Poin Penting:
- Amerika Serikat menyerang Iran sebagai balasan atas serangan terhadap tiga kapal dagang di Selat Hormuz.
- Serangan AS menyasar sistem pertahanan udara, instalasi rudal, pesawat nirawak, dan fasilitas pelabuhan Iran.
- Parlemen Arab mengecam penargetan kapal Saudi dan Qatar serta menyerukan perlindungan terhadap pelayaran internasional.
Jakarta – Militer Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangkaian serangan baru ke wilayah Iran. Operasi tersebut diklaim sebagai respons atas serangan Iran terhadap tiga kapal dagang yang melintas di Selat Hormuz.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan serangan itu ditujukan untuk memberikan dampak besar terhadap Iran.
Washington menilai Teheran telah menyerang kapal komersial yang diawaki warga sipil di perairan internasional.
“Komando Pusat AS telah melancarkan serangkaian serangan yang kuat terhadap Iran untuk memberikan dampak besar kepada mereka karena sudah mengincar dan menyerang kapal komersial yang diawaki orang sipil tak bersalah di perairan internasional,” tulis CENTCOM melalui media sosial X, Selasa (7/7).
Baca juga: Iran Gratiskan Biaya Melintas di Selat Hormuz Selama 60 Hari
AS Serang Iran sebagai Balasan atas Insiden di Selat Hormuz
CENTCOM menegaskan operasi militer tersebut merupakan aksi balasan terhadap serangan Iran di Selat Hormuz.
Menurut mereka, tindakan Iran melanggar gencatan senjata dan membahayakan keamanan jalur pelayaran internasional.
“Serangan tersebut adalah untuk membalas serangan Iran terhadap tiga kapal dagang yang melintas di Selat Hormuz. Agresi yang ditunjukkan Iran itu tidak beralasan, berbahaya, dan merupakan pelanggaran yang jelas terhadap gencatan senjata,” lanjut pernyataan CENTCOM.
Laporan Axios menyebut AS menyerang Iran dengan menyasar sejumlah fasilitas strategis.
Target operasi meliputi sistem pertahanan udara, sistem pengawasan pesisir, instalasi rudal darat-ke-udara, titik peluncuran rudal jelajah anti-kapal, pesawat nirawak, hingga fasilitas pelabuhan.
Seorang pejabat Amerika Serikat mengatakan kepada Axios bahwa intensitas serangan terbaru meningkat signifikan.
Operasi kali ini disebut empat hingga lima kali lebih kuat dibandingkan serangan yang dilakukan 10 hari sebelumnya.
Ketegangan di Selat Hormuz Kian Meningkat
Media nasional Iran, IRIB, melaporkan kapal Qatar Al-Rekayyat berupaya melintasi Selat Hormuz melalui jalur Oman dengan dukungan Angkatan Laut AS.
Kapal tersebut kemudian menjadi sasaran serangan setelah sejumlah peringatan disampaikan.
Sementara itu, PBS News melaporkan tiga kapal tanker terkena proyektil dalam insiden terbaru di Selat Hormuz.
Rangkaian kejadian ini semakin memperburuk situasi keamanan di salah satu jalur pelayaran energi paling vital di dunia.
Ketegangan tersebut kembali meningkat setelah AS serang Iran sebagai respons atas insiden terhadap kapal-kapal dagang.
Konflik ini memicu kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan dan kelancaran distribusi energi global.
Baca juga: Trump Ancam Ledakkan Oman jika Coba Kuasai Selat Hormuz
Parlemen Arab Kecam Penargetan Kapal Saudi dan Qatar
Parlemen Arab turut mengecam penargetan kapal tanker Arab Saudi, Wedyan, dan kapal tanker Qatar, Al-Rekayyat, saat melintasi Selat Hormuz.
Lembaga tersebut menilai serangan terhadap kapal sipil merupakan pelanggaran hukum internasional.
Ketua Parlemen Arab Mohammed Al-Yamahi mengatakan serangan terhadap kapal komersial menjadi eskalasi berbahaya.
Menurutnya, tindakan itu mengancam keamanan jalur pelayaran internasional dan pasokan energi global.
Al-Yamahi juga mendesak seluruh pihak menghormati hukum internasional serta menahan diri dari tindakan yang dapat memperburuk situasi.
Ia menilai langkah tersebut penting untuk menjaga stabilitas regional maupun internasional.
Perkembangan terbaru setelah AS serang Iran menunjukkan ketegangan di Selat Hormuz masih jauh dari mereda.
Risiko terhadap keamanan pelayaran dan pasokan energi global pun terus menjadi perhatian dunia. (*)
Editor: Galih Pratama


