Poin Penting:
- Banjir Padang merendam tiga kecamatan setelah hujan lebat berlangsung selama enam jam.
- Arus banjir menghanyutkan sejumlah kendaraan dan memaksa evakuasi menggunakan perahu.
- LBH Padang menilai bencana berulang menunjukkan persoalan ekologis belum diselesaikan.
Jakarta – Banjir di Padang kembali meluas dan merendam tiga kecamatan sekaligus. Bencana ini memaksa evakuasi warga menggunakan perahu dan menegaskan persoalan ekologis belum terselesaikan.
Hujan deras mengguyur Kota Padang sejak pukul 11.00 hingga 17.00 WIB, Senin (3/8). Air kemudian meluap ke permukiman warga dan ruas jalan utama di sejumlah titik.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan tim gabungan bergerak mengevakuasi warga terdampak. Perahu polietilen diterjunkan untuk membawa warga ke lokasi aman.
Baca juga: Banjir Agam Sumbar: 450 Warga Mengungsi, 60 Sempat Terjebak Arus
Banjir Padang di Tiga Kecamatan
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan banjir berdampak di Kecamatan Kuranji, Koto Tangah, dan Bungus Teluk Kabung.
Di Kuranji, genangan merendam Lapau Munggu, Komplek Wahana, Kampuang Tanjung, Pasar Lalang, dan Gunung Sarik. Di Koto Tangah, air menggenangi Aia Pacah, belakang RSUD, dan Perumahan Green Mandiri.
Adapun di Kecamatan Bungus Teluk Kabung, banjir melanda lima kelurahan. Pendataan korban dan kerugian masih berlangsung hingga Senin malam.
Direktorat Pengendalian Operasi BNPB juga menerima laporan kendaraan warga sempat terseret arus. Hingga malam, hujan masih turun di sebagian wilayah Padang dan genangan belum surut sepenuhnya.
“Masyarakat yang berada di wilayah rawan diharapkan terus memantau informasi resmi dari pemerintah daerah dan BPBD setempat serta segera mengikuti arahan petugas apabila diperlukan evakuasi demi keselamatan bersama,” kata Abdul Muhari, dikutip Antara.
BMKG sebelumnya mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem untuk Sumatra bagian barat. Potensi hujan lebat meningkat pada periode 3–5 Agustus.
Persoalan Ekologis Dinilai Belum Tuntas
Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang menilai banjir berulang tidak bisa dipahami sebagai akibat hujan semata. Menurut lembaga itu, kerusakan kawasan hulu, berkurangnya daerah resapan, dan lemahnya pengelolaan daerah aliran sungai memperbesar risiko bencana.
LBH Padang mengaitkan bencana ini dengan gugatan warga Sumatra Barat terkait banjir bandang dan longsor sebelumnya. Gugatan itu menyoroti rehabilitasi hutan, pengelolaan DAS, evaluasi tata ruang, dan mitigasi bencana yang dinilai belum optimal.
“Banjir hari ini adalah pengingat bahwa persoalan ekologis belum selesai. Selama akar masalahnya tidak dibenahi, masyarakat akan terus menjadi pihak yang paling menanggung dampaknya,” tulis LBH Padang melalui akun Instagram @lbh_padang.
Baca juga: Update Banjir Gorontalo: 2.817 Jiwa Terdampak, 826 Rumah Terendam
Lembaga tersebut menegaskan lingkungan hidup yang baik merupakan hak warga negara. Negara dinilai wajib memastikan perlindungan hutan, pengelolaan ruang berkelanjutan, dan mitigasi bencana yang efektif.
Pemkab Padang Pariaman Imbau Warga Waspada
Di wilayah sekitar, Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem. Warga di kawasan rawan diminta memantau kondisi lingkungan dan segera mengungsi bila situasi membahayakan.
Penjabat Sekretaris Daerah Padang Pariaman Hendra Aswara meminta BPBD, Dinas Sosial, Dinas PUPR, dan seluruh camat siaga penuh. Pemerintah juga meminta saluran drainase dipastikan berfungsi dan titik rawan terus dipantau.
Masyarakat diimbau tidak melintasi jalan atau aliran sungai yang tergenang bila kedalaman dan arus tidak diketahui. Pemerintah daerah menekankan kesiapsiagaan warga penting untuk menekan risiko korban dan kerugian.
Hujan sedang hingga lebat disertai angin kencang masih terjadi di Padang Pariaman beberapa hari terakhir. Pemerintah berharap sinergi aparat dan masyarakat dapat meminimalkan dampak cuaca ekstrem.
Bencana yang kembali melanda Sumatra Barat menunjukkan bahwa banjir Padang bukan sekadar persoalan cuaca. Tanpa pembenahan tata ruang, pengelolaan DAS, dan perlindungan kawasan hulu, ancaman banjir Padang diperkirakan akan terus berulang dan membebani masyarakat paling rentan. (*)
Editor: Yulian Saputra


