Ketiga, selain itu, pemerintah hendaknya memikirkan dampak negatif KUR dengan suku bunga rendah 9% pada 2016 yang segera turun menjadi 7% pada 2017 bagi eksistensi ribuan bank perkreditan rakyat (BPR), tepatnya 1.831 bank, dengan 6.081 kantor di seluruh Indonesia pada Oktober 2016.
(Baca juga: Besarnya Potensi Ekonomi Kreatif Dorong Ekonomi RI)
Jangan lupa, cepat atau lambat, KUR akan menjadi saingan berat—untuk tidak mengatakan akan membuat BPR mati suri—ke depan. Kok bisa? Sebab, selama ini (per Oktober 2016) BPR rajin menggarap kredit mikro dengan suku bunga rata-rata kredit 26,28%, dengan rincian 28,52% untuk kredit modal kerja, 25,40% untuk kredit investasi, dan 24,91% untuk kredit konsumsi.
Sekitar empat tahun lalu pemerintah mengatakan akan menurunkan suku bunga kredit mikro, tapi hingga saat ini belum terwujud. Padahal, penurunan itu bermanfaat untuk menjembatani jurang atau selisih suku bunga KUR dengan suku bunga kredit mikro. Alhasil, KUR tetap berjalan berdampingan dengan BPR sebagai salah satu pilar untuk membangun ekonomi rakyat. (*)
Penulis adalah pengamat perbankan
Poin Penting Bank Jambi dan SMF bekerja sama senilai Rp200 miliar untuk memperkuat likuiditas KPR.… Read More
Poin Penting Indonesia dan Korea Selatan meneken kerja sama investasi senilai Rp173 triliun, hasil kunjungan… Read More
Poin Penting Tambahan likuiditas pemerintah memperkuat penyaluran kredit BRI, terutama ke sektor UMKM. BRI tetap… Read More
Poin Penting Budi Herawan kembali terpilih sebagai Ketua AAUI periode 2026–2030 melalui aklamasi, mencerminkan kepercayaan… Read More
Poin Penting DSSA mengintegrasikan bisnis energi berkelanjutan dan infrastruktur digital sebagai mesin pertumbuhan jangka panjang,… Read More
Poin Penting IHSG turun 2,19% ke 7.026, dengan 530 saham melemah. Mayoritas sektor terkoreksi, dipimpin… Read More