Poin Penting
- Pemerintah menargetkan pembangunan PLTS mencapai 100 GW, dengan tahap awal 30 GW yang tendernya segera dimulai bersama PLN
- Percepatan EBT dinilai penting karena lifting minyak nasional hanya 600–610 ribu barel per hari, jauh di bawah konsumsi yang mencapai 1,5–1,6 juta barel per hari
- Pemerintah juga mempercepat pengembangan geothermal dengan memangkas regulasi dan perizinan.
Jakarta – Pemerintah tengah mendorong proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas total 100 gigawatt (GW) dalam beberapa tahun ke depan. Adapun, tahapan awal pembangunan ditargetkan mencapai 30 GW .
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia mengatakan, pembangunan PLTS tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah meningkatkan kapasitas energi baru dan terbarukan (EBT) sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil.
“Tahun ini kita mulai masuk tahap pertama dengan pembangunan 30 Gigawatt,” ujar Bahlil dalam Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026 di Jakarta, Rabu, 19 Agustus 2026.
Diketahui, pada tahapan pertama ini, pemerintah menggandeng perusahaan listrik pelat merah PT PLN (Persero). Proses tender pun akan segera dimulai.
Baca juga: Bahlil Kunci Impor Minyak Rusia lewat Kontrak Jangka Panjang
“Kita sudah bahas dengan Dirut PLN. Tendernya kita akan mulai lakukan sekarang,” bebernya.
Konsumsi Minyak Masih Tinggi
Bahlil mengungkapkan, percepatan proyek EBT diperlukan lantaran produksi minyak nasional belum mampu memenuhi kebutuhan domestik.
Ia bilang, saat ini lifting minyak nasional hanya berada di angka 600 ribu – 610 ribu barel per hari. Sementara, konsumsi minyak nasional mencapai sekitar 1,5 juta – 1,6 juta barel per hari.
Di lain sisi, program biodiesel B50 diperkirakan bisa mengurangi kebutuhan impor minyak sekitar 300 ribu – 350 ribu barel. Namun, Indonesia masih harus mengimpor sekitar 700 ribu barel minyak per hari untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Baca juga: Bahlil: B50 Hemat Devisa Negara hingga Rp170 Triliun, RI Tak Lagi Impor Solar
“Nah, ketergantungan kita harus segera kita minimalisir dalam rangka menuju kedaulatan energi,” ujarnya.
Potensi Sumber Daya Geothermal Terbesar
Selain PLTS, pemerintah juga tengah mendorong percepatan pengembangan energi panas bumi atau geothermal. Bahlil mengatakan Indonesia memiliki sumber daya geothermal terbesar di dunia.
Namun, dari sisi implementasi pembangkit listrik tenaga panas bumi, Indonesia masih berada di posisi kedua setelah Amerika Serikat.
“Indonesia adalah negara nomor satu di dunia yang mempunyai resource terhadap geothermal. Kita nomor satu, tetapi dalam implementasinya kita itu nomor dua, Amerika masih nomor satu,” akunya.
Pemerintah pun kata Bahlil terus melakukan evaluasi internal penyebab pengembangan geothermal Indonesia masih berjalan lambat. Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah panjangnya proses regulasi dan perizinan.’
“Pengusaha itu kan maunya cepat. Tapi kalau aturannya berbelit-belit, ya mau gimana? Maka yang pertama saya lakukan adalah memangkas tahapan peraturan yang panjang lebar itu,” pungkasnya. (*)
Editor: Galih Pratama


