktivitas perdagangan derivatif mencerminkan ekspektasi pelaku pasar terhadap Bitcoin maupun altcoin.
Data dari pasar futures, likuidasi, hingga posisi terbuka (open interest) sering menjadi pelengkap analisis teknikal dan on-chain dalam menentukan potensi arah harga.
Baca juga: Dugaan Penipuan Kripto Berkedok Fatwa Halal MUI Rugikan Perusahaan Rp1,8 Miliar
Bitcoin Menutup Bulan dengan Sinyal Bearish
Analis pasar CryptoJelleNL mencatat Bitcoin membukukan penutupan candle bulanan terendah sejak Januari 2024, yang mengindikasikan sentimen bearish masih mendominasi.
Secara teknikal, Bitcoin kini menguji area support di kisaran USD58.000-USD60.000. Zona yang sebelumnya menjadi resistance tersebut kini menjadi level pertahanan utama. Selama harga bertahan di atas area itu, peluang pemulihan masih terbuka. Namun, jika support jebol, tekanan jual berpotensi semakin besar.
Tekanan juga tercermin dari data on-chain CryptoQuant. Analis CryptoQuant Axel Adler Jr. mencatat rata-rata aliran Bitcoin ke bursa kripto mencapai sekitar 122.000 BTC, naik dibandingkan sekitar 80.000 BTC saat koreksi pada Februari lalu.
Peningkatan exchange inflow umumnya dipandang sebagai sinyal bertambahnya potensi tekanan jual karena investor biasanya memindahkan aset ke bursa untuk diperdagangkan. Meski demikian, sebagian perpindahan juga dapat berasal dari kebutuhan operasional bursa maupun perpindahan antarwallet institusi.
Di sisi lain, CEO CryptoQuant Ki Young Ju menilai tantangan utama Bitcoin saat ini bukan lagi minimnya permintaan, melainkan semakin besarnya ukuran pasar. Menurutnya, kenaikan harga kini membutuhkan aliran modal yang jauh lebih besar dibandingkan siklus sebelumnya.
Pada siklus 2011, tambahan modal bersih sekitar USD2,7 miliar mampu mendorong harga Bitcoin naik lebih dari 55.000 persen.
Sementara pada siklus saat ini, tambahan realized capitalization sekitar US$697 miliar hanya menghasilkan kenaikan sekitar 689 persen.
Bull Run USD1 Triliun
Ki Young Ju memperkirakan bull run berikutnya baru akan terjadi apabila Bitcoin mampu menarik tambahan realized capitalization lebih dari USD1 triliun.
Menurutnya, dana sebesar itu kemungkinan tidak akan berasal dari investor ritel, melainkan dari perusahaan besar, dana pensiun, sovereign wealth fund, hingga institusi keuangan global.
Seiring berkembangnya adopsi ETF spot Bitcoin, akses investor institusi terhadap aset kripto semakin terbuka. Namun, partisipasi institusi dinilai masih berada pada tahap awal sehingga masih terdapat ruang bagi masuknya modal baru.
Baca juga: POJK Baru Bikin Influencer Kripto Tak Bisa Lagi Asal Promosi
Ki Young Ju juga menilai peluang pertumbuhan Bitcoin masih besar jika dibandingkan dengan emas yang memiliki kapitalisasi pasar sekitar USD27 triliun.
Dengan adopsi yang terus meningkat, Bitcoin dinilai berpotensi semakin diterima sebagai aset makro sekaligus instrumen lindung nilai terhadap inflasi.
Meski tekanan jual jangka pendek masih membayangi, peluang bull run dinilai belum sepenuhnya tertutup.
Namun, berbeda dengan siklus sebelumnya, reli berikutnya diperkirakan akan sangat bergantung pada masuknya modal institusional dalam skala besar. (*)


