Poin Penting
- BI mengarahkan kebijakan hingga akhir 2026 untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus tetap mendukung pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global
- Destry Damayanti menilai tekanan global masih tinggi akibat perang Timur Tengah, kenaikan harga minyak, serta potensi suku bunga global bertahan tinggi lebih lama
- BI memperkuat insentif valas untuk mendorong aliran dana masuk. Hingga Agustus 2026, inflow telah mencapai USD1,8 miliar, sementara stabilitas rupiah tetap menjadi prioritas.
Jakarta – Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyampaikan arah kebijakan bank sentral hingga akhir 2026 akan difokuskan pada upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.
Destry menjelaskan, arah kebijakan tersebut ditetapkan berdasarkan asesmen Bank Indonesia terhadap prospek perekonomian global dan domestik.
Dari sisi global, perekonomian masih menghadapi ketidakpastian yang diperkirakan berlangsung cukup lama. Kondisi tersebut dipengaruhi berlanjutnya intensitas perang di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dan sejumlah komoditas dunia lainnya. Situasi ini berpotensi menciptakan kondisi higher for longer atau suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama.
“Di situ kita akan menghadapi tekanan-tekanan yang tinggi untuk sektor dan pasar keuangan global. Akan tercermin dengan suku bunga Fed Fund Rate yang akan cenderung tetap bertahan tinggi karena ada tekanan inflasi dan peningkatan harga minyak,” kata Destry dalam RDG BI, Rabu, 19 Agustus 2026.
Baca juga: Ekonomi Global 2026 Diproyeksi Masih Lemah, BI Beberkan Pemicunya
Kondisi tersebut juga mendorong sejumlah negara meningkatkan suplai untuk membiayai defisit anggaran. Hal ini berpotensi membuat bond yield maupun interest rate atau tingkat bunga tetap berada pada level tinggi.
“Itu juga yang menyebabkan kenapa di DXY (indeks dolar AS) juga kita perkirakan akan tetap berada dalam posisi yang kuat. Tentunya ini akan memberikan dampak kepada perekonomian kita, oleh karena itu kenapa di perekonomian kita masih mengedepankan stabilitas pada saat ini, karena memang kita melihat tekanan itu belum mereda,” ucapnya.
Meski demikian, Destry menegaskan BI tetap berupaya menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan ekonomi sebagai bagian dari mandat bank sentral.
“Dan beberapa hal juga yang kami lakukan di sini, kita kan juga coba balance, jadi even kita mempertahankan stabilitas, tapi juga pertumbuhan itu juga menjadi mandat kita, sehingga kita menciptakanlah suatu kebijakan-kebijakan yang inovatif,” tambahnya.
Lebih lanjut, Destry menyampaikan meski BI mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen dalam dua bulan terakhir, bank sentral tetap menerbitkan sejumlah kebijakan dan instrumen untuk menjaga stabilitas rupiah.
BI menaikkan insentif Swap Jual Lindung Nilai menjadi 12,5 persen dan memberikan insentif DNDF Jual Lindung Nilai sebesar 15 persen. Insentif juga diberikan untuk meningkatkan Local Currency Transaction (LCT) dengan negara mitra melalui premi Swap Beli Lindung Nilai sebesar 10 persen serta pengurangan premi DNDF Jual Lindung Nilai sebesar 10 persen.
“Untuk nilai tukar, kita mengeluarkan beberapa insentif, khususnya untuk mensupport dana inflow yang akan masuk ke Indonesia, karena tentunya kita tidak ingin SRBI rate kita ini mengalami peningkatan, sehingga dalam 2 minggu terakhir ini suku bunga SRBI atau yield SRBI terus mengalami penurunan, namun demikian inflow tetap masuk. Inflow di bulan Agustus saja sudah masuk sebesar USD1,8 miliar,” jelasnya.
Baca juga: Tok! BI Tahan Suku Bunga Acuan 5,75 Persen di Agustus 2026
Sementara dari sisi inflasi, BI terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah serta Tim Pengendali Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP/D). Upaya tersebut juga diperkuat melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).
“Karena tentunya kita juga memperhatikan dampak rambatan dari imported inflation, yang menjadi perhatian kami untuk bisa kita batasi dampaknya yaitu dengan kita mempertahankan stabilitas rupiah, dan juga kita usahakan dengan tren yang terus mengalami apresiasi,” tukasnya. (*)
Editor: Galih Pratama


