Poin Penting
- BCA menilai pelemahan rupiah tidak berdampak signifikan terhadap kinerja.
- Porsi kredit valas hanya 4,9% dari total portofolio.
- BI terus intervensi untuk menjaga stabilitas rupiah.
Jakarta – PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menyatakan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tidak memberikan dampak signifikan terhadap kinerja perseroan.
Wakil Presiden Direktur BCA John Kosasih menjelaskan, porsi kredit valuta asing (valas) BCA saat ini hanya sekitar 4,9 persen dari total portofolio kredit. Porsi tersebut dinilai kecil sehingga risiko dari pelemahan rupiah tetap terjaga.
“Saat ini portfolio BCA berkait dengan valas, itu kurang lebih sekitar 4,9 persen dari total portfolio kredit. Jadi kecil sekali. Dan kondisinya saat ini masih terjaga dengan baik. Jadi apabila terjadi perlemahan rupiah, tentu saja dampaknya pun juga tidak signifikan,” kata John dalam konferensi pers paparan kinerja kuartal I 2026, Jumat, 24 April 2026.
Baca juga: Respons BCA Usai BI Tahan Suku Bunga Acuan di Level 4,75 Persen
Pelemahan Rupiah Bisa Untungkan Eksportir
Menurutnya, pelemahan rupiah justru dapat memberikan keuntungan bagi pelaku usaha, khususnya di sektor ekspor. Meski demikian, stabilitas nilai tukar tetap menjadi harapan pelaku usaha.
“Kalau seandainya mereka adalah eksportir, tentu saja dengan adanya perlemahan rupiah, ini malah menguntungkan. Karena ini jadi Rp 17.310. Tentu saja para pengusaha kalau ditanya sebaiknya bagaimana, sebaiknya kalau bisa yang memang stabil ya. Itu yang diharapkan oleh para pengusaha di lapangan,” pungkasnya.
Baca jugaL Rupiah Sentuh Rekor Terendah dalam Sejarah, Tembus Rp17.300 per Dolar AS
BI Perkuat Stabilitas Rupiah
Sebagaimana diketahui, rupiah sempat menyentuh Rp17.303 per dolar AS pada pukul 11.05 WIB, Kamis (23/4/2026), atau melemah 0,71 persen.
Menanggapi hal tersebut, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan, tekanan terhadap rupiah hari ini dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian global yang juga menekan mata uang regional.
Meski demikian, Destry menyebut pergerakan rupiah masih sejalan dengan kawasan, dengan pelemahan year-to-date sebesar 3,54 persen.
Destry menegaskan, BI akan terus meningkatkan intensitas intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, serta memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market.
“BI terus meningkatkan intensitas intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, serta memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market guna menjaga daya tarik aset domestik di tengah berlanjutnya dampak konflik Timur Tengah,” kata Destry dalam keterangannya, Kamis, 23 April 2026.
Baca juga: Rupiah Tembus Rp17.300 per Dolar AS, BI Klaim Cadangan Devisa Aman
Lebih lanjut, langkah stabilisasi dilakukan secara konsisten melalui intervensi di pasar offshore (NDF), pasar domestik (spot dan DNDF), serta pembelian SBN di pasar sekunder. Di samping itu, cadangan devisa juga tetap kuat sebesar USD148,2 miliar pada akhir Maret 2026.
“BI senantiasa hadir di pasar dan akan terus mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” tegasnya. (*)
Editor: Yulian Saputra








