Poin Penting
- BI Rate tetap 5,75 persen dinilai ekonom Ryan Kiryanto sebagai keputusan rasional untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan eksternal dan domestik yang masih tinggi
- Stability over growth masih menjadi prioritas BI. Penurunan suku bunga dinilai belum perlu dilakukan karena dampak kenaikan BI Rate sebelumnya terhadap rupiah masih membutuhkan waktu
- Higher for longer berpotensi berlanjut hingga akhir 2026, dengan BI tetap fokus menjaga rupiah dan mengarahkan inflasi menuju target 2,5% ±1%.
Jakarta – Keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75 persen dinilai sebagai langkah yang rasional dan tepat di tengah masih tingginya tekanan eksternal serta kondisi domestik yang belum sepenuhnya kondusif.
Praktisi Perbankan, Ekonom Senior, dan Associate Faculty LPPI Ryan Kiryanto menilai keputusan tersebut sesuai dengan ekspektasi sebagian besar ekonom dan analis. Menurutnya, BI masih perlu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang saat ini berada di kisaran Rp17.800 per dolar AS, meski telah menunjukkan perbaikan.
“Persis seperti sudah diperkirakan sebagian besar ekonom dan analis, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDGBI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate tetap di level 5,75 persen,” ujar Ryan kepada Infobanknews, 19 Agustus 2026.
Baca juga: Tok! BI Tahan Suku Bunga Acuan 5,75 Persen di Agustus 2026
Ia menilai, keputusan tersebut juga masih sejalan dengan kebijakan bank sentral negara maju seperti Bank of England (BoE), Bank of Japan (BoJ), European Central Bank (ECB), dan Federal Reserve (The Fed) yang pada pertemuan terakhir masih mempertahankan suku bunga acuannya.
Selain itu, dampak kenaikan BI Rate secara agresif pada Juni lalu dinilai belum sepenuhnya optimal dalam menopang stabilitas rupiah.
Karena itu, BI membutuhkan waktu lebih panjang untuk melihat efektivitas kebijakan tersebut, setidaknya hingga akhir 2026.
Menurut Ryan, persepsi positif pasar terhadap Indonesia juga belum sepenuhnya pulih. Kondisi tersebut dipengaruhi perkembangan domestik, termasuk aksi unjuk rasa serta polemik berbagai isu hukum dan politik. Outlook ekonomi Indonesia dari sejumlah lembaga pemeringkat internasional pun masih berada dalam posisi negatif.
“Jadi, motto ‘stability over growth’ masih sangat relevan untuk guidance policy BI dalam jangka pendek ini,” tegasnya.
Ryan menilai, kebijakan BI saat ini konsisten dengan upaya menjaga stabilitas rupiah agar tidak mengalami fluktuasi tajam sekaligus mengendalikan inflasi menuju sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen pada 2026.
Baca juga: BI Siapkan Jurus Jaga Rupiah dan Dorong Pertumbuhan Ekonomi di 2026
“Intinya, BI sebaiknya jangan tergesa-gesa melandaikan atau menurunkan BI Rate di saat situasi dan kondisi eksternal dan domestik belum kondusif,” jelas Ryan.
Dengan kondisi tersebut, stance higher for longer diperkirakan masih menjadi pilihan BI. Suku bunga acuan di level 5,75 persen berpotensi dipertahankan setidaknya hingga akhir 2026, sembari bank sentral mencermati perkembangan rupiah, inflasi, serta sentimen pasar global dan domestik. (*)


