Poin Penting
- Target defisit RAPBN 2027 dipatok lebih rendah, yakni 1,5-2,4 persen terhadap PDB, turun dari APBN 2026 sebesar 2,68 persen PDB.
- Banggar DPR memberi fleksibilitas kepada pemerintah untuk menentukan angka defisit final melalui simulasi sesuai kondisi fiskal dan perkembangan ekonomi.
- Asumsi harga minyak ICP ditetapkan USD70-90 per barel, sementara finalisasi RAPBN 2027 akan diumumkan Presiden dalam Pidato Kenegaraan dan Nota Keuangan pada 16 Agustus 2026.
Jakarta – Pemerintah berencana menekan defisit anggaran dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027. Presiden Prabowo Subianto menginginkan defisit berada di kisaran 1,5-2,4 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), lebih rendah dibandingkan postur APBN 2026 yang sebesar 2,68 persen PDB.
Hal itu diungkapkan Wakil Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Muhidin Mohamad Said, usai Rapat Tim Perumus (Timrus) bersama Pemerintah dalam rangka penyusunan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN Tahun Anggaran 2027, di Senayan, Jakarta, Kamis, 25 Juni 2026.
“Presiden kita menghendaki bahwa defisit kita itu makin lama makin kecil. Sehingga tahun ini Presiden minta 1,5 persen sampai 2,4 persen. Jadi tergantung nanti di mana yang cocok, mau ambil batas bawah atau batas atas atau batas tengah-tengah,” ujar Muhidin, seperti dikutip dari laman resmi DPR RI.
Baca juga: DPR-Pemerintah Sepakat Defisit APBN 2027 Maksimal 2,4 Persen PDB
Banggar DPR sendiri, lanjutnya, memberikan keleluasaan kepada pemerintah untuk mensimulasikan angka defisit yang paling sesuai dengan kondisi fiskal dan perkembangan ekonomi.
Muhidin menegaskan bahwa dokumen yang saat ini dibahas masih berupa kerangka awal dan belum menjadi angka final RAPBN 2027.
“Ini hanya dasar pemerintah menyusun APBN. Ini kan baru KEM-PPKF. Sehingga masih ada range-nya. Pemerintah diberikan kelonggaran menghitung, mau ambil dari mana, dasar bawah atau dasar atas,” jelasnya.
Harga Minyak Masih Bergantung Geopolitik
Terkait asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP), Banggar menetapkan kisaran USD70-90 per barel sebagai pedoman.
Menurut Muhidin, angka final masih menunggu perkembangan situasi geopolitik, terutama kondisi di Selat Hormuz yang dinilai menjadi faktor utama pergerakan harga minyak dunia.
“Itu kan dinamis, tergantung bagaimana perkembangan di Selat Hormuz. Minyak sekarang sudah turun di bawah 90. Kalau itu jalan, pasti Pertamax juga akan turun,” jelasnya.
Baca juga: Bansos Tunai dan Reformasi Fiskal Dinilai Harus Berjalan Bersamaan usai Kenaikan Pertamax
Muhidin menambahkan, seluruh angka dalam RAPBN 2027 akan difinalisasi setelah pemerintah menyelesaikan simulasi yang diperlukan. Hasilnya akan disampaikan Presiden dalam Pidato Kenegaraan dan Nota Keuangan pada 16 Agustus 2026.
“Finalisasinya nanti setelah 17 Agustus. Nanti pada tanggal 16 Agustus Presiden menyampaikan, di situ kita lihat adakah masih kemungkinan untuk menambah atau tidak,” pungkasnya. (*)
Editor: Yulian Saputra


