Poin Penting
- Literasi keuangan baru 69,57 persen, tertinggal dari inklusi yang mencapai 93 persen
- Astra Financial-OJK mengukuhkan 1.000 Duta OJK Peduli untuk memperluas edukasi
- Edukasi menyasar ancaman pinjaman, investasi ilegal, dan judi daring.
Jakarta – Tantangan literasi keuangan di Indonesia masih cukup besar. Di tengah tingkat inklusi keuangan yang telah mencapai 93 persen, tingkat literasi keuangan nasional baru berada di level 69,57 persen. Kondisi tersebut mendorong Astra Financial bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkuat edukasi masyarakat melalui pelatihan Training of Trainers (ToT) bagi penggerak duta literasi keuangan.
Kegiatan yang digelar di Ballroom Hotel UNY, Yogyakarta, Sabtu (12/9/2026), tersebut diikuti sedikitnya 1.000 peserta dan sekaligus dirangkai dengan seminar kampanye Gerakan Cakap Keuangan.
Presiden Direktur Konglomerasi Keuangan Astra Hugeng Gozali mengatakan, kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen Astra Financial dalam memperkuat literasi keuangan di Indonesia. Menurutnya, kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan diperlukan agar edukasi keuangan dapat menjangkau masyarakat lebih luas.
“Acara ini adalah wujud komitmen dalam mendukung penguatan literasi keuangan di Indonesia. Kami bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan untuk tujuan tersebut,” tutur Hugeng Gozali, di Yogyakarta, Sabtu (12/9).
Baca juga: Ekonomi Melambat, Asuransi Astra Tetap Tumbuh hingga Semester I 2026
Hugeng menambahkan, sebanyak 1.000 peserta dalam kegiatan tersebut dikukuhkan sebagai Duta OJK Peduli. Mereka nantinya diharapkan menjadi penggerak literasi keuangan di tengah masyarakat.
“Mereka terdiri dari karyawan, mahasiswa, penggerak desa, dan fasilitator Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM),” tambahnya.
Kepala Departemen Literasi dan Inklusi Keuangan OJK M. Ismail Riyadi mengatakan, tantangan literasi keuangan di Indonesia masih cukup besar. Pasalnya, tingkat inklusi keuangan nasional telah mencapai 93 persen, sementara tingkat literasi baru berada di level 69,57 persen.
“Gap yang cukup lebar antara inklusi keuangan lebih 20 persen adalah tantangan. Artinya literasi keuangan harus ditingkatkan, tidak hanya paham tetapi juga tahu, diikuti perubahan sikap dan perilaku.”
Menurut Ismail, tingginya inklusi keuangan yang tidak diimbangi literasi dapat meningkatkan kerentanan masyarakat dalam menggunakan produk dan layanan keuangan. Karena itu, edukasi tidak cukup hanya membuat masyarakat mengenal produk keuangan, tetapi juga memahami risiko serta mampu mengambil keputusan keuangan secara bijak.
OJK pun mengapresiasi langkah Astra Financial yang memperluas jangkauan edukasi melalui pelatihan dan workshop di berbagai wilayah.
“OJK dan Astra bisa saling mengisi diberbagai kota lain dimana perusahaan keuangan dalam naungan Astra Financial bisa terlibat, demikian juga Kantor OJK diberbagai daerah,” tuturnya.
Program OJK Peduli sendiri merupakan akronim dari OJK Penggerak Duta Literasi Keuangan Indonesia. Program ini ditujukan bagi individu yang telah mendapatkan pembekalan edukasi keuangan untuk selanjutnya menyebarluaskan informasi keuangan kepada masyarakat maupun komunitas di sekitarnya.
Kolaborasi Astra Financial dan OJK tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan literasi keuangan sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi berbagai risiko di sektor keuangan.
Baca juga: Astra Realisasikan Capex Rp16,9 Triliun, Mayoritas untuk Akuisisi Tambang Emas
Memasuki sesi inti, kegiatan dilanjutkan dengan panel diskusi bertajuk “Bergerak Tumbuh Bersama, Pahami Ancaman Keuangan Ilegal”.
Diskusi menghadirkan Kepala OJK DIY Eko Yunianto, Wakil Presiden Direktur Konglomerasi Keuangan Astra Agus Prayitno Wirawan, serta Pembina Generasi Cerdas Keuangan sekaligus Guru Besar UNY Prof. Dr. Ratna Candra Sari, S.E., M.Si., CA, CFP.
Panel tersebut membahas sejumlah ancaman keuangan ilegal yang masih membayangi masyarakat, mulai dari pinjaman ilegal, investasi ilegal, hingga judi daring. (*)


