Poin Penting
- BI memproyeksikan penyaluran kredit baru tetap tumbuh pada kuartal III 2026, tetapi melambat dengan SBT 84,65 persen.
- Kredit Modal Kerja diperkirakan menjadi prioritas utama, disusul Kredit Investasi dan Kredit Konsumsi.
- Standar penyaluran kredit diproyeksikan lebih longgar, sementara pertumbuhan DPK tetap terjaga.
Jakarta – Bank Indonesia (BI) melaporkan penyaluran kredit baru pada kuartal III 2026 diprakirakan tetap tumbuh, meski melambat. Hal tersebut tecermin dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 84,65 persen, lebih rendah dibandingkan 93,08 persen pada kuartal sebelumnya.
Berdasarkan data Survei Perbankan Kuartal II 2026 yang diterbitkan BI, prioritas utama responden dalam penyaluran kredit baru pada kuartal III 2026 diprakirakan masih sama dengan periode sebelumnya. Kredit Modal Kerja menjadi prioritas utama, diikuti Kredit Investasi dan Kredit Konsumsi.
Sementara itu, pada segmen Kredit Konsumsi, Kredit Multiguna diprakirakan menjadi prioritas utama, disusul Kredit Pemilikan Rumah/Kredit Pemilikan Apartemen (KPR/KPA) dan Kredit Kendaraan Bermotor.
Baca juga: BI: Penyaluran Kredit Baru pada Kuartal II 2026 Meningkat
Berdasarkan sektor ekonomi, penyaluran kredit baru pada kuartal III 2026 diprakirakan terbesar pada sektor Industri Pengolahan, Perdagangan Besar dan Eceran, serta Perantara Keuangan.
Di sisi lain, kebijakan standar penyaluran kredit pada kuartal III 2026 diprakirakan lebih longgar dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Hal ini terindikasi dari Indeks Lending Standard (ILS) kuartal III 2026 yang bernilai negatif sebesar 2,25.
Adapun standar penyaluran kredit yang longgar tersebut didorong oleh Kredit Investasi, KPR/KPA, Kredit Modal Kerja, dan Kredit Konsumsi Lainnya. Kebijakan penyaluran kredit diprakirakan lebih longgar terutama pada aspek plafon kredit dan agunan.
Penghimpunan DPK Tetap Tumbuh
Sementara itu, secara kumulatif atau year to date (ytd), penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) hingga kuartal III 2026 diprakirakan tetap tumbuh. Hal tersebut tecermin dari SBT sebesar 87,52 persen, relatif stabil dibandingkan kuartal yang sama tahun sebelumnya sebesar 88,22 persen.
Baca juga: OJK Catat 18 Pindar Punya Kredit Macet (TWP90) di Atas 5 Persen
Berdasarkan jenisnya, pada kuartal III 2026, instrumen tabungan dan giro diprakirakan tumbuh lebih tinggi dengan nilai SBT masing-masing sebesar 87,08 persen dan 76,38 persen, lebih tinggi dibandingkan SBT pada kuartal III 2025.
Sementara itu, instrumen deposito diprakirakan tetap tumbuh dengan nilai SBT sebesar 40,97 persen meski lebih rendah dibandingkan kuartal III 2025 dengan SBT sebesar 58,75 persen. (*)
Editor: Yulian Saputra


