Poin Penting
- AS dan China sepakat bahwa Selat Hormuz sebagai jalur air internasional tidak boleh dikenakan pungutan oleh negara atau organisasi mana pun.
- Kesepakatan tersebut dicapai melalui pembicaraan telepon antara Menlu AS Marco Rubio dan Menlu China Wang Yi pada 30 April.
- Isu pembatasan jalur pelayaran oleh Iran menjadi latar penting pembahasan dalam agenda pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping.
Jakarta – Amerika Serikat (AS) dan China sepakat menolak rencana pungutan tol di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu rute utama minyak dan gas dunia. Kedua negara menegaskan tidak ada negara maupun organisasi yang berhak mengenakan biaya atas pelintasan jalur air internasional tersebut.
Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS Tommy Pigott menyampaikan kepada Kantor Berita Kyodo, Selasa (12/5), bahwa kesepakatan itu dicapai dalam pembicaraan telepon antara Menlu AS Marco Rubio dan Menlu China Wang Yi pada 30 April lalu.
“Keduanya sepakat bahwa tidak ada negara atau organisasi yang diizinkan mengenakan biaya tol untuk melintasi jalur air internasional, seperti Selat Hormuz,” kata Pigott seperti dikutip dari Antara, Rabu, 13 Mei 2026.
Baca juga: Selat Hormuz Kembali Normal usai Baku Tembak AS-Iran, Trump Ancam Serangan Baru
Dalam percakapan tersebut, kedua pihak juga menekankan pentingnya membangun hubungan bilateral yang konstruktif dan stabil. Washington dan Beijing dinilai perlu mengembangkan hubungan berdasarkan rasa saling menghormati dan prinsip timbal balik.
Situasi ini mencuat di tengah laporan bahwa Iran masih membatasi jalur pelayaran utama minyak dan gas dari Timur Tengah. Ketegangan antara AS dan Israel dengan Iran diperkirakan menjadi salah satu isu utama dalam pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing pekan ini.
Trump disebut frustrasi atas lambannya pembukaan kembali jalur tersebut, sementara harga bahan bakar di dalam negeri AS masih tinggi.
Sikap Bersama soal Selat Hormuz
Kesepakatan antara Rubio dan Wang menunjukkan posisi bersama dua kekuatan ekonomi terbesar dunia dalam menolak segala bentuk pungutan atas pelayaran internasional di Selat Hormuz. Langkah ini dipandang sebagai upaya menjaga stabilitas jalur perdagangan energi global.
Baca juga: Trump Hentikan Sementara Operasi Militer AS di Hormuz, Iran Terapkan Izin Lintas
Dalam konteks ini, Selat Hormuz tetap menjadi jalur vital bagi distribusi minyak dan gas dari kawasan Timur Tengah. Karena itu, setiap potensi pembatasan atau pungutan dinilai dapat berdampak luas terhadap pasar energi internasional.
Isu Regional dan Agenda Pertemuan Pemimpin
Selain isu pelayaran, hubungan dengan Iran turut menjadi perhatian dalam pembahasan kedua negara. Trump disebut akan meminta Xi untuk “mendesak” Iran mencapai kesepakatan dengan AS.
China diketahui menjadi pembeli terbesar minyak mentah Iran dan memiliki hubungan ekonomi erat dengan Teheran.
Rubio juga mendampingi kunjungan Trump ke Beijing bersama Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth. Trump dijadwalkan bertemu Xi pada Kamis (14/5) dan Jumat (15/5) untuk membahas sejumlah isu strategis.
Baca juga: Dampak Selat Hormuz, Bea Masuk LPG Dipangkas jadi 0 Persen
Langkah bersama AS dan China dalam menolak pungutan di Selat Hormuz mencerminkan upaya menjaga kepentingan global atas kebebasan pelayaran dan stabilitas energi, sekaligus menjadi bagian dari dinamika diplomasi tingkat tinggi kedua negara. (*)
Editor: Yulian Saputra


