Poin Penting
- Laba Bank Kalsel turun 17,56 persen menjadi Rp168,19 miliar per Juni 2026 akibat kenaikan beban operasional, meski pendapatan bunga bersih dan NIM masih meningkat
- Kualitas fundamental tetap solid, ditopang NIM naik ke 5,56 persen, NPL Gross membaik ke 3,02 persen, serta CAR menguat menjadi 30,73 persen
- DPK dan aset tertekan, masing-masing turun 8,54 persen dan 7,48 persen, sementara kredit hanya tumbuh 0,60 persen serta ROA dan ROE ikut melemah.
Jakarta – Laba bersih Bank Kalsel pada Juni 2026 turun cukup dalam. Bank yang dipimpin Fachrudin sebagai direktur utama ini membukukan laba bersih Rp168,19 miliar, atau turun 17,56 persen secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan Rp204,01 miliar pada Juni 2025.
Penurunan laba ini menunjukkan kinerja profitabilitas yang melemah meski masih berada di zona positif.
Biro Riset Infobank (birI) mencatat, tekanan terhadap laba Bank Kalsel terjadi di tengah penurunan pendapatan bunga. Berdasarkan laporan publikasi bank ini yang dikutip Senin (27/7), pendapatan bunga tercatat Rp1,14 triliun, turun 11,47 persen secara tahunan. Tapi, di sisi lain, beban bunga turun lebih besar, 28,78 persen menjadi Rp403,63 miliar, mencerminkan biaya dana (cost of fund) yang semakin efisien.
Efisiensi beban bunga itu berhasil mendorong pendapatan bunga bersih atau net interest income tetap tumbuh. Pendapatan bunga bersih naik 2,08 persen menjadi Rp739,02 miliar dari sebelumnya Rp723,99 miliar.
Kenaikan ini juga tercermin pada rasio net interest margin (NIM) yang meningkat dari 5,30 persen menjadi 5,56 persen, menandakan bisnis inti intermediasi Bank Kalsel masih mampu menghasilkan margin yang lebih baik.

Hanya saja, peningkatan pendapatan bunga bersih belum mampu mengimbangi kenaikan biaya operasional. Beban operasional lainnya naik 8,99 persen menjadi Rp495,24 miliar. Kenaikan biaya itu menjadi salah satu faktor utama yang menggerus laba bersih meski rasio BOPO sedikit membaik dari 80,34 persen menjadi 80,18 persen, yang berarti efisiensi operasional masih terjaga.
Pada fungsi intermediasi, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) mengalami tekanan. Total DPK turun 8,54 persen menjadi Rp20,16 triliun akibat penurunan tajam deposito sebesar 31,81 persen menjadi Rp5,00 triliun.
Meski begitu, kualitas struktur pendanaan justru membaik karena dana murah atau CASA (current account saving account) naik 3,06 persen menjadi Rp15,15 triliun, didorong pertumbuhan giro 6,21 persen, sementara rasio dana murah meningkat signifikan dari 66,72 persen menjadi 75,19 persen.
Di sisi penyaluran dana, kredit Bank Kalsel masih mampu tumbuh meski tipis. Kredit naik 0,60 persen menjadi Rp14,41 triliun. Kualitas kredit juga membaik dengan rasio NPL Gross turun dari 3,56 persen menjadi 3,02 persen, sedangkan NPL Net tetap terjaga di level 1,15 persen, jauh di bawah threshold 5 persen, sehingga risiko kredit masih tergolong terkendali.
Baca juga: Kredit UMKM Mulai Pulih, OJK Optimistis Tumbuh Positif hingga Akhir 2026
Sementara, total aset Bank Kalsel mengalami penurunan. Nilai aset susut 7,48 persen menjadi Rp27,07 triliun dari Rp29,26 triliun pada Juni 2025. Modal inti juga turun tipis 1,55 persen menjadi Rp3,59 triliun, tapi permodalan tetap sangat kuat dengan rasio CAR meningkat menjadi 30,73 persen dari sebelumnya 30,21 persen, memberikan ruang yang besar bagi bank ini untuk menyerap potensi risiko.
Jika melihat rasio profitabilitas, performa Bank Kalsel memang belum terlalu menggembirakan. ROA turun dari 1,85 persen menjadi 1,54 persen, sementara ROE melemah dari 11,40 persen menjadi 9,15 persen.
Penurunan kedua rasio itu menunjukkan kemampuan bank ini dalam menghasilkan laba dari aset maupun modal menjadi lebih rendah dibandingkan tahun lalu, sehingga efektivitas pengelolaan aset dan modal ikut tertekan.
Rapor Bank Kalsel pada semester pertama 2026 boleh dibilang masih bercampur. Di satu sisi, kualitas kredit, efisiensi biaya dana, NIM, BOPO, serta permodalan menunjukkan kinerja yang bagus. Tapi di sisi lain, penurunan laba, aset, DPK, serta melemahnya ROA, ROE, dan meningkatnya rasio CIR menjadi 64,79 persen menandakan biaya operasional relatif lebih besar daripada pendapatan.
Rasio LDR memang naik menjadi 71,47 persen, tapi masih berada di bawah kisaran ideal 78 persen-92 persen, sehingga ruang Bank Kalsel untuk meningkatkan fungsi intermediasi masih cukup besar. (*) Ari Nugroho


