Poin Penting
- Rupiah menguat 0,84 persen pasca kenaikan BI Rate menjadi 5,50 persen.
- Aliran modal asing meningkat pada instrumen SRBI, SBN, dan obligasi internasional Danantara.
- BI meyakini rupiah akan terus bergerak menuju level fundamentalnya didukung sinergi kebijakan dan pemerintah.
Jakarta – Bank Indonesia (BI) optimistis nilai tukar rupiah akan terus bergerak menguat menuju level fundamentalnya. Penguatan mata uang Garuda dinilai mencerminkan respons positif pasar terhadap bauran kebijakan moneter yang ditempuh bank sentral.
Pada perdagangan Jumat (12/6), rupiah ditutup di level Rp17.865/75 per dolar Amerika Serikat (AS), menguat 0,84 persen dibandingkan posisi penutupan 5 Juni 2026 yang berada di level Rp18.010/20 per dolar AS.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengatakan berbagai kebijakan yang ditempuh BI berhasil meningkatkan kepercayaan pelaku pasar.
Kebijakan tersebut meliputi kenaikan BI Rate menjadi 5,50 persen, penguatan struktur suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), pemberian insentif hedging swap bagi investor asing, pembukaan akses repo untuk mendukung likuiditas perbankan, serta peningkatan intensitas operasi moneter rupiah dan valuta asing.
“Langkah-langkah tersebut juga didukung oleh sinergi yang erat antara Bank Indonesia dan pemerintah,” kata Destry dalam keterangannya, Jumat, 12 Juni 2026.
Arus Modal Asing Mengalir Masuk
Menurut Destry, pascakenaikan BI Rate, arus modal asing menunjukkan perkembangan positif seiring meningkatnya daya tarik instrumen keuangan domestik.
Hal itu tecermin dari peningkatan aliran dana asing pada transaksi SRBI dan Surat Berharga Negara (SBN). Pada 10 dan 11 Juni 2026, inflow nonresiden pada SRBI dan SBN masing-masing tercatat sebesar Rp15,11 triliun dan Rp3,91 triliun.
“Aliran masuk modal asing juga terjadi pada obligasi internasional Danantara yang penjualan perdananya berhasil mencapai Rp26,9 triliun. Perkembangan ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap aset-aset domestik,” tambahnya.
Kerja Sama Regional Perkuat Stabilitas Rupiah
Selain didukung masuknya modal asing, ketahanan eksternal Indonesia juga diperkuat melalui kerja sama keuangan antara Bank Indonesia, People’s Bank of China (PBOC), dan Hong Kong Monetary Authority (HKMA).
Kerja sama tersebut menghasilkan tiga kesepakatan utama, yakni sinergi memperkuat tidak hanya ketahanan keuangan masing-masing negara melainkan stabilitas keuangan yang regional yang lebih luas, penguatan Bilateral Currency Swap Agrrement (BCSA), serta penguatan komitmen penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral melalui perluasan Local Currency Transaction (LCT).
“Langkah tersebut akan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah,” tegas Destry.
Dia memastikan Bank Indonesia akan terus hadir di pasar, mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan secara konsisten dan terukur, serta memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkuat ketahanan eksternal perekonomian Indonesia.
“Dengan berbagai perkembangan diatas, diyakini rupiah akan terus menguat terhadap dolar AS menuju ke level fundamentalnya,” tandasnya. (*)
Editor: Yulian Saputra


