Jakarta–Kendati laju inflasi di sepanjang 2016 tercatat sebesar 3,02 persen secara setahunan (yoy), atau terendah sejak 2010, namun Bank Indonesia (BI) menilai, pengendalian inflasi di 2017 menghadapi beberapa tantangan, baik berasal dari eksternal maupun domestik, yang perlu diwaspadai dan dimitigasi sejak dini.
Gubernur BI Agus D.W. Martowardojo mengungkapkan, tantangan dari eksternal terutama terkait dengan kenaikan harga komoditas global. Untuk tantangan domestik berasal dari kelanjutan kebijakan reformasi subsidi energi yang lebih tepat sasaran yaitu berupa penyesuaian harga untuk pelanggan listrik dengan daya 900 VA, dan penyesuaian harga jual BBM sesuai dengan kenaikan harga minyak dunia.
“Meski demikian, kebijakan reformasi tersebut perlu didukung untuk mewujudkan aspek pemerataan dan menciptakan keuangan negara yang lebih sehat,” ujar Agus Marto di Gedung BI, Jakarta, Rabu, 25 Januari 2017. (Bersambung ke halaman berikutnya)
Sementara itu, Pemerintah dan Bank Sentral juga menyepakati sasaran inflasi 2019, 2020 dan 2021 yang masing-masing sebesar 3,5% plus minus 1%, 3% plus minus 1%, dan 3% plus minus 1%. Menurut Agus, sasaran inflasi yang lebih rendah tersebut ditetapkan dengan mempertimbangkan prospek dan daya saing perekonomian saat ini.
Selain itu, kata dia, penetapan sasaran inflasi tersebut juga bertujuan untuk terus mengarahkan ekspektasi inflasi pada tingkat yang rendah dan stabil.
(Baca juga: Inflasi Stabil, Redenominasi Bisa Dilakukan di 2019)
“Ke depan, Pemerintah dan BI berkomitmen untuk terus memperkuat koordinasi, terutama dalam hal penentuan besaran dan timing kebijakan energi, pengendalian dampak lanjutan (second round effect), dan penguatan kebijakan pangan untuk menekan inflasi Volatile Food menjadi di kisaran 4-5%,” ucapnya. (*)
Editor: Paulus Yoga


