Poin Penting
- BEI membantah isu pasar modal Indonesia turun ke frontier market, status MSCI masih emerging market
- Investor diminta cross-check informasi sebelum mengambil keputusan investasi
- Pasar butuh kepastian kebijakan, di tengah tekanan rupiah, outflow asing, dan turunnya kepercayaan investor.
Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) membantah informasi terkait dengan status pasar modal Indonesia yang dikabarkan turun kelas dari emerging market menjadi frontier market.
Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menegaskan informasi yang berasal dari tangkapan layar mengatasnamakan Morgan Stanley Capital International (MSCI) tersebut tidak akurat. Jeffrey memastikan pasar modal Tanah Air saat ini masih bertahan di kasta emerging market.
“Yang ternyata itu adalah informasi yang salah. Tentu kami sekali lagi mengimbau agar investor cek dan cross-cek atas informasi yang beredar di pasar sebelum mengambil keputusan,” ucap Jeffrey kepada media di Jakarta, 4 Juni 2026.
Baca juga: IHSG Seharian Merah, Ditutup Anjlok 1,70 Persen ke 5.839
Selain itu, kata Jeffrey, BEI memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap MSCI untuk tetap mempertahankan Indonesia pada kelas emerging market. Dalam hal ini, BEI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah bersama-sama mendorong pasar modal agar lebih transparan.
Berdasarkan MSCI Global Investable Market Indexes Methodology edisi Mei 2026, Indonesia hingga saat ini masih berstatus emerging market.
Menurut Jeffrey, saat ini pelaku pasar tengah menantikan dua agenda penting dari MSCI, yakni Global Market Accessibility Review yang dijadwalkan pada 19 Juni 2026 dan Annual Market Classification Review pada 24 Juni 2026.
Di tengah penantian tersebut, ia menilai terdapat perbedaan pandangan antara narasi pemerintah dan persepsi pelaku pasar. Menurutnya, meski sejumlah pejabat pemerintah masih menyampaikan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan solid, respons pasar justru menunjukkan kondisi yang berbeda.
Faktanya, pasar tidak membaca pidato, pasar membaca data. Data yang terlihat saat ini menunjukkan tekanan yang nyata terhadap aset keuangan domestik. Arus modal asing masih terus keluar, nilai tukar rupiah melemah, dan kepercayaan investor mengalami penurunan yang signifikan.
“Karena itu, persoalan utama saat ini bukan semata-mata pertumbuhan ekonomi, melainkan kredibilitas kebijakan. Investor membutuhkan kepastian arah fiskal, kepastian regulasi, serta keberpihakan terhadap iklim investasi yang sehat,” imbuhnya.
Baca juga: IHSG Tertekan, BEI Minta Investor Cermati 3 Hal Ini
Jeffrey menegaskan, pasar membutuhkan bukti, bukan sekadar optimisme. Ketika narasi yang disampaikan pemerintah tidak sejalan dengan persepsi yang tercermin di pasar, maka yang akan terkikis adalah kepercayaan investor.
Untuk itu, pemerintah dinilai perlu menunjukkan langkah-langkah konkret guna menjaga disiplin fiskal sekaligus memulihkan keyakinan investor. Program-program strategis tetap dapat dijalankan, namun perlu dievaluasi agar lebih tepat sasaran dan tidak menimbulkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan APBN. (*)
Editor: Galih Pratama


