Poin Penting:
- Menko Ekonomi Airlangga Hartarto menilai aktivitas IPO menjadi sinyal positif yang mencerminkan kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia.
- Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada triwulan I 2026, didukung konsumsi domestik, investasi, dan reformasi pemerintah.
- Pemerintah akan memperkuat reformasi pasar modal melalui peningkatan transparansi, tata kelola, dan perlindungan investor.
Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai aktivitas penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi sinyal positif bagi iklim investasi nasional.
Menurutnya, berlanjutnya pencatatan saham perdana menunjukkan optimisme pelaku usaha sekaligus mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Pemerintah juga terus mendorong pendalaman pasar modal sebagai sumber pembiayaan jangka panjang guna memperkuat dunia usaha dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
Baca juga: Sucor Sekuritas Siapkan 2 IPO Baru di Semester II 2026, Bidik Sektor Teknologi dan Media
Dalam acara Pembukaan Perdagangan BEI di Jakarta, Kamis (9/7/2026), Airlangga mengapresiasi pencatatan saham perdana tersebut.
“Selamat dan pecah telur bagi Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) yang baru, ini IPO pertama kali (sejak menjabat),” ujar Airlangga dikutip Antara, Kamis, 9 Juli 2026.
IPO Dinilai Cerminkan Kepercayaan Investor
Airlangga mengatakan, IPO yang berlangsung kali ini merupakan yang kedua di Indonesia sepanjang 2026. Meski pasar saham masih berfluktuasi, aktivitas IPO tetap berlanjut.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan kepercayaan pelaku usaha terhadap prospek ekonomi nasional tetap terjaga di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Pada triwulan I 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh konsumsi domestik yang kuat, peningkatan investasi, serta berbagai reformasi pemerintah untuk memperbaiki iklim usaha.
Industri Makanan dan Minuman Topang Investasi
Airlangga menilai prospek sektor riil juga menjadi faktor yang mendukung aktivitas IPO, terutama industri makanan dan minuman.
Pada triwulan I 2026, sektor tersebut menyumbang 7,31 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 7,20 persen.
Industri makanan dan minuman juga mencatatkan pertumbuhan 7,04 persen, didorong meningkatnya permintaan selama Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).
Baca juga: Saham JELI Naik 24,89 Persen usai IPO, Dana Emisi Difokuskan untuk Inovasi Produk
Dari sisi investasi, Penanaman Modal Asing (PMA) di sektor tersebut mencapai Rp10,48 triliun. Sementara Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) tercatat sebesar Rp16,34 triliun.
Menurut Airlangga, capaian itu mencerminkan tingginya minat investor terhadap sektor riil.
Kondisi tersebut juga menunjukkan pasar domestik tetap bergairah, daya beli masyarakat terjaga, dan iklim investasi nasional berada pada jalur yang tepat.
Pemerintah Perkuat Reformasi Pasar Modal
Pemerintah terus melanjutkan reformasi pasar modal untuk menjaga kepercayaan investor. Langkah itu juga ditujukan meningkatkan daya saing pasar keuangan nasional.
Airlangga mengatakan keputusan MSCI yang kembali mempertahankan Indonesia dalam kategori Emerging Market pada evaluasi Juni 2026 menjadi cerminan kuatnya fundamental ekonomi nasional.
Keputusan itu sekaligus menunjukkan meningkatnya kredibilitas pasar modal Indonesia di mata investor global.
Baca juga: Apakah Pasar Saham RI Bisa Bertahan di Emerging Market? Begini Prediksi Ekonom DBS
Keberlanjutan aktivitas IPO diharapkan semakin memperkuat fungsi pasar modal sebagai sumber pembiayaan jangka panjang.
Dana yang dihimpun dari publik dapat dimanfaatkan perusahaan untuk mempercepat ekspansi, meningkatkan kapasitas produksi, mendorong inovasi, dan membuka lapangan kerja.
Ke depan, pemerintah bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI akan terus memperkuat reformasi pasar modal. Fokusnya mencakup peningkatan transparansi, tata kelola, dan perlindungan investor.
Airlangga juga mengungkapkan masih ada enam perusahaan yang akan mencatatkan saham perdana di BEI.
“Jadi ada enam emiten yang selanjutnya akan mencatatkan saham perdananya,” tutup Menko. (*)
Editor: Yulian Saputra


