Poin Penting
- BEI akan kedatangan empat emiten baru pada awal Juli 2026 melalui IPO.
- Tiga calon emiten berasal dari sektor kesehatan, yakni PRDL, EMMI, dan JECX.
- Total potensi dana yang dihimpun dari empat IPO tersebut mencapai lebih dari Rp1,4 triliun.
Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akan kedatangan empat perusahaan tercatat baru yang dijadwalkan melantai di BEI pada awal Juli 2026 melalui aksi korporasi Penawaran Umum Perdana Saham atau Initial Public Offering (IPO).
Diketahui, dari empat calon emiten tersebut, tiga di antaranya berasal dari sektor kesehatan, yakni PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL), PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI), dan PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX).
Sementara satu emiten lainnya berasal dari sektor konsumer nonsiklikal, yaitu PT Niramas Utama Tbk (JELI), perusahaan yang bergerak di industri makanan.
Baca juga: Terpilih jadi Dirut BEI, Jeffrey Hendrik Pastikan Reformasi Pasar Modal Berlanjut
Berdasarkan prospektus ringkas, JELI menawarkan sebanyak 350 juta saham baru atau setara 25,93 persen modal ditempatkan dan disetor setelah IPO.
Saham tersebut ditawarkan pada kisaran harga Rp900-Rp1.120 per saham, sehingga perseroan berpotensi menghimpun dana hingga Rp392 miliar.
Sebagian besar dana IPO, sekitar 51,04 persen, akan digunakan untuk penyertaan modal kepada anak usaha PT NPS guna mendukung belanja modal. Selanjutnya, 18,36 persen dialokasikan untuk pembelian dan instalasi mesin produksi serta peningkatan kapasitas gudang dan logistik.
Selain itu, sekitar 10,63 persen dana IPO akan digunakan untuk membayar sebagian pinjaman jangka pendek kepada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Sisanya akan digunakan sebagai modal kerja.
JELI dijadwalkan mencatatkan sahamnya di BEI pada 7 Juli 2026.
PRDL Tawarkan 522,9 Juta Saham
PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) menawarkan sebanyak 522,9 juta saham baru atau setara 30 persen modal ditempatkan dan disetor setelah IPO.
Harga penawaran berada pada kisaran Rp100-Rp120 per saham, sehingga dana yang berpotensi dihimpun mencapai Rp62,74 miliar.
Baca juga: Laba Bersih Prodia Melesat 150 Persen di Kuartal I 2026, Ini Pendorongnya
Mayoritas dana hasil IPO akan digunakan untuk melunasi fasilitas kredit kepada PT Bank Central Asia Tbk dan PT Bank Pan Indonesia Tbk.
PRDL dijadwalkan resmi tercatat di BEI pada 9 Juli 2026.
EMMI Berpotensi Raih Dana Rp269 Miliar
Sementara itu, PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI) menawarkan 522,86 juta saham baru atau setara 30 persen modal ditempatkan dan disetor setelah IPO.
Harga saham ditawarkan pada kisaran Rp446-Rp515 per saham, sehingga nilai penawaran umum berpotensi mencapai Rp269,27 miliar.
Dari total dana yang dihimpun, sekitar Rp50 miliar akan digunakan untuk membayar sebagian pinjaman kepada PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA).
Baca juga: Rupiah Melemah Meski BI Naikkan Suku Bunga, Tekanan Eksternal Masih Besar
Selain itu, sekitar 11,8 persen dialokasikan untuk pembangunan pabrik di Cikupa, sedangkan 68,7 persen akan digunakan sebagai modal kerja, termasuk pembelian bahan baku dan kebutuhan proyek.
Masa penawaran awal EMMI berlangsung pada 22-24 Juni 2026.
JECX Berpotensi Himpun Dana hingga Rp683 Miliar
PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX) menawarkan total 487,98 juta saham atau setara 15 persen modal setelah IPO.
Jumlah tersebut terdiri atas 325,32 juta saham baru dan 162,66 juta saham divestasi milik pemegang saham eksisting.
Harga penawaran berada pada kisaran Rp1.200-Rp1.400 per saham, sehingga perseroan berpotensi menghimpun dana hingga Rp683,17 miliar.
Dana hasil IPO akan digunakan untuk mempercepat pelunasan sebagian pinjaman kepada PT Bank Central Asia Tbk sebesar Rp40 miliar dan PT Bank HSBC Indonesia sebesar Rp100 miliar.
Selain itu, dana juga akan dialokasikan untuk penguatan modal dan pembiayaan anak usaha, termasuk PT Nitra Sanata Bali (NSB), PT Orbita (Orbita), dan PT JEC Candi Sejahtera (JCS). Sisanya akan digunakan sebagai modal kerja operasional.
JECX dijadwalkan mencatatkan sahamnya di BEI pada 7 Juli 2026.
Baca juga: BEI: Ada 15 Perusahaan Antre IPO, Mayoritas Aset Skala Besar
Masuknya tiga perusahaan kesehatan dalam gelombang IPO awal Juli menunjukkan masih tingginya minat emiten sektor layanan kesehatan untuk memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan ekspansi bisnis.
Jika seluruh penawaran berjalan sesuai rencana, keempat perusahaan tersebut berpotensi menghimpun dana lebih dari Rp1,4 triliun dari pasar modal Indonesia. (*)
Editor: Yulian Saputra


