Ketegangan Dagang China-AS
Risiko lain yang membayangi kawasan adalah hubungan dagang antara China dan AS.
Gencatan senjata perdagangan selama satu tahun antara kedua negara memang menurunkan tarif efektif terhadap China. Namun tarif tersebut masih berada di sekitar 47 persen, lebih tinggi dibandingkan tingkat sebelum 2025 yang sekitar 21 persen.
Kesepakatan antara dua ekonomi terbesar dunia tersebut dinilai sangat penting bagi stabilitas perdagangan global.
Hambatan non-tarif baru, terutama terkait mineral langka yang pemrosesannya didominasi China, berpotensi memengaruhi banyak sektor industri.
Sektor semikonduktor, otomotif, dan elektronik di Asia Tenggara yang bergantung pada komponen dari China berisiko menghadapi kekurangan pasokan dan lonjakan biaya produksi.
Baca juga: Tak Ada Ampun, Eks Menteri Kehakiman China Dipenjara Seumur Hidup karena Korupsi
Selain itu, kesenjangan tarif antara China dan negara-negara ASEAN juga semakin menyempit. Di sisi lain, sejumlah negara ASEAN telah mengamankan kesepakatan dagang sendiri dengan AS.
Kondisi tersebut berpotensi mengurangi insentif bagi perusahaan global untuk mengalihkan perdagangan melalui negara ketiga seperti Vietnam atau Malaysia.
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi China 2026
China menargetkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) sekitar 4,5–5 persen pada 2026, turun dari target 5 persen pada 2025.
Namun, banyak analis memperkirakan pertumbuhan ekonomi China akan berada di kisaran 4,5-4,6 persen.
"Rendahnya kepercayaan konsumen, tingginya rasio tabungan, dan dorongan deflasi akibat kelebihan kapasitas produksi akan menghambat pertumbuhan negara-negara Asia Tenggara. Khususnya, kawasan Asia perlu mengantisipasi turunnya kebutuhan komoditas, terutama bagi Indonesia dan Malaysia," ujar Kar Yong Ang, dikutip Rabu, 11 Maret 2026.
Baca juga: Elev8 Beberkan Tren Pasar Keuangan 2026, Waspadai 4 Risiko Ini
Ia menambahkan, pelemahan permintaan eksternal dapat memperburuk tekanan deflasi di kawasan serta menyulitkan kebijakan pelonggaran moneter.
"Mata uang seperti rupiah Indonesia dan peso Filipina yang sudah rentan secara struktural akan menghadapi tekanan depresiasi di tengah perbedaan suku bunga yang semakin sempit," lanjutnya.
Karena itu, para pembuat kebijakan di Jakarta, Kuala Lumpur, Manila, Bangkok, dan Hanoi dinilai harus mampu menyeimbangkan pemanfaatan rantai pasokan China dengan upaya mengurangi risiko ketergantungan ekonomi.
Ketahanan ekonomi kawasan, menurutnya, akan sangat ditentukan oleh kemampuan negara-negara ASEAN mengubah ketergantungan tersebut menjadi pertumbuhan yang lebih stabil dan berkelanjutan. (*) Ari Astriawan









