Poin Penting
- Realisasi belanja negara kuartal I 2026 mencapai Rp815 triliun atau 21,2 persen dari pagu APBN, tumbuh tinggi 31,4 persen (yoy) dibanding periode sama tahun lalu.
- Pemerintah mempercepat pola belanja agar lebih merata tiap kuartal, tidak lagi menumpuk di akhir tahun, guna mendorong pertumbuhan ekonomi lebih cepat.
- Percepatan belanja mendorong konsumsi masyarakat dan sektor ritel, meski ekspektasi ekonomi sempat melemah pada Maret 2026 akibat faktor global seperti konflik Timur Tengah.
Jakarta – Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mencatat realisasi belanja negara hingga kuartal I 2026 mencapai Rp815 triliun atau 21,2 persen terhadap pagu APBN 2026.
Angka tersebut mengalami kenaikan 31,4 persen secara tahunan (year on year/yoy), dibandingkan tahun lalu pada periode sama yang pada saat itu tumbuh 1,4 persen atau senilai Rp620,3 triliun atau 17,1 persen terhadap pagu APBN 2025.
“Di situ belanja (APBN) tumbuhnya sangat tinggi sekali, yaitu 31,4 persen year on year,” kata Juda dalam Kick Off Percepatan Intermediasi Nasional (PINISI), Senin, 27 April 2026.
Baca juga: Masyarakat Kelas Menengah Makin Selektif Belanja Meski Daya Beli Terjaga, Ini Buktinya
Juda menjelaskan, belanja negara pada tahun ini lebih cepat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Hal itu disebabkan pemerintah ingin mengubah pola belanja yang sebelumnya menumpuk di kuartal IV, namun mulai tahun ini akan dibuat merata di setiap kuartal.
“Di kuartal I (belanja negara) 21 persen (dari PDB), di kuartal II targetnya 26 persen, kuartal III dan IV juga 26 persen. Jadi ini memang tujuannya agar pertumbuhan ekonomi itu merata cepat dan terjadi di tahun yang sama,” ungkapnya.
Juda menyatakan upaya pemerintah dalam mendorong percepatan belanja pun mulai terlihat hasilnya. Konsumsi masyarakat dalam tren yang meningkat.
Berdasarkan data Mandiri Spending index (MSI), di sektor consumer goods dan elektronik masih mengalami kenaikan.
Baca juga: Purbaya Ancam Stop Anggaran Kementerian/Lembaga dan Pemda yang Lambat Belanja
Begitu juga keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi tetap kuat yang terjadi sejak kuartal IV 2025, meski pada Maret 2026 mengalami pelemahan utamanya pada ekspektasi terhadap kondisi ekonomi ke depan.
“Memang di bulan Maret ada sedikit pelemahan, terutama di dalam melihat ekspektasi kondisi ekonomi ke depan, itu ada pelemahan, tentu saja ini saya kira dampak dari perang di Timur Tengah,” pungkas Juda. (*)
Editor: Galih Pratama








