Poin Penting
- APBN semester I 2026 mencatat defisit Rp196,5 triliun atau 0,76 persen terhadap PDB, namun pemerintah menegaskan kondisi fiskal tetap sehat dan terkendali
- Pendapatan negara mencapai Rp1.459,4 triliun, naik 21,4 persen (yoy) atau 46,3 persen dari target APBN, sementara belanja negara terealisasi Rp1.656 triliun, tumbuh 17,8 persen (yoy)
- Pemerintah optimistis APBN tetap menjadi motor pertumbuhan ekonomi, didukung kinerja fiskal yang kuat dan surplus keseimbangan primer sebagai penopang stabilitas ekonomi.
Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga semester I 2026 alami defisit sebesar Rp196,5 triliun atau 0,76 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
“Kesehatan fiskal tetap terjaga, defisit APBN sebesar Rp196,5 triliun atau 0,76 persen terhadap PDB,” kata Purbaya dalam APBN KiTa, Selasa, Juli 2026.
Selain itu, kata Purbaya, keseimbangan primer mengalami surplus hingga semester I 2026 sebesar Rp196,5 triliun atau 0,76 persen dari PDB. Menurutnya, surplus tersebut mencerminkan fiskal Indonesia tetap kuat.
Baca juga: Defisit APBN 2026 Melebar, Ekonom Proyeksikan Utang Pemerintah Tembus Rp10.600 Triliun
Purbaya menjelaskan, kinerja APBN hingga semester I 2026 tetap meunjukkan hasil yang kuat. Hal itu tercermin dari pendapatan negara terkumpul mencapai Rp1.459,4 triliun meningkat 21,4 persen secara tahunan (yoy) atau setara 46,3 persen dari target APBN 2026.
Sementara dari sisi belanja negara sudah terealisasi Rp1.656 triliun tumbuh 17,8 persen atau setara 43,1 persen dari target APBN 2026.
Baca juga: Paripurna DPR Sepakati Rancangan Awal RAPBN 2027, Ini Detailnya
Purbaya menyatakan, APBN terus berperan sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi dan pelaksanaan agenda pembangunan nasional.
“Dengan kinerja tersebut, kami optimis APBN akan terus menjadi instrument yang efektif dalam menjaga stabilitas, mendukung pertumbuhan ekonomi danpembangunan serta memperkuat pondasi pertumbuhan ekonom ke depan,” pungkasnya. (*)
Editor: Galih Pratama


