Poin Penting
- BI luncurkan Program Transformasi UMKM Terpadu 2026 untuk memperkuat ekonomi kerakyatan dan menciptakan lapangan kerja
- Program UMKM BI mengusung tiga tahap, yakni pelatihan, sertifikasi, evaluasi, hingga akses permodalan
- BI menargetkan lahirnya lebih banyak UMKM dan pesantren mandiri melalui program kewirausahaan terpadu.
Jakarta – Bank Indonesia (BI) hari ini, Senin (22/6) resmi menyelenggarakan Kick Off Program Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu Tahun 2026. Kegiatan yang dihadiri secara fisik oleh 500 peserta dari UMKM dan pesantren serta 1.500 di seluruh 46 kantor BI di seluruh Indonesia secara virtual itu, dirancang untuk penciptaan lapangan kerja dan ekonomi rakyat di Indonesia lebih luas melalui entrepreneurship.
“Inilah komitmen BI, pemerintah, dan mitra strategis BI untuk UMKM yang adalah pilar penting pertumbuhan ekonomi. Lewat pelatihan kewirausahaan terpadu, serta pendirian UMKM sekaligus untuk penciptaan lapangan kerja dan ekonomi kerakyatan,” ujar Perry Warjiyo, Gubernur BI, saat membuka acara kick off di Kantor BI Jakarta, Senin, 22 Juni 2026.
Dalam acara kick off yang juga dihadiri perwakilan Kementerian Agama, Kemenko Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat, serta Kementerian UMKM ini, Perry menegaskan jika UMKM di Indonesia yang berjumlah 65 juta lebih UMKM tersebut sangat berperan vital dalam memperkuat ekonomi domestik di tengah gejolak perekonomian global.
“Maka dari itu, mari kita jadikan program ini sebagai bagian penting dari Asta Cita untuk ekonomi kerakyatan,” tekan Perry.
Baca juga: Daya Beli Tertekan, Kadin Dorong UMKM Naik Kelas ke Global Value Chain
Tujuan Kick Off Program Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu
Lebih lanjut Perry menerangkan bahwa Kick Off Program Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu Tahun 2026 ini bertujuan memperluas dampak dari program-program pemberdayaan dan pengembangan UMKM yang dicetuskan BI bersama kementerian/lembaga terkait lainnya selama ini.
BI lewat 46 kantor cabang di seluruh Indonesia dan kementerian/lembaga lainnya telah membina lebih dari 3.000 UMKM yang terdiri dari berbagai produk, mulai dari tekstil seperti wasra, kopi, beras, cabai, hingga keripik singkong.
Sementara dari sisi pesantren, BI sudah membina sebanyak 36.000 pesantren dengan 1.500 di antaranya sudah mandiri secara ekonomi lewat program pemberdayaan UMKM, yang terdiri dari produk air kemasan, peternakan seperti green farming, hingga ekonomi kreatif. Bahkan, pemberdayaan ini turut menciptakan Asosiasi Bisnis Pesantren.
“Tapi yang harus kita lakukan adalah bagaimana impactnya, dampaknya, itu semakin luas. Itulah kick-off yang hari ini kita lakukan,” ucap Perry.
Fokus Tiga Tahap Pembinaan
Program Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu Tahun 2026 akan terdiri atas tiga tahap. Tahap pertama, yakni pendidikan yang menyediakan sertifikasi.
“Wirausaha itu ada 2 aspek. Ada kemampuan teknis dan kemampuan bisnis. Keduannya dalam 2 setengah bulan, anda semua akan dididik. Dan bila lulus, kami akan berikan sertifikasi. Setelah sertifikasi, baru uji coba magang (sandboxing),” jelas Perry.
Tahap kedua, para UMKM binaan akan menjalani proses evaluasi untuk menilai kembali kemampuan teknis pembuatan produk maupun kapasitas berbisnis. Setelah lulus tahap kedua (evaluasi), para UMKM binaan baru akan diberikan modal untuk menjalankan bisnisnya.
“Jadi, betul-betul inilah bedanya. Kenapa ini beda, tahun ini beda. Karena, transformasinya terpadu,” sebutnya.
Tak cukup sampai di tiga tahapan tersebut, pihaknya juga akan memilih empat model bisnis UMKM yang dinilai memiliki dampak sangat luas dan cepat di masyarakat, untuk dijadikan mentor bagi UMKM-UMKM binaan lainnya.
Mentor-mentor yang terpilih akan melatih UMKM di program Cangkir Barista (UMKM kopi). Program Cangkir Barista sendiri dirancang untuk memaksimalkan lagi potensi bisnis dan produksi kopi di Indonesia. Mengingat, potensi pendapatannya yang mencapai USD12,5 miliar, dengan pertumbuhan gerai mencapai 23,9 persen per tahun.
Baca juga: Menteri Maman Minta Kredit UMKM Rp1.500 Triliun Dukung Swasembada dan MBG
Perry juga menyebutkan, pihaknya menargetkan untuk membantu memberikan sertifikasi internasional 400 barista per tahun lewat program UMKM terpadu tersebut. Tumbuh empat kali lipat dari yang sudah ada.
Selain itu, ia juga meminta para UMKM yang sudah berhasil mengikuti tahapan UMKM terpadu untuk mengambil biji kopi dari petani lokal terbaik, seraya turut memberikan pelatihan kepada para petani lokal.
Sementara untuk bisnis wastra, pihaknya menargetkan pengembangan 50 inovasi baru di 2026 dari 500 peserta UMKM yang sudah terpilih lewat kerja sama dengan asosiasi desainer pusat dan daerah.
Targetkan 200 Pesantren
Sedangkan untuk program pemberdayaan ekonomi pesantren, pihaknya menargetkan 200 pesantren berhasil menjalankan bisnisnya lewat program Air Berkah Indonesia yang adalah program untuk mengembangkan bisnis air minum kemasan bagi pesantren.
Selanjutnya untuk sektor pertanian, pihaknya menargetkan 110 pesantren mencapai kemandirian ekonomi lewat program Tani Berkah di tahun ini.
“Tahun depan (target Tani Berkah) 50 (pesantren) lah. Tahun berikutnya 100 lah. Supaya lebih banyak, sepanjang pondok pesantren ada menyediakan lahannya. Kurang lebih 500 meter persegi itu sudah bisa di berbagai daerah, termasuk Jakarta,” tandasnya. (*) Steven Widjaja


