Poin Penting:
- AS tetap memasukkan China dan sembilan negara lain dalam daftar pemantauan nilai tukar.
- Tidak ada negara yang ditetapkan sebagai manipulator mata uang dalam laporan terbaru.
- Jepang dinilai transparan dalam pelaporan intervensi pasar valuta asing meski yen terus melemah.
Jakarta – Amerika Serikat (AS) kembali menyoroti kebijakan nilai tukar sejumlah mitra dagang utamanya. China bersama sembilan negara lain tetap masuk daftar pemantauan karena dinilai berpotensi memiliki praktik valuta asing yang tidak adil.
Dilansir Antara, Departemen Keuangan AS menyampaikan hal itu dalam laporan semester kepada Kongres, Kamis (23/7/2026). Meski begitu, tidak ada satu pun negara yang ditetapkan sebagai manipulator mata uang.
Laporan tersebut mengevaluasi praktik ekonomi dan kebijakan mata uang sepanjang 2025. Hasilnya, China dinilai masih menjadi sorotan utama karena minim transparansi kebijakan nilai tukarnya.
Baca juga: Airlangga Ungkap Strategi RI Perkuat Dagang dengan China, Dorong Investasi Berkualitas
AS Soroti Transparansi Nilai Tukar China
Dalam laporan itu, AS menilai China berbeda dibanding mitra dagang lain. Penyebabnya adalah keterbukaan terkait kebijakan dan praktik nilai tukar yang masih dinilai kurang.
Selain China, daftar pemantauan juga mencakup Jepang, Thailand, Jerman, Irlandia, Singapura, Korea Selatan, Swiss, Taiwan, dan Vietnam. Negara-negara tersebut dipantau karena memenuhi sebagian indikator yang ditetapkan Departemen Keuangan.
Pemerintah AS menggunakan tiga indikator untuk melakukan penilaian. Ketiganya berkaitan dengan surplus perdagangan, surplus neraca berjalan, dan intervensi di pasar valuta asing.
Suatu negara akan masuk daftar pemantauan jika memenuhi dua dari tiga indikator tersebut. Penilaian itu digunakan untuk mengawasi potensi keuntungan perdagangan yang diperoleh melalui kebijakan nilai tukar.
Jepang Dinilai Transparan soal Intervensi
Laporan itu menyebut Jepang tidak melakukan intervensi di pasar valuta asing selama periode penilaian. Negara tersebut juga dinilai terbuka dalam menyampaikan data intervensi kepada publik.
Pemerintah Jepang mempublikasikan data agregat setiap bulan. Rincian intervensi harian juga diumumkan setiap tiga bulan.
Meski demikian, laporan mencatat yen terus melemah. Kondisi itu terjadi walau selisih suku bunga antara AS dan Jepang semakin menyempit.
Baca juga: Indonesia Kena Tarif Impor 10 Persen dari AS, Pemerintah Lobi USTR
Belum Ada Negara Ditetapkan Manipulator Mata Uang
Departemen Keuangan menegaskan tidak ada negara yang memenuhi syarat sebagai manipulator mata uang. Karena itu, tidak ada penerapan sanksi terhadap mitra dagang dalam laporan terbaru.
Laporan tersebut juga menyoroti pergerakan yen yang dipengaruhi berbagai faktor global. Volatilitas pasar keuangan dan harga minyak dinilai ikut memengaruhi nilai tukar mata uang Jepang.
“Meskipun faktor-faktor global, seperti volatilitas pasar keuangan dan harga minyak kemungkinan besar telah berpengaruh pada nilai tukar yen, volatilitas yang berlebihan pada yen tidak diinginkan,” demikian bunyi pernyataan tersebut.
Ke depan, AS menyatakan akan terus memantau kebijakan nilai tukar negara-negara dalam daftar tersebut. Langkah itu dilakukan untuk menjaga praktik perdagangan internasional yang dinilai lebih adil. (*)
Editor: Yulian Saputra


