Poin Penting
- Kaspersky menyoroti perkembangan AI yang membawa peluang sekaligus risiko baru bagi keamanan siber dan tata kelola digital di Indonesia
- Kesenjangan talenta siber masih menjadi tantangan global. Asia-Pasifik menyumbang 60 persen dari kesenjangan talenta siber dunia
- AI mempercepat kejahatan siber, mulai dari phishing hingga pengembangan malware. Kolaborasi akademisi, industri, dan pemerintah dinilai penting untuk memperkuat talenta digital.
Jakarta – Perusahaan keamanan siber Kaspersky menggelar Academic Partners Summit 2026 dengan mempertemukan pembuat kebijakan, praktisi keamanan siber, dan akademisi untuk membahas perkembangan kecerdasan buatan (AI), keamanan siber, serta dampaknya terhadap masyarakat.
Mengusung tema “AI, Security, and Society: What’s Next for Our Digital Future?”, forum tersebut membahas penerapan AI dalam keamanan siber. Hal ini menjadi semakin relevan karena Indonesia menjadi salah satu negara yang terdampak besar oleh perkembangan AI.
Transformasi digital membuka peluang inovasi ke tahap yang lebih jauh. Namun, di sisi lain, AI juga menghadirkan risiko keamanan siber dan tantangan tata kelola.
Dalam konteks ini, penilaian dan pengambilan keputusan manusia tetap menjadi faktor penting dalam menjaga keamanan siber.
Baca juga: Kerugian Fraud AI Tembus Rp9,1 Triliun, Komdigi Soroti Pentingnya Pertahanan Siber
Di tengah perkembangan tersebut, kesenjangan talenta keamanan siber masih menjadi persoalan global, terutama di kawasan Asia-Pasifik. Kawasan ini menyumbang 60 persen dari kesenjangan talenta siber dunia, sementara 95 persen tim keamanan masih mengalami kekurangan tenaga ahli.
Khusus di Asia Tenggara, sebanyak 65 persen pekerjaan keamanan siber mensyaratkan pengalaman kerja tiga tahun atau kurang. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya jalur yang lebih terbuka bagi talenta yang baru memulai karier di bidang keamanan siber.
Menurut Evgeniya Russkikh, Head of Cybersecurity Education & Academic Affairs Kaspersky, mempersiapkan generasi profesional keamanan siber berikutnya membutuhkan lebih dari sekadar keterampilan teknis.
“Talenta digital ini menuntut pemikiran kritis, pengambilan keputusan yang etis, dan kemampuan untuk memahami dampak teknologi yang lebih luas terhadap masyarakat,” ujar Evgeniya pada Rabu, 19 Agustus 2026.
Pemahaman terhadap malware berbasis AI juga semakin krusial. Kehadiran AI memangkas biaya operasional pelaku kejahatan siber sekaligus memperluas penggunaannya, mulai dari phishing, deepfake, pengembangan malware, pengumpulan intelijen sumber terbuka, hingga otomatisasi operasi siber.
Sejak 2022, AI mulai digunakan sebagai asisten untuk pengembangan malware. Memasuki 2025, AI mulai terintegrasi dalam alur pengembangan malware yang lebih luas dan berpotensi berkembang menuju malware agentic yang mampu beroperasi secara otonom.
“AI mengubah aspek ekonomi dan kecepatan kejahatan siber. Teknologi ini tidak hanya membantu penyerang menulis kode lebih cepat, tetapi juga semakin mendukung tahapan operasi ofensif lainnya,” kata Ahmad Fareed Fauzi Mohamad Radzi, Peneliti Keamanan di Global Research and Analysis Team (GReAT) Kaspersky.
Untuk itu, kolaborasi antara akademisi, industri, dan sektor publik dinilai semakin penting. Kolaborasi tersebut diperlukan untuk membangun sumber daya manusia (SDM) yang mampu menopang masa depan digital yang tangguh.
Ridi Ferdiana, Direktur Direktorat Teknologi Informasi Universitas Gadjah Mada, menyadari bahwa AI kini menjadi kekuatan strategis yang dapat memengaruhi ekonomi, ketahanan nasional, dan keamanan Indonesia.
Baca juga: Pendiri OpenAI Greg Brockman Peringatkan Ancaman Keamanan Siber Makin Canggih
Ia menegaskan, pengembangan kapabilitas AI perlu ditopang inovasi, tata kelola, kepercayaan publik, serta talenta dan ketahanan manusia untuk menjaga kepentingan jangka panjang bangsa.
“Dan saya sangat meyakini pentingnya berpikir kritis, ko-kreativitas dengan AI, kolaborasi terbuka, komunikasi yang baik, serta sikap yang tepat terhadap keamanan siber,” tegasnya.
Melalui Academic Partners Summit 2026 Jakarta, Kaspersky mendorong dialog antara akademisi, praktisi keamanan siber, pembuat kebijakan, dan pemangku kepentingan terkait untuk memperkuat pemahaman terhadap peluang sekaligus tantangan AI di tengah perkembangan ekosistem digital. (*) Mohammad Adrianto Sukarso


